Mila, Waktunya Shalat Subuh

by Wall Masry
Foto by Wall Masry

Malam itu sedang purnama. Hanya terdengar suara burung hantu dan sesekali suara jangkrik di depan rumahnya. Ia sedang memikirkan sesuatu, entah apa. Ia memejamkan mata, mulutnya seakan mengucap beberapa mantra. Sepertinya ia telah melewati masa-masa sulit beberapa hari terakhir.

Angin malam semakin berhembus kencang. Ia masih saja duduk di teras, memeluk dirinya sendiri yang kedinginan, mengayunkan tubuhnya ke depan, ke belakang dan masih saja gelisah. Rasa gelisah itu menahannya untuk tidak berpindah seakan itu sebuah beban yang bahkan Hercules pun tak mampu membawanya.

Apa yang dipikirkannya itu? Mengapa ia tak masuk ke dalam rumahnya dan memikirkan itu di dalam kamar? Bukankah di sana jauh lebih tenang dan sedikit agak nyaman ketimbang di luar yang sangat dingin? Bukankah juga angin malam saat purnama jauh lebih dingin?

Ah, Apa yang terjadi denganku. Aku yang melihatnya pun ikut merasakan kegelisahan itu. Dari gerak tubuhnya, raut wajahnya, juga matanya yang sedikit lagi meneteskan air mata seakan merasuki jiwaku dan memaksa tubuh ini untuk terlibat dalam kegelisahannya. Seperti ada yang menghubungkan antara persaannya dan perasaanku. Mungkin ini yang dimaksud oleh filsuf yang gila itu; kegelisahan yang mendalam hanya mampu dirasakan oleh orang yang pernah merasakan kegelisahan juga.

Karena tak ingin terlibat dalam kegelisahannya terus menerus, aku masuk ke dalam rumahku yang berada tepat di depan rumahnya. Membuat segelas kopi untuk memberikan sedikit rangsangan segar ke kepalaku yang tadi sempat pusing.

***

Malam itu adalah purnama kedua setelah sebelumnya aku menyatakan cinta kepada seorang perempuan yang sudah lama menjadi bahan diskusiku dengan temanku itu. Siapa pun tak mampu menahan godaan dari manusia yang katanya diciptakan Tuhan dari tulang rusuk Adam ini. Ia terus membawaku dalam hayalan-hayalan semu tentang dunia. Aku adalah Raja dan ia adalah Ratu yang membuat dunia ini seakan damai tanpa ada produksi senjata bagaimana pun bentuknya, karena semua orang tak memikirkan tentang perpecahan, yang ada hanya hidup berdampingan dan saling mencintai. Perkembangan ilmu pengetahuan pun sangat pesat, melebihi apa yang dirasakan manusia sekarang ini. Setiap orang, dalam aktivitasnya sehari-hari, tak lepas dari buku bacaan yang mereka baca, tak seperti sekarang yang terjadi di salah satu negara, dimana dari seribu penduduknya, hanya satu orang yang membaca. Juga alat transportasi yang ramah lingkungan, bahkan asapnya adalah oksigen. Dalam hayalku ini, aku mampu meramalkan kehidupan orang di bumi yang tak perlu khawatir tentang hari kiamat, karena segala hal yang menyebabkan terjadinya kiamat tak akan pernah terjadi. Walau ku tahu itu hanya sebuah hayalan, namun tak mampu kepala ini untuk berhenti berimajinasi tentang kami berdua. Kami seakan hidup di dalam istana megah, mengalahkan megahnya Arsy Tuhan. Aku seakan bersabda seperti sabda Tuhan yang tertulis di dalam surah Ar-Rahman ayat tigabelas, namun redaksinya ku ganti sesuai dengan hayalanku sendiri; maka nikmat Rajamu yang manakah yang kamu dustakan. Astaga! Tuhan, maafkan hambamu ini karena berhayal tentang sesuatu yang melebihi kebesaran-Mu.

Setelah kupikirkan kembali semuanya, aku memutuskan untuk tidak berhayal tentangnya lagi. Tak ada gunanya berhayal, lebih baik membawanya ke kehidupanku agar tak lagi ia menjadi hayalan.

Ia membuka pintu kehidupanku yang sempat tertutup rapat dengan kunci yang tak pernah ku berikan kepada siapa pun. Karena terlalu kuat untuk tak masuk, aku pun mempersilahkannya untuk masuk dan bahkan memaksanya tetap tinggal di dalam, selamanya. Namun setelah ia benar-benar menjadi bagian dari hidupku, kepala ini semakin menghayalkan sesuatu tentang kami yang mungkin tidak akan pernah terjadi, bahkan ketika telah berada di surga. Hayalan itu tak mampu berhenti seolah itu adalah rotasi dan revolusi bumi yang hanya hembusan tiupan sangkakala mampu menghentikan lajunya.

Begitulah manusia, hasratnya semakin bertambah seiring pemenuhan dari hasrat tersebut. Percobaan mencari penjelasan dari hasrat ataupun keingginan manusia melalui referensi buku dan beberapa diskusi malah membuat orang semakin tak mengerti.

***

Nampaknya aku terbawa suasana kegelisahan dari temanku. Tapi apa yang membuatnya terlihat tak bergairah untuk hidup? Baru kali ini ia tak mampir ke rumah bercerita. Biasanya sepulang dari kuliah ia pasti mampir dan menceritakan tentang hal-hal unik di kampusnya.

Ku minum kopiku, mencoba untuk tak memikirkan itu semua dan rasanya seperti terbebas dari segala macam masalah. Hanya ini satu-satunya cara agar kembali tersenyum, bukan meminum kopi, melainkan melupakan masalah itu dengan memikirkan sesuatu yang baru. Cara itu selalu berhasil untuk menenangkan pikiran ini.

Setelah berhasil menenangkan pikiran, agaknya tubuh ini tak mampu lagi bekerja dengan baik, aku mengantuk. Namun rasanya masih ada sesuatu yang belum terselesaikan. Saat itu aku lupa mengunci pintu. Aku berjalan menuju ke sana. Ku tarik gagang pintu itu masuk, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu. Ku dorong kembali pintu itu dan memastikan bukan setan yang ada di sana. Aku seakan tak percaya dengan apa yang terlihat. Ku seka mataku berkali-kali dan memang itu bukan setan. Itu temanku! Apa yang dilakukannya di sana? Ia masih saja belum beranjak. Kali ini lengan kanannya basah. Ku pastikan itu adalah airmatanya.

Hasrat ini harus terpenuhi untuk berbicara kepadanya dari pada nanti menjadi misteri yang tak mampu di pecahkan. Pikiranku berantakan seiring pergantian langkah kakiku, kanan dan kiri, seakan pikiran ini ditentukan oleh gerak dari pergantian langkah itu.

Ku tepuk bahunya. Ia terbangun dari lamunannya. “Ada apa dengan dirimu?” Tanyaku risau.

Meskipun telah sadar dari lamunannya, tangisannya semakin menjadi-jadi. Sekarang ia nampak ketakutan dengan kehadiranku. Ku ulang kalimat yang tadi, namun ia masih saja diam.

Aku duduk di sebelahnya, mencoba merangkai beberapa kalimat yang pantas diajukan kepada orang yang gelisahnya sudah mencapai stadium akhir.

Namun tak ada kalimat yang mampu dijadikan rangsangan untuk membuatnya berbicara tentang kegelisahannya. Aku menyerah! Untuk kedua kalinya aku memutuskan tidak lagi terlibat dengan kegelisahannya.

“Kalau kau tak mau bicara sebaiknya aku pulang saja. Aku hanya ingin membantumu, namun sepertinya kau butuh waktu untuk kontemplasi. Semoga pagi nanti kau tak sedih lagi.” Aku sadar kalimat perpisahan ini terlalu pendek, namun itu sudah cukup membuatnya tersinggung.

Angin malam yang berhembus kencang mengiringi langkahku menuju ke rumah. Suara burung hantu yang tadinya mendominasi bunyi pada malam itu dan menemaninya sedari tadi tak lagi terdengar. Ah, burung hantu itu pun enggan untuk terlibat dalam kegelisahannya. Betapa sulitnya menembus benteng kesedihan itu.

Bukannya masuk ke dalam rumah, aku malah kembali ke tempat temanku melampiaskan kegelisahannya. Ia berteriak. “Aku butuh teman cerita!” Seakan teriakan itu sebuah magnet yang menarikku kembali ke tempat tersebut.

“Ada apa kau memanggilku? Ku pikir kau butuh waktu dengan kontemplasimu itu.”

“Aku butuh teman cerita.” Ia pun menceritakan penyebab kegelisahan yang membelenggu dirinya.

Sudah seminggu ibunya meninggalkan rumah. Ia pergi bersama adik perempuannya. Kata temanku, ibunya memang sering berkunjung ke luar kota, pergi bersama teman-teman lelakinya yang selama ini ku pikir adalah bagian dari keluarganya, namun baru kali ini ia membawa adik perempuannya. Setelah ditelusuri apa yang sebenarnya ibunya lakukan di luar sana, ia pun seakan tak percaya. Ibunya menjual adik perempuannya untuk dijadikan pelampiasan nafsu dari para pendosa yang sembunyi di balik nama ustadz.

“Bukankah ibumu bercadar? Adikmu pun demikian bukan? Dan pastinya temannya pun berpenampilan seperti itu.”

“Semua orang di sini tahu ibuku seperti apa.” Ia melanjutkan ceritanya. “Namun setelah ayahku meninggal ia menjelma menjadi perempuan yang benar-benar munafik.”

Ku tahan hasrat ini untuk berbicara dan kembali mendengarkan ceritanya.

“Kau tahu, ibuku dahulu seorang ayam kampus. Kau pun masih ingat bukan, pembicaraan kita tentang ayam kampus sewaktu aku berkunjung ke rumahmu. Sebenarnya yang ku cerita itu adalah ibuku. Waktu itu kau heran denganku karena aku berbicara tentang perempuan sampah yang mustinya dibumihanguskan itu, lalu kau menyarankan untuk mengganti topik pembicaraan. Aku tak mau jujur di hadapanmu. Aku malu untuk mengakuinya. Itu sebabnya mengapa aku berbohong bahwa ayam kampus yang ku cerita waktu itu adalah pacarku. Namun ibuku perlahan memperbaiki diri setelah bertemu dengan mendiang ayahku.”

Aku baru ingat cerita itu. Sudah lama ia menceritakannya, namun waktu itu ceritanya sungguh tak menarik perhatianku. Mungkin itu sebabnya aku lupa dengan cerita itu dan mulai mengingatnya lagi ketika ia menceritakannya kembali. Ia bercerita bahwa ayam kampus itu datang ke fakultasnya dengan tujuan menggalang dana. Ayam kampus itu mendekat dan menawarkan jualan. Mereka pun berkenalan. Karena pandai berbicara, ia dengan mudah akrab dengan ayam kampus itu. Pada akhirnya mereka pun berpacaran. Setelah menyadari kebohongan dari cerita itu, ternyata laki-laki yang ia maksud itu adalah ayahnya dan ayam kampus itu adalah ibunya sendiri. Ia benar-benar pandai merangkai cerita.

Ia pun kembali bercerita. Ayah dan ibunya dahulu pernah terjebak dalam suatu ruang dimana masing-masing dari mereka tak mampu menahan hasratnya. Pada saat itu mereka kehilangan kesadaran, akhirnya ayahnya melakukan hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.

“Lantas apa yang ayahmu perbuat setelah itu?”

“Sebulan penuh ia habiskan waktunya di masjid. Ia merenung dan memohon ampun pada Tuhan.”

“Sedangkan ibumu?”

“Sebulan juga ia tak masuk ke kampus. Ibuku sadar atas perbuatannya karena telah menggoda ayahku yang kesehari-hariannya hanya dihabiskan dalam masjid. Karena telah mengakui kesalahannya, ibuku pun pergi ke rumah ayahku untuk memintanya melamarnya segera. Ayahku pun memenuhi permintaan tersebut. Perlahan ibuku mulai belajar tentang agama. Memulai untuk merubah diri dan akhirnya memutuskan menjadi guru mengaji di kampung ini.” Ia berhenti sejenak untuk menyeka airmatanya. “Aku sangat mencintai ibuku. Aku tak pernah peduli dengan latar belakangnya. Apa gunanya masa lalu jika hanya dijadikan hukuman dari perbuatan manusia yang sekarang? Itu semua tak terlalu penting bagiku. Namun yang sangat ku sesali dan tak bisa ku maafkan, mengapa ibuku berbuat seperti itu kembali dalam proses pendekatannya kepada Tuhan?”

“Mungkin karena ia kehilangan sosok pemimpin dalam hidupnya.”

“Apa pentingnya lelaki bagi perempuan? Bukankah perempuan bisa memimpin juga? Kaum perempuan itu ah, mereka benar-benar bodoh!

“Kau tak bisa menyalahkan perempuan hanya karena kau mengambil kesimpulan dari satu orang. Kau pun tahu kesalahan dalam berpikir bukan?”

“Tak ada pentingnya logika jika seseorang dalam keadaan bersedih. Kau pun tahu itu bukan?” Tangannya menggenggam kepalanya sambil tertunduk. Ia kembali menangis. Kali ini airmatanya bercucuran semakin deras. Bukannya membuat ia tersenyum, aku malah menambah kegelisahannya.

“Maaf, aku hanya mencoba menenangkan pikiranmu. Masih ada kesempatan untuk menuntun ibumu kembali.”

“Tapi dengan cara apa?” Tanyanya sambil terisak-isak.

“Kau adalah kuncinya. Kau bisa menjadi sosok ayah buat ibumu.”

“Sudah ku lakukan itu, bahkan sampai sekarang. Bukannya berubah, ia semakin menjadi-jadi. Sekarang adikku yang ia jual, besok mungkin aku dan selanjutnya seluruh orang yang ada di kampung ini. Kau mau dijual dengan orang yang berpenampilan layaknya Siti Aisya namun hatinya lebih buruk dari Raja Namrud? Tak ada gunanya penampilan. Itu hanya bungkusan-bungkusan agar orang terlihat tetap suci. Sekarang jalan satu-satunya adalah berdoa supaya azab Tuhan segera datang dan menimpa kampung ini. Kalau kau mau menolongku, bantu aku berdoa semoga azab Tuhan bisa tiba malam ini.”

Aku semakin bingung dengan jalan pikirannya. Ia sudah tak percaya lagi segala sesuatu yang berada di luar dirinya. Seandainya tak memutuskan datang kemari, pikiranku tak akan kacau seperti ini. Ada baiknya beristirahat. Kalau pun pergi dan meninggalkannya sendiri, ia pasti akan menghapusku dalam ingatannya, lalu membenci, kemudian berdoa agar azab Tuhan menimpaku segera. Disisi lain, aku pun sudah tak tahu lagi harus berbuat apa. Aku mati akal!

“Tak usah terlalu pikirkan masalah ini. Aku tahu dirimu. Kau selalu lari dari masalah. Semua masalahmu tak pernah kau selesaikan.”

“Kau benar, aku memang pengecut. Aku tak pernah bisa menyelesaikan masalahku. Lantas apa tujuanmu memanggilku kemari?”

“Aku hanya ingin bercerita.”

“Aku mengerti. Aku pun butuh pengertianmu. Kau tahu bukan, ibumu itu adalah guru mengajiku dahulu. Ia mengajarkanku banyak hal. Ia adalah salah satu perempuan terbaik abad ini. Kau pun mengerti semua kesalahan ada ampunannya…”

“Kau tak perlu berkata banyak tentang ibuku lagi.” Ia tiba-tiba memotong kalimatku. “Semakin kau sebut namanya, semakin emosiku meluap. Aku tahu segala kesalahan ada ampunannya, kecuali satu, menduakan Tuhan. Karena Tuhan tahu betapa sakitnya di duakan, maka dari itu Tuhan tak pernah mau memaafkan orang yang menduakannya. Setidaknya begitu yang ku dapat dari pesantrenku dahulu.”

“Lalu kau tak mau berbuat sesuatu lagi dan tak mau memaafkannya karena telah menduakan keluargamu? Seharusnya kau paham, kau tak bisa menyamakan manusia dengan Tuhan. Ia maha kuasa. Ia mengutuk dirinya untuk berkuasa. Sedangkan kita, manusia, dikutuk untuk bersalah!”

Adzan subuh yang berkumandang menghentikan percakapan kami. Ia masuk ke dalam rumahnya dan bergegas menuju ke masjid, mungkin kegelisahannya reda setelah mendengar penjelasanku.

Sedangkan aku mengunci pintu kamar dan tidur dengan bantal yang ku peluk sangat erat. Betapa malam purnama itu menjadi malam yang seakan tak ada lagi pagi. Namun sebelum tidur, ku kirim pesan kepada kekasihku; Mila, Waktunya shalat subuh.

Samata, 10 November 2016.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *