Membaca Cerpen “Membakar Api” Karya Eka Kurniawan

Aku kembali melakoni sebuah penantian. Acara yang setiap kali aku takuti dan cemaskan. Semenjak aku memutuskan untuk bergiat di beberapa lembaga, aku merasakan menunggu adalah sebuah ujian. Menunggu merupakan aktivitas yang lazim bagi setiap manusia. Kita kadangkala menunggu pergantian hari, bulan dan tahun dengan kondisi dan momen tertentu. Sebab beredar luas ungkapan bahwa waktu tidak akan pernah menunggu kita. Bagiku, waktu adalah bahasa penantian dan pengingat. Dan pada saat kita memutuskan waktu pertemuan, sesungguhnya kita berusaha mengingatkan diri lewat waktu.

Yang kutunggu pada hari sabtu sore itu adalah orang-orang yang berminat terhadap Kelas Literasi. Sedianya kami akan membaca dan mendiskusikan cerpen Eka Kurniawan berjudul Membakar Api. Pukul 16.00, aku masih mendapati diri dalam kesepian seperti menyatu dengan suasana perpustakaan yang ketika jaringan internetnya off di Perpustakaan itu. Padahal informasi waktu yang aku bagikan adalah pukul 15.30 WITA. Ketika aku menuliskan waktu kegiatan, sering terlintas dipikiran istilah jam karet. Tak tahu siapa yang memunculkan istilah itu dan mengimpornya sampai ke Enrekang. Sebuah istilah yang populer dan mungkin belum dibakukan dalam kamus istilah. Seolah-olah yang lain sepakat bahwa kita sedang berada di Waktu Indonesia Timur (WIT). Hari itu aku memang tidak memedulikan kuantitas yang akan hadir, sebab hanya waktu yang membuatku risau. Apakah waktu juga menguji kesabaranku?

Waktunya telah tiba. Mungkin begitulah gumam yang sering kita dengarkan saat memulai dan menghadapi sesuatu. Di hadapanku, sudah ada 5 orang yang siap dan ikhlas hadir berbincang di Kelas Literasi. Pak Fajar Muhiddin adalah peserta baru yang hadir di acara ini setelah beberapa pertemuan sebelumnya. Ia menunjukkan sikap yang hangat, seakan usianya sederajat dengan Kak Naim, Arif, Herman, Hardiyanti dan denganku. Diam-diam aku melihatnya dan mengangguk dalam hati bahwa Kepala Kantor Ketahanan Pangan ini sedang membuktikan ucapannya di medsos, ia tidak suka acara formal yang kaku.

Kali ini, aku didaulat Kak Naim untuk menjadi pengantar diskusi dan sekaligus menghidupkan suasananya. Hanya saja dalam kondisi seperti itu aku selalu merasa kembali pada kegugupan yang mendadak. Sebuah kebiasaan yang selalu kucoba untuk meredamnya. Sekali lagi hanya semangat tanpa pikir panjang yang sering menolongku untuk memulai berbicara sepatah kata yang terpatah-patah dan terbata-bata. Pada titik ini aku selalu gagal mendengar kesesuaian ide dan konstruksi pikiran yang kusiapkan dengan apa yang tersuarakan ke hadirin. Tapi suaraku yang seperti berbisik keras mulai berintonasi untuk mengungkapkan sambutan dan paparan persepsi atas cerpen tersebut.

Di sesi pertama, Pak Fajar memulai dengan melihat cerpen Eka Kurniawan “Membakar Api” dari perspektif hukum. Ia bilang penting adanya sebuah komitmen dan hukum bersama yang harus ditaati tapi juga harus dipahami secara riil. Salah satu tokoh yang dijelaskan oleh Pak Fajar dalam cerpen tersebut yaitu Rustam Satrio Juwono (RSJ). Pandangannya adalah RSJ merupakan contoh pemimpin yang pantas diteladani dengan tidak menjual murah atau tidak ada tawar menawar terhadap aturan hukum yang dilanggar. Aturan organisasi dalam cerpen itu, siapa yang menyalahgunakan uang organisasi maka hukumannya diberikan kepada preman (Pre).

Bagi Arif, setelah membaca cerpen ini, ia melihat sosok Lohan adalah bawahan yang dikambinghitamkan karena ketidakmampuan organisasi dalam merangkul polisi besar, karena sebelumnya hanyalah polisi-polisi kecil. “Saya membaca para ketua dan tetua organisasi tidak dapat merangkul polisi-polisi besar sehingga uang yang diberikan kepada polisi itu tidak bisa kembali.”

Berbeda dengan Hardiyanti yang memilih melihat persoalan tersebut dari kacamata campur tangan Tuhan. Ia mencermati kalimat mengenai, “Suapmu tidak berhasil. Kita sama sekali tidak memperoleh izin maupun perlindungan untuk membuat rumah judi itu”. Hardiyanti menganggap hal itu sebagai azab kepada Lohan sendiri, karena ia adalah penipu yang ditipu. Mendapatkan azab karena organisasi ini adalah organisasi mafia yang memang tujuannya jelek dan melanggar norma agama. “Supaya tobai, rassai,” tutupnya dalam logat Enrekang.

“Jika Rizal Ramli membaca Membakar Api ini maka tentu ia akan menuding Rizal Amir, Setya Novanto dan kawan-kawannya, kemudian orang-orang yang membersihkan dunia mafia yang ada di Negara kita,” ujar Naim. Naim memprediksi mungkin Rizal Ramli akan mengiyakan cerpen ini bahwa memang kondisi Negara kita seperti ini dan mafia itu dari dulu ada dan tidak ada yang memeranginya. “Saya membayangkan Rizal Ramli akan tertawa membaca cerpen ini,” tutupnya sambil tertawa.

Berbeda dengan yang dikemukakan Pak Fajar sebelumnya tentang RSJ, Arif justru melihat ketua organisasi adalah ketua yang tidak bertanggungjawab. Menurutnya, RSJ ketua yang mengikuti aturan, tapi takut daripada orang yang tinggi dari posisinya. RSJ tidak mengiyakan bahwa ia tahu atas persoalan cuman ia mengelak dan mencari alasan baru dengan meminta bukti kepada Lohan. Padahal untuk menunjukkan bukti sangat mustahil bagi organisasi mafia yang melakukan suap dan penipuan. “Ia gagap berbicara.”

***
Membaca karya Eka Kurniawan tentu ada kesan tersendiri yang tampil dalam diri kita. Ketika membuka jendela google dengan kata kunci “Membakar Api”, aku menemukan beberapa ulasan kritis atas cerpen tersebut. Perhatianku tertuju pada tulisan Lafreenda Tialoka Mitadiar yaitu Pemakanaan Struktural serta Pengaruh Psikologi Pembaca Cerpen Membakar Api Karya Eka Kurniawan dengan beberapa argumen yang menunjukkan bahwa karya tersebut memiliki kerumitan lewat alur serta konflik yang dihadirkan. Seperti yang menjadi tanda tanya kami di Kelas Literasi, Lafreenda Tialoka Mitadiar menyimpulkan keberadaan Lohan masih menjadi tanda tanya, apakah ia masih hidup atau mati. Eka kurniawan seakan memberikan kita jalan sendiri untuk memikirkan cerita berikutnya.

Namun yang terpenting, setiap tokoh menunjukkan tanggungjawabnya dalam berikatan atau berhubungan. Artika cemas terhadap ayahnya Lohan, Lalu Mirdad cemas kepada istrinya. Di lain pihak Mirdad berusaha mengatasi kecemasan Artika, dan RSJ sebagai ayah dari Mirdad ingin melakukan sesuatu untuk ayah Artika (istri anaknya) yang tak lain juga adalah sahabatnya dan anggota dalam organisasinya. Tetapi RSJ sebagai ketua juga tidak serta merta memiliki kewenangan untuk meloloskan Lohan dari kesalahannya. RSJ terlihat ikut melaksanakan tanggungjawabnya sebagai ketua dengan menyadari posisi para tetua dalam organisasi.

Untuk melihat bagaimana tokoh-tokoh yang tersebut itu, mari kembali menyimak argumen para peserta Kelas Literasi di atas. Atau mungkin baiknya membaca sekali lagi, siapa tahu kita mendapatkan maksud baru dari “Membakar Api”.

Akhirul Kalam, demi masa (waktu) sesungguhnya manusia dalam kerugian, terkecuali mereka yang tidak membakar api.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *