Tarian di Ujung Dermaga

Foto : Wall Masry
Foto : Wall Masry

Sebuah hantaman gagang dayung cukup membuat pelipis Laras yang mulus memerah. Selang beberapa detik, darah segar mengalir dari bekas hantaman itu. Ia tak sempat memandangku. Satu-satunya gerakan refleksnya memegang kepalanya yang kehilangan keseimbangan itu. Aku menerjang, mencekiknya. Ia manatapku penuh amarah, seakan mengharap sebuah jeda, untuk sebuah pertanyaan. Namun, sayang, kebuasan tak mengharapkan jeda.

Ia makin lemah, sesak. Menghampiri nafas akhirnya, gelombang ombak menghempas sampan kami, air laut menciprat di wajahku. Aku terkejut, di hadapanku Laras masih memainkan kail sambil tertawa geli oleh percikan air laut yang menggelitik lehernya.

Laras kekasihku. Bagiku ia jauh lebih dari sekadar sahabat. Meski tak ada yang lebih mungkin bagi hubungan kami kecuali menjadi seorang sahabat, baginya, tapi tidak denganku. Tak sekali sukmaku tersesat oleh sorot matanya tapi pikiranku mengingatkan, jangan meraba kedalamanan matanya.Itu hanya akan menyaksikan dirimu frustasi di masa mendatang. Kali ini, aku benar-benar frustasi.

“Eh, kailnya gerak-gerak,” suara Laras mengusik lamunanku. “Sini, aku lihat”, kutarik tali pancing dari tangannya, “gerakan ini bukan patukan ikan tapi arus bawah. Sebaiknya kita jangan jauh-jauh dari bibir pantai” kusadari sampan kami terbawa arus ke tengah laut. Bukankah itu keinginan bawah sadarku untuk menghabisinya di tengah laut? Namun apa bedanya jika kubawa ia ke dermaga. Di sana juga sepi. Tetap tak ada siapapun yang menyaksikannya apabila kulampiaskan kemarahanku saat ini ke tubuhnya, bahkan, jika kulakukan, seekor camar pun tak pernah tahu apa yang telah kulakukan padanya. Kuputuskan mendayung sampan menuju dermaga.

Sepanjang perjalanan merayap menuju dermaga, kepingan ombak kecil menerpa kami. Laras tampaknya menikmati gerakan perahu yang mendayu. Sesekali gelombang itu menggodanya dengan menciprat air laut ke lehernya. Geli ia seperti perawan yang dicolek lelaki yang dipasangkan ibunya di kamar pengantin. Tontonan menyenangkan. Kukayuh sampan perlahan sambil menatap wajahnya dengan rasa yang bercampur aduk.

“Stop, sampai di sini saja. Tidak seru”

“Arus bawah tidak bersahabat, Ras. Ikan-ikan juga tak ada yang mendekat. Kalau terjadi apa-apa dengan sampan kecil ini, kita akan terseret arus”

“Menurutmu arus bawah akan menarik kita? Kita ini di permukaan?” Hukum alam, menurutnya, tak bedanya dengan hukum manusia. Yang beda terkadang manusia merekayasa pembenaran untuk melanggar hukumnya sendiri. Ia meneruskan celotehnya “Arus bawah hanya berhak menarik sesuatu yang berada di wilayahnya. Mereka tunduk dengan hukum yang mereka bangun”

“Aku selalu yakin,” kuhentikan dayungku, “segala sesuatu di alam ini berhubungan satu dengan yang lain. Kalau ada satu yang berkeinginan, lainnya mendukung.” Permukaan hanya mata pancing kedalaman. Arus besar di kedalaman menggerakkan permukaan sehingga seekor singa akan tampak berwajah polos seperti kambing di halaman rumah. Seperti aku, kau tidak akan mengerti betapa kekagumanku ini membuatku jauh lebih hina dari seekor pungguk yang merindukan bulan. Aku tak mengerti apakah itu alasan mengapa di kedalaman hatiku ingin sekali membunuhmu.

Apa aku sedang menghadapi masa-masa sinting? Jika ini sinting, semua orang pasti sinting. Setiap orang pernah merasakan pengalaman yang sama. Setiap orang memiliki kekejaman yang sama di pikirannya, ingin membunuh teman dekatnya, mitra kerjanya, istrinya atau suaminya, bahkan ibunya sendiri dengan cara-cara yang paling biadab tetapi tak dilakukannya. Itu karena kewarasan masih menguasai.

Kewarasan adalah produk dari rasa takut. Kita harus takut berimajinasi, membayangkan hal-hal yang bodoh karena itu tidak waras, tidak realistis atau jika kau memaksa, mereka akan menjauhkanmu dari lingkungan. Batas imajinasi dan kenyataan mesti jelas. Kini batas itu semakin kabur, pikiranku bercampur aduk.

“Ya sudahlah, antar aku ke dermaga. Dimas tak lama lagi akan menjemputku”

“Dimas? Siapa Dimas? Bukannya dengan Lingga?”

“Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, Dzar” Ia lalu menatapku, “Setelah Lingga, aku jalan dengan Eko. Kamu tahu, bukan? dia itu brengsek. Lalu aku bertemu Dimas di sebuah klinik. Ia seorang dokter. Beberapa hari lalu ia melamarku, aku belum mengiyakannya, tapi pasti kuiyakan,” sambil tersenyum menerawang.

“Bagaimana denganku?” tak kuperdengarkan padanya. Desir air laut mengiris, tak lagi menawan, hanya dendam. Kudayung sampanku hingga mencapai ujung dermaga. Laras merentangkan kedua tangannya sambil mengimbangi goyangan sampan yang mulai tidak karuan. Tangannya meraih sebatang kayu lalu memanjat ke atas. Dipijaknya satu persatu anak tangga itu. Kupandangi kakinya yang putih dan kukunya yang diwarnai merah jambu itu.

Tanpa berpikir panjang, kakinya kuterjang, kutarik, hingga ia terjungkal. Kepalanya menghantam ujung sampan. Ia tercebur di kaki dermaga. Tangannya mencoba menggapai-gapai. Kepalanya yang timbul tenggelam kujorok dengan dayung hingga ia benar-benar tenggelam.

Tiba-tiba dermaga dari papan kayu itu berdentam oleh langkah keras Laras yang sedang berlari. Aku terbangun. Di kejauhan sesosok pria berkemeja putih di dalam mobil mengangkat tangannya memberi isyarat, entah itu untukku atau Laras. Kudayung lagi sampanku menjauh bibir pantai menuju matahari terbenam. Aku menoleh ke belakang, Laras sudah berada di dalam mobil itu. Lalu mereka berangkat.

Tak lama kemudian, Sebuah SMS bernomor telepon Laras.

TERIMA KASIH YA, DZAR. MAU MENGAJAKKU MEMANCING. LAIN WAKTU, KALAU NEMU SUASANA BARU, AJAK AKU LAGI YA!

Mustahil, Laras tak mengerti makna berterima kasih, apalagi mengutarakannya. Kebaikan terhadap dirinya ia anggap sebagai reaksi atas keelokan wajah, senyum, dan kepintarannya menaklukkan lelaki. Sedangkan SMS itu wujud dari angan-anganku, yang tak lain adalah impian belaka. Aku tersentak dari lamunan. Ponselku tak pernah berdering untuk pesan apapun, hanya keheningan. Matahari semakin menunduk. Kukayuh sampanku mendekati cakrawala. Laut makin teduh, pertanda arus bawah telah redup. Dari kejauhan, sebuah wajah muncul ke permukaan laut. rambutnya tersibak mengikuti gerak ombak, dengan tubuh telentang menari-nari. Sesosok mayat mengapung. Seorang gadis dengan kuku kaki berwarna merah jambu.

Yogyakarta, September 2015

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *