Anak Saddang

Pagi ini, memercik deras aliran sungai Saddang
Bergemul kabut di selaian pandang
Aku tersisip di pesisiran padang-padang
Menanti hujan yang jatuh menghadang
Siapa yang tidak rindu berdiri di puncak Bambapuang?

Menyaksikan sayup angin berderau ke arah pepohonan kering
Lalu angin-angin di kota-kota terbagi dan melekang
Siapa yang tidak rindu dengan deras aliran salu Saddang?

Mengaliri keras, memecah nekara seperti gelombang
Lalu mengiris-ngiris seperti muara cinta di hati pemandang
Siapa yang tidak rindu dengan restoran Bukit Indah resting?
Duduk bersanak santap dengan olahan susu pagi bak karang
Lalu, ditebarlah piring-piring berbentuk senyuman dan berlatarkan Buttu Kabobong
Adakah romantis selain mereka berdua yang bersua di tepian tanggul Enrekang?

Bercengkrama dengan gitar, lalu menyanyikan lagu “Suruganna Bambapuang”
Kemudian bernostalgia dan bercerita tentang alam di Lewaja yang selalu dijalang
Ah, entah sudah berapa lama aku tidur di gubuk yang tak sedikitpun lapang
Berbaur dengan kucing-kucingku dan ribuan bawang yang malang
Aku pun hampir lupa denganmu ketika diriku dijebak palang
Mungkin rindu telah mencabik-cabikku hingga menyatu seorang
Siapakah yang salah lantaran tak merawat dan memberi kalian waktu luang?

Karrang, 11 Agustus 2016

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *