Wasiat dari Kebun Dalle Lolo

Malam ini riuh angin begitu ramah bermain dengan balai yang ringkih. Dedaunan pun ikut layu dan menepi. Diapit oleh gunung Bambapuang. Di Enrekang, di tengah rimba ini tubuhku hidup puluhan tahun. Aku tinggal bersanak di gubuk kecil beralaskan tanah dengan ancaman binatang buas yang tak bisa kuhindari. Hingga diriku terasa menyatu dengan alam.

“Uhuk…uhuk!. Suara batuk dari indo yang memecah keheningan malam. Aku melihat indoku sedang dirundung pilu akhir-akhir ini.

“Ada apa ndo?” tanyaku padanya.

“Tidak apa-apa nak!”. Wajahnya tampak pucat, kakinya bersimbah luka.

Aku pun terkejut melihatnya.

Ndo, mulai besok istirahat saja di rumah” aku kaku dan enggan bertutur.

“Kalau saya istirahat besok, pattongko kinande itu tidak terisi nak!” tegas indo. Lalu beranjak ke tempat tidurnya.

Semakin hari, aku bimbang melihat indo yang mengurusi dua buah hatinya. Belum lagi ambo yang tak tentu berpijak mengais rezeki.

“Tok,tok,tok!” itu amboku, Dia memang sering pulang malam. Ketukannya mengagetkanku saat sedang membuat susu untuk adikku karena tak bisa tidur.

“Di luar ada apa mbo? Kok selalu pulang telat”. Aku selip tanya dengan penasaran.

“Tak ada apa-apa nak,sudah tidur saja sana!” aku melihat wajahnya lesu seraya menyeruku ke tempat tidur.

Pagi-pagi sekali, dingin begitu terasa menusuk hingga ke tulang rusuk. Tampak suasana rumah ini hening tak seperti biasanya. Hanya kicauan burung dan suara kucing yang terdengar. Sayup-sayup dedaunan yang gugur.

Aku beranjak dari tempat tidur. Menatap dua kamar ambo dan adikku yang sepertinya tak ada orang didalamnya. Aku mencari mereka di dapur namun juga tak kutemukan. Di ambang pintu hanya terlihat sosok pemuda berbadan besar dan berambut panjang. Aku pun menghampirinya.

“Om, kau tak lihat mereka?”

“Mereka, siapa?” Tanya yang membingungkan. Seakan tak mengerti yang ku ucapkan.

Ambo,indo, dan Martina. adikku!” tegasku. Wajahku sedikit jengkel.

“Mereka sudah pergi!” timpal pria itu dengan penuh keyakinannya.

Terlihat di dalam sakunya ada badik yang disembunyikan. Aku pun panik dan merasa kaget. Pikiranku mulai kacau dan bertingkah aneh. ditambah dengan tatapan pria besar itu dan darah yang bercucur di lengan bajunya.

Sejenak aku alihkan pandanganku, pria itu sudah jauh pergi. Namun mereka juga belum datang-datang. Aku kembali ke tempat tidurku.

“Plak!” suara piring jatuh dari arah dapur. Aku pun menghampirinya. Dan terlihat toples susu itu terbuka.

“Tina, sejak kapan kau di situ? Wajahku betul tampak pucat dan kaget melihat adikku di samping meja makan. Sepertinya ia ingin membuat susu.

“Aku ingin buatkan susu untuk indo”. Tuturnya.

“Emang, ambo dan indo dimana? Tanyaku padanya. Aku betul-betul merasa tercengang.

Indo sedang sakit.” Lantasnya.

Aku melihatnya lari teburu-buru keluar dari rumah.
Ia menuju ke kebun dalle lolo yang tak jauh dari halaman rumah. Aku pun ikut berlari mengikuti arah tadi. Tampak kulihat indo dan ambo yang tidur beralaskan tikar di kebun itu. Wajah mereka berdua sangat pucat. Bagaikan orang yang kelebihan dandan tapi tak sesuap pun makanan dalam perut mereka.

Nampak ibaku melihat itu. Tergesa aku memeluk indoku terlentang di kebun dalle lolo yang begitu tinggi. Pelukanku sangat keras pada tubuhnya. Hingga terasa darah bercucur dari kakinya. Aku sangat sedih, ku ulurkan tanganku pada ambo dan adikku yang berada di sampingku.

mbo, indo kenapa?” tanyaku pada mereka. Tangisku begitu rintih kala itu.

Tak ada satu pun jawab dari meraka. Aku melihat mereka menyembunyikan sesuatu. Hanya tangis dari ambo dan Martina yang jadi rahasia. Tampak cerek susu dekat indo warnanya putih kemerah-merahan. Hiruk bagiku melihat suasana ini.

Ndo, ayo pulang ke rumah” ajakku pada Indo.

“Tak usah nak,! saya lahir di sini dan akan mati di sini juga”. Tolaknya sambil jarinya menunjuk pada sebatang dalle lolo itu.

Aku bingung dengan perkataan indo itu. Bukan saja indo, tapi ambo dan Martina juga ikut menunjuk pada sebatang dalle lolo itu. Akupun semakin terkejut dan mencoba mendekati dalle lolo itu. Lebih dekat lagi, aku merasakan ada yang aneh. Diriku merasa terkesima kulihat dalle lolo itu perlahan bergerak tumbuh membesar dan bijinya melimpah hingga menimbun tubuh ambo,indo, dan Martina.

“Nak, Dalle lolo itu. Ra..wat..lah!. getar suara indo seraya tertimbun oleh ribuan biji dalle.

Perlahan suara semakin mengecil dan tubuh mereka mulai tertimbun di atas ribuan biji dalle lolo itu. Aku begitu kaget dan panik. Entah apa yang harus kulakukan. Kulihat ambo mengulurkan tangannya. Seakan dia akan tertelan oleh bumi. Akupun mencoba meraih genggamannya, tapi tak mungkin lagi aku capai. Tangannya yang lapuk saat kusentuh membuatku berdengung. Layaknya tubuhku ditindih bebatuan gunung Bambapuang. Terus aku menggali dan merintih, tak akan pudar upayaku untuk menemukan tangan ambo,indo,dan Martina. Tapi, tak ku temukan lagi. Mereka menghilang begitu cepat. Aku dilanda kecemasan dan tegang. Nampak di belakangku, lagi-lagi uluran tangan membuatku tercekam. Semakin mendekat di depan wajah dan menepuk pundakku.

“Kak, bangun!. Sudah siang” ternyata wajah Martina didepanku yang terlihat senyum.

“Ini,Mimpi yah?” tanyaku sambil mengelap cucuran keringat di atas kasur.

“Iya, kau terlihat tegang hari ini”. Timpal Martina padaku.

“Lha… Ambo dan indo mana? Tak terbendung rasa penasaranku.

“Bukannya mereka sudah tak ada lagi kak”. Sedih Martina.

“Aku baru saja bertemu dengan mereka, Tina” tegasku.

Aku bergegas beranjak ke kamarnya. Terlihat kasurnya rapi dan tak berpenghuni lagi. Martina mencoba menenangkanku. Ia menyuguhkan susu dan sanggara di depanku. Lalu kuceritakan mimpi tadi padanya.

Padahal sudah sebulan ternyata ambo dan indo telah tiada. Betul aku begitu tak sadar hari itu. Hari yang membuatku harus meyakinkan diriku sesuatu. Mimpiku yang meninggalkan bekas desingan di telingaku menjadi hantu.

Selepas menyuguhi hidangan Martina, aku langsung menyegarkan suasana di luar rumah.
Kala di kebun dalle lolo, kebun yang dititipkan ambo dan indo betul nampak seperti yang terlukis dalam mimpi itu. Baru sekali ini rasanya aku berkunjung di kebun itu. Aku pun mencari sebatang dalle lolo yang ditunjuk ambo,indo,dan Martina dalam mimpi tadi.

“Cari apa kak?” suara Martina mengagetkanku dari belakang.

“Tidak. Cuma mau lihat batang dalle itu” tunjukku pada sebatang dalle lolo yang persis dalam mimpi.

“Iya, sebatang dalle lolo itu menjadi benih pertama yang ditanam ambo dan indo

“Benih itu tumbuh dan menghasilkan banyak lagi di lahan ini” lanjutnya seperti bercerita sejarah.

“Tapi,bagaimana mungkin aku tidak mengetahui itu Tin?’ Aku begitu heran.

“Wajarlah, kau tak pernah sekalipun melangkahkan kemari untuk membantu ambo dan indo menanam dalle.” Tegas Martina padaku.

Aku baru tersadar bahwa betul yang dikatakan Martina. Puluhan tahun hidupku bersemayam di tanah ini, tak sekalipun Aku berkunjung ke kebun dalle milik ambo dan indoku. Martina begitu menyadarkan akan hal itu.

“Dan sebatang dalle lolo itu adalah batu nisan indo, lalu cerek susu itu nisan ambo” lanjutnya membuatku sangat tegang dan bingung.

“Sampai hari ini pun aku tak mengetahui pembaringan mereka” sangat kecewa diriku tak tahu semua tentang itu. Terlebih mereka yang sebagai orang tua kami.

“Iya, karena ambo dan indo bercerita banyak padaku”. Lantasnya sedikit lesu.

Martina memberitahuku banyak hal dari ambo dan indo. Ternyata aku dan adikku adalah orang yang mereka sembunyikan. Kala itu, ambo dan indo harus menyewa lahan orang lain untuk bercocok tanam dalle. Hasil garapan itu mereka jual untuk mengisi pattongko kinande dan toples susu Martina setiap harinya.

Namun, kendati demikian suatu hari mereka tak mampu lagi melunasi hutang yang menumpuk di lahan itu. Pemilik lahan pun marah dan bertikai dengan mereka. Hingga akhirnya kaki indoku tertusuk badik dan amboku meminum cerek susu yang tercampur racun tanaman.

“Lanjut ceritanya Tin!” pintaku pada Martina. Tampak air matanya buyar.

“Sudahlah kak!, nanti juga tau sendiri.” Timpalnya.

Martina mencoba berhenti bercerita tentang itu. Dan aku melihat ke belakang, tampak pria berbadan tegak menghampiri kami. Wajahnya terlihat cerah hari ini.

“Eh, ada om Sukarya” sapaku dan mencium tangannya.

Dia Sukarya yang merawat kami sejak ambo dan indo telah tiada hingga sekarang,dia selalu mengasihani kami tapi belum mapu mengalahkan kasih sayang ambo dan indoku.

“Aku mau pulang duluan kak,om” tampak Martina terburu-buru dan menyelipkan sebuah kertas di saku bajuku.

“Kok Tina buru-buru” timpal Sukarya heran.

“Entahlah om!”. Singkatku dan juga beranjak meninggalkannya menuju ke rumah.

Seraya berjalan kubuka kertas yang diselipkan Martina. Ternyata ini adalah wasiat dari ambo dan indo. Aku penasaran dan begitu jeli membaca surat itu.

“Marwadi, jaga adikmu!, isilah pattonko kinande dan toples susu untuk adikmu. Pemilik lahan itu adalah orang terdekatmu nak, Sukarya.” Tulis ambo dan indo padaku.

Catatan :
1. Bambapuang : salah satu nama gunung di Enrekang
2. Indo : Ibu
3. Pattonko nande : Tempat menyimpan nasi dan lauk pauk
4. Ambo : Ayah/Bapak
5. Badik : Pisau berbentuk keris
6. Dalle Lolo: Jagung Muda (Belum Matang)
7. Sanggara : Gorengan dari pisang yang dicampur dengan tepung

* Tulisan ini pernah diikutkan dalam lomba cerpen bertemakan My Family is My Life dan dinobatkan sebagai juara pertama.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *