Nostalgia

…. ucapan terima kasih dan kesan singkat atas suksesnya perayaan Reuni Akbar IKA-RAMA

Tentang daun jatuh dan angin yang tenang berlalu menyayup pandang beratus peserta dari penjuru daerah. Hari itu, tanggal 20 Agustus 2016, berjuta kesan nyaring bergema di telingaku. Aku adalah bagian dari mereka yang menyaksikan perayaan reuni akbar dan peringatan milad ke 20 PPM Rahmatul Asri, Enrekang.

Sore mempertemukanku dengan teman lama yang hampir hilang di muara globalisasi. Kulihat sepintas gerik matamu yang mengiris-ngiris pandang para peserta yang melintangkan sukma tawa. Aku terduduk di sampingmu memecah nekara rindu yang telah membatu selama belasan tahun. Sambil bercerita, kutanya beberapa alumni yang lalu lalang dan tak kukenal. Lantas kau pun menunjuk-nunjuk beberapa alumni yang sementara sibuk berlari dililit karung di tubunhya, lalu merengek-rengek tangannya di atas eratan tali tambang. Entahlah, dengan maksud apa kau mengabarkanku apa yang tak kuketahui.

Kau menyelaku kawan!, katamu sembari mengancungkan telunjukmu, “itulah alumni yang jadi Bupati, itu yang kerja di kantor DPRD Enrekang, itu yang di rumah sakit, itu yang polisi, itu yang di peternakan, itu yang tentara……..”. Entahlah, mungkin aku telah lupa berapa banyak yang kau tunjuk. Kau begitu menusuk-nusukku dengan berbagai pernyataan yang memaksaku tercengang. Betul-betul, serasa bernostalgia dengan masa kita dahulu.

Masihkah kau ingat masa nyantrimu kawan? Saat kau meminta pulang ke rumah tak betah mondok karena alasan santri itu ketinggalan zaman, saat kau merasa dirimu terpenjara dan teraniaya karena suguhan ikan teri dan bale rekko yang dibagi dua, atau keajaiban telur transparan yang mengalahkan foto Soekarno pada uang kertas jika diterawang, saat kau merasa kudet (kurang update) karena tak mampu mencicipi bau teknologi yang semakin pesat.

Itu sesalmu!, kau bercerita banyak padaku, kau merobek-robek kertas dan menyela nafasmu yang sesak karena rindu. Kau masih bernostalgia kawan? Terbayang dirimu pernah merobek-robek bukumu lantaran sangat ingin kabur dari pondok, kemudian melompat pagar hingga kau jatuh dan membekas luka di kakimu yang tampak sampai saat ini. Memang sakit kawan, tapi tak sesakit kau meninggalkan duniamu di pesantren, di penjara suci, itu katamu.

Alih-alih, begitu lama bercerita dan bernostalgia dengan teman lamaku. Untung saja aku juga lahir dari rahim pondok itu, maka aku tak berat bercerita banyak denganmu kawan. Mungkin bibirmu sudah koyak, berucap lama tentang masa kelam dan suram yang menghantuimu. Padahal, sedikit lagi senja dilahap oleh sang petang, penguasa langit barat. Entah, kepenatan apa yang menyelimuti.

Apa yang kau tunggu kawan? Telah berkumandang adzan merdu yang memecah keheningan senja, mestinya kita tak lagi bersua di sini. Tentu kau masih ingat teriakan dari senior bak sangkakala demi menyeru santri ke masjid. Atau desingan sajadah yang menumpuk di berbagai pundak yang tak bisa akur dalam keheningan masjid. Lama rasanya kau tak tertawa seperti ini kawan, layaknya senyummu telah terpasung oleh sebuah keterasingan atau sama halnya suara yang mati karena dikubur sepi.

Saat kita beranjak dari lamunan, pikirmu cerdas menarikku menyaksikan ratusan peserta bergonta-ganti memilah gambar di depan photo booth. Yah, berdiri di depan photo booth yang menjulang tinggi kira-kira berukuran 5 m dan lebar 10 m, membuat kami tertunduk menolak terpaan dari benda sebesar ini. Kala itu, kusaksikan kau menarik tangan kawan-kawan kita. Inginkankah kau memecah kesepian yang selama ini membatu di hatimu? Mana mungkin kau puas hari itu, bernostalgia selama dua hari malah akan menyiksa batinmu!

Sudahlah kawan!, kutau banyak penderitaan yang kau lalui, lantaran kau adalah breaker of breaker semasa nyantri dulu. Lakumu adalah sejuta rekaman pahit yang pernah terjadi di pesantren. Mulai dari desingan bambu yang koyak dan patah mendarat di ribuan betis santri, atau kegaduhan malam yang kau ciptakan dengan memanggang telapak kaki mereka yang sedang terlelap.

Barang tentu aku mengingat semuanya, saat piring-piring gaduh beterbangan dan menabrak jendela-jendela kantin lantaran kau tak pernah sepakat dengan irisan bale rekko mbak kantin. Padahal, dirimu sendiri tak pernah tahu rasanya memiliki piring pribadi. Hanya makan dengan lahap tanpa tahu arti dari sebuah perjuangan pahlawan di balik dapur.

Mana mungkin aku lupa tempat itu, di hotel, balai yang ringkih, katamu. Tempat bergumul asap-asap indah dan benturan kartu domino di atas papan yang lapuk, yang menjadi sebuah tempat pelarianmu jika pikiranmu kisruh pada ribuan harakat yang bergoyang-goyang pada kitab kuning, atau dilemamu lantaran surat cinta hari ini belum diantarkan atau sedang pending di tangan guru.

Siapa juga yang tak mengenalmu? Santri pemalu yang pernah ada, hampir saja kau mengalahkan malunya setangkai putri malu. Melihat santriwati saja, kau sudah kalap berlari mencari cela agar matamu tak saling beradu, bahkan cela cincin pun ingin kau jadikan tempat persembunyianmu. Padahal dulu kau orang yang suka menyela teman dengan ratusan odo’-odo’ yang imut dan lucu.

Apa lagi yang menjanggal ketenangan di hatimu, kawan? Inginkah engkau kuceritakan semua masa-masamu di pondok dulu? Tentang kisah cintamu dengan seorang santriwati pada lembaran buku yang jatuh, atau modus pada pentas malam yang melibatkan ubi dan donat sebagai saksi bisu. Mungkin kau sudah lupa dengan pohon jodoh, gedung MTs, belakang gedung SMA dan depot, tempat mereka bersua dan berbagi cinta selagi tiba waktu meeting guru. Mungkin kau sudah lupa dengan racikan rute jurit malam yang sengaja kau buat searah dengan jalur santriwati, agar kelak kau lewat dan bertemu. Atau kegirangan nongkrong di depan kelas mengalun nada gitar demi merayu-rayu kekasihmu.

 

Aku tak ingin bercerita banyak lagi kawan. Malam itu, segera kutarik tanganmu mendekat dan menyaksikan keceriaan puncak perayaan reuni akbar. Hampir saja aku mengira kita seperti di medan pertempuran, suara handy talking bergemuruh sana-sini berucap kabar dan perintah dari panitia pelaksana. Abra kadabra!, semuanya telah disulap. Sungguh berdustalah matamu jika tak menyaksikan keindahan malam itu, kala panggung telah disulap menyerupai pintu yang menggantung puluhan lampu-lampu dan kerlap-kerlip di dalam kolam, tempat ikan-ikan mengadu cahaya lampu, balutan kain hitam memanjang berlukiskan kaligrafi sulus. Sungguh berdustalah telingamu jika tak mendengar lantunan wanita cantik yang membacakan kalam Tuhan dengan suara yang merdu, atau kekonyolan dan kegagahan seorang presenter yang mampu menaklukkan hati para penonton dengan mimik yang lucu. Sungguh berdustalah lidahmu, jika tak merasakan kenikmatan dan kelezatan tumpeng yang menjulang tinggi dengan dililitnya sambel bak gunung api yang melelehkan lahar dan debu, atau kepingan altar beratus lapis yang siap dijamu.

Entah beribu entah yang harus kuucapkan padamu kawan. Telah kuperlihatkan padamu keceriaan itu. Keceriaan dari empat belas orang hebat yang bersua di atas panggung dengan menceritakan kisah-kisah di masa lalu. Telah kuperlihatkan padamu lekukan tangan dan lentiknya bulu mata para penari yang melakonkan tarian empat etnis, seperti nyata mereka bersemayam di empat suku. Telah kuperlihatkan padamu gadis-gadis rebana berdendang madu menyulam lagu-lagu. Telah kuperlihatkan padamu kesedihan seorang ibu yang bertahun-tahun menyuguhkan sajian dengan hati yang syahdu. Telah kuperlihatkan padamu ratusan lampion beterbangan menari-nari di atas langit yang tak lagi biru.

Masihkah kau kesepian kawan? Sungguh kuingin kau bercerita malam itu. Ingin aku menyayat kegelisahanmu yang tak pernah kau adu. Mungkin malam ini kau tahan kantuk, kutarik kau menyaksikan lesuh wajah panitia yang masih sibuk bergulat dengan konsep yang baru. Kelas inspirasi, tentang sebuah gagasan cemerlang yang akan mengaduk-aduk pikiran para santri. Menemani mereka bergelut dengan argumentasi-argumentasi hingga menjelang waktu shalat subuh. Apakah kau lelap, kawanku?

Esok paginya, aku harus menelesik ratusan kursi mencari tepat tidurmu. Kutemukan kau lelap luluh berbantalkan karpet dan berselimutkan kertas koran. Aku pun membangunkanmu, sebab hidangan pagi ini telah siap untuk dijamu. Mungkin hanya sebatas mie dan sayur tuttu’ yang mengisi keroncongan perutmu. Tak terasa, berdecaklah jam menunjuk pukul 10:30, telah tiba pertanda kelas inspirasi siap digelar. Di toa masjid, bunyi keras menyeru peserta beranjak ke gedung-gedung kelas sesuai dengan profesi yang dituju. Mungkin, awalnya kau mengira itu adalah panggilan santri yang kedatangan tamu. Telah kuperlihatkan padamu alumni-alumni yang telah sukses dengan profesi yang mengalahkan guru-guru. Telah kuperlihatkan padamu santri yang rela berpanas-panasan demi menyantap hidangan ilmu. Telah kuperlihatkan kesibukan panitia yang berlalu lantah jadi kumuh sebab selalu terburu-buru.
Masihkah kau kesepian kawan? Pada dialog alumni yang mengabarkan kegelisahan pengurus IKA-RAMA terhadap senior pendahulu. Pada dialog alumni kuperlihatkan padamu silaturahmi antar alumni dan alumnus. Pada dialog alumni kuperlihatkan padamu suara-suara yang telah lama membisu.

Masihkan kau kesepian kawan? Sore itu, bola mengajakmu menendang gelisahmu di tengah lapangan yang sedikit bergelombang. Tentang eksebisi yang memacu semangatmu di adrenalin. Tentang skill dan sepatu futsal bagai amfibi, hidup di lapangan dan di sekolah. Tentang kostum berbaju Real Madrid dan bercelanakan Barcelona, yang lembab sebab baru terangkat dari tali jemur. Tentang rumput liar yang melekat pada kaos kakimu akan menjadi PR saat petang menjelang.

Masihkah kau kesepian kawan? Saat malam tiba menghampirimu dan akan mengakhiri pada sebuah kesunyian. Kau tampak tak rela menyelami kesunyian lagi. Lagi-lagi aku menghiburmu dengan sejuta tawa gaduh. Telah kuperlihatkan padamu nyanyian-nyanyian silam yang mungkin menghiburmu. Telah kuperlihatkan padamu syair berjuta makna yang akan menyayat-nyayat rindu di hatimu. Telah kuperlihatkan padamu sambutan seorang guru yang akan menyiram kegelisahanmu itu.

Katamu, “selalu ada jalan untuk memecah rindu-rindu”. Katamu,”rindu hanyalah perasaan yang dipaksa bersembunyi”. Katamu, “reuni adalah obat rindu, tetapi ia malah menambah rindu akut”. katamu, “kau adalah kegelisahan yang terus abadi hingga rindu menjemputmu”.

Tapi tenanglah kawan! Pada sebuah untaian, akan kupersembahkan sebuah buku yang akan mengobati rindumu. Cerita yang pilu dan syahdu akan mengantarmu bernostalgia dengan masa lalu. “Rahmatul Asri,….where our stories begin” itulah judul buku yang selalu kita tunggu-tunggu.

Dan ada satu yang tak akan kulupa darimu malam itu, saat kau menarik kupingku dan berbisik padaku, “sampaikanlah salam dan rasa terima kasihku kepada panitia yang telah bersedia menampung rindu-rinduku dan seluruh sahabatku”.

Adakah yang mengenal namamu, kawan?

Maroangin, 21 Agustus 2016

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *