Catatan Awal Tentang Guru Safedi

Gambaran Guru Safedi yang diceritakan dalam cerpen Farizal Sikumbang adalah realita yang tidak hanya terjadi di Padang sana. Kondisi ril seperti kehidupan Safedi juga tergambar dalam realita kita saat ini, di sini. Orang-orang kecil, kaum miskin dan pegawai rendahan adalah mereka yang tak pantas untuk diberi tempat, dihargai dan selalu dipandang sebelah mata. Maka, menjadi miskin atau tak berpunya adalah sebuah derita.

Orang-orang melakukan apa saja untuk tetap bertahan pada kemewahan. Bertahan dalam kasta yang terpandang. Walau itu dilakukan dengan cara apa saja. Perilaku itu membuat orang semakin manipulatif.

Kehidupan Safedi yang hanya guru honorer, dengan utang yang menumpuk dan gaji yang tidak pernah mencukupi berbanding terbalik dengan para borjuis, pencari kekuasaan dan korup yang hidup dengan kemewahan yang memakan hak orang tanpa pernah bersalah.

“Dengan status guru honorer. Gaji per bulan enam puluh ribu rupiah. Itu diterima sekali tiga bulan. Jadi, totalnya berjumlah seratus delapan puluh ribu rupiah.”

Bahkan, untuk membeli baju dan celana Safedi tak mampu yang membuatnya merasa malu karena siswanya pun merasa bosan melihatnya dengan pakaian yang itu-itu terus.

Sikap Safedi berbanding terbalik dengan para honorer yang ingin menjauh dari kesan miskin. Mereka terkadang memaksa diri memakai barang mewah walaupun KW, asal tampil gaya sehingga kadang tenaga honorer itu lebih “pegawai” dari pada PNS itu sendiri. Pegawai honorer seperti itu biasanya berkantor di tempat-tempat basah yang mungkin saja pendapatannya melebihi pendapatan PNS yang ada di kantor-kantor kecil, kelurahan misalnya.

Orang-orang itu mungkin tumbuh seperti Riski Kurniawan, murid Safedi yang selalu ingin bergaya, padahal selalu dipaksakan.

“Dia juga tahu anak itu bukanlah anak orang kaya. Bapaknya bernama Ajo Kurik yang kerjanya setiap hari menghela beruk dari satu kampung ke kampung lain untuk memanjat buah kelapa orang. Tetapi, anaknya berlagak seperti anak orang kota. Suka bergaya. Malah pernah, anak itu kedapatan mewarnai rambutnya dengan warna pink. Mengingat itu, betapa Safedi merasa begitu susahnya membina anak-anak remaja zaman sekarang. Tidak seperti dirinya ketika remaja dulu.”

Inilah realita yang bahkan sudah membuat masyarakat mulai memandang manusia dan sistem dengan seragam. Kondisi ini memunculkan situasi masyarakat yang cenderung berpikir negatif. Sepertinya memang sudah tidak ada tempat bagi mereka yang hidupnya lurus, bersahaja dan bertahan dalam hidup yang bersahaja tanpa menggadaikan hidupnya untuk berlaku Kkorup demi sebuah kelas yang manipulatif.

“Guru Kalera. Mungkin dia juga ikut makan uang dari murid-muridnya.”

Sungguh, mendengar kalimat itu, membuat Safedi benar-benar merasa mau pingsan saja.

Masihkah kita seperti guru Safedi?

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *