Catatan Kecil Kelas Literasi #3 : Laskar Pelangi

Kelas Literasi yang berlangsung setiap sabtu sore di Aula Perpustakaan. Pada edisi ketiga ini (21/11/2015) mengangkat pembahasan tentang buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Sebagai pembuka, Irsan menceritakan tentang Laskar Pelangi dalam potret pendidikan konteks kekinian. Dalam buku Laskar Pelangi ada sosok Lintang yang mengajak kita untuk bekerja keras dengan usaha gemar membaca buku. Sebab dengan membaca, kita bisa mewujudkan impian besar.

Seorang teman lain, bercerita tentang sosok yang berjuang untuk pendidikan. “Saya memetik pelajaran, di zaman yang lebih mudah seperti saat ini, seharusnya kita bisa lebih baik lagi. Anak-anak Laskar Pelangi, memberi arti lewat tokoh Bu Muslimah yang sangat mnginspirasi.”

Sementara, Rina, seorang guru SD, mengatakan, cerita-cerita dalam buku Laskar Pelangi kadang ia susupkan saat mengajar. Dan satu hal yang Rina ingat dalam buku itu, yakni kalimat Lintang yang berujar, “Bermimpilah, karena Tuhan akan memegang mimpi itu.”

Nah, cerita berbeda muncul dari mulut Rudi, sang guru yang pernah ikut dalam Kelas Inspirasi. Ia mengatakan, tidak menemukan hal yang baru dalam buku itu. “Sebab, apa yang dialami anak-anak LP, juga terjadi di kampung saya,” ucapnya.

“Saya adalah pengangum proses,” lanjutnya. Di mana hasil adalah hal yang kedua. Justru katanya, kita musti bertanya, kiblat pendidikan kita sebenarnya ke arah mana?

Merespon hal itu, Irsan menjelaskan, pendidikan seyogyanya menjadi jembatan yang mensejahterakan dan adil. Yang terjadi saat ini adalah pendidikan terkesan jauh dari yang dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara.

“Pendidikan sekarang justru cenderung menjadi penjara halus. Banyak belenggu. Kalau Anies Baswedan berkata, pendidikan harusnya menyenangkan,” kata Irsan.

Menurut Irsan, pendidikan kita yang dimulai tingkat dini sudah membelenggu. Kita tidak diberikan ruang untuk memiliki banyak cita-cita. “Dan satu hal bagi saya, jantung pendidikan adalah termasuk eksistensi perpustakaan,” kata Irsan.

Perubahan sosial itu, kata Irsan, salah satunya bisa kita lakukan dengan memperbanyak ruang baca dan aktivitas berdiskusi.

Dalam sesi penutup, Kelas Literasi yang sebelumnya dilakukan seminggu sekali, Kini jadwalnya menjadi perdua minggu sekali. Kelas Literasi juga tidak hanya akan dilakukan di Aula Perpustakaan saja, tapi akan diusahakan dilakukan ditempat-tempat lain yang bisa saja tidak hanya akan membicarakan buku, mungkin akan ada kelas menulis atau menonton film. Harapannya, Kelas Literasi semakin intens dilaksanakan dan dijadikan ruang yang mencerahkan.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *