Resolusi Bu Tini

Foto : Pixabay.com

Suatu janji mempertemukan Lidya dan kekasihnya, Saman. Ia ingin mengutarakan sesuatu tapi tak ingin dedaunan mendengarnya, dan angin mengupingnya. Kata-kata itu sudah tertata rapi di ujung lidah. Namun terlampau peliknya, segalanya tertahan. Tertawan oleh dering Line dari telepon genggamnya. Ia terus menatap Saman. Saman Tak mengerti. Ia tahu air muka Lidya tampak aneh. Lidya berusaha menjelaskannya tanpa bahasa. Sayangnya, ia tak akan mau mengartikan apa saja yang tak diutarakan dengan bahasa karena ia terlatih sebagai pedagang.

Saman sejak SMP sudah mengasah insting berdagangnya. Insting dagang memang tak membutuhkan bahasa, tapi nilai mata uang juga tidak bisa disampaikan dengan isyarat. Kini ia masih seorang pedagang. Pedagang kutu loncat.

Tak ada alasan baginya untuk menjual satu barang dalam waktu yang lama. Ia tak mau pula menjual barang campuran. Itu sama saja memancing ikan di danau kering. Baginya falsafah berdagang adalah membaca, membaca alam, membaca waktu. Dengan begitu kau dapat mengatur gelombang rezeki. Oleh karena itu, di tanggal 2 Januari ini ia masih menambah stok petasan di lapaknya yang bersandar di trotoar jalan setelah lebih dua minggu berjualan baskom di daerah.

Selain membaca gejala untuk menguasai rezekinya, Saman kerap membaca status-status kekasihnya Lidya untuk mengisi kembali semangatnya yang terbuang. Dua hari yang lalu Lidya yang bekerja sebagai pelayan di salah satu toko baju menulis sebuah status di Fesbuk-nya.

Dibantu yayankqw, Lidya sudah punya motor baru. Resolusi tahun ini saya tidak akan terlambat gawe.. Makaci cayank    

Setelah mengumpulkan uang dari hasil jualan sepatu di musim tahun ajaran baru, Saman menyisipkan uangnya untuk menyicil motor buat Lidya. Ia kasihan melihat Lidya yang sering telat ke tempat kerja disebabkan ia sering terlambat menjemputnya. Kecuali ia nginap di kosan Lidya. Tapi Lidya punya adik perempuan seorang mahasiswi yang tinggal sekosan dengan Lidya. Namun jika ada sesuatu yang mengharuskan adiknya itu nginap di rumah temannya, di saat itu Lidya memasak lebih, memanaskan air, membersihkan tubuhnya, menyisir rambutnya. Lalu ia menelepon Saman.

Entah secepat apa ia membereskan barang-barang dagangannya. Tak cukup 10 menit Saman sudah berdiri di depan pintu kosan Lidya. Di saat-saat itu mereka menuntaskan rindu. Membasuh peluh. Hingga lelah dan lega tak berjarak, hingga bara dan darah sama nyalanya. Memasuki subuh mereka terus beradu. Menjelang pagi, mereka saling memuji.

“Terima kasih, kau rela menunggu pagi untuk mengantarku ke toko.

“Terima kasih juga, sudah menemaniku menunggu pagi”

Begitulah yang terjadi jika si adik nginap di rumah teman. Sayangnya meramalkan waktu nginap si adik sama halnya membeli petasan di pinggir jalan saat hari sedang hujan.

***

Lidya, seperti kebanyakan gadis di kampungnya, tak tertarik bersekolah tinggi. Dua tahun tamat dari SMA, ia lebih sibuk menjaga warung ibunya, membersihkan rumah dan memasak untuk kedua adiknya. Ia tak punya banyak teman, kekasih apalagi. Pernah seorang lelaki mau mendekatinya. Karena ia gadis pendiam, lelaki itu kehabisan kata-kata dan pergi.

Ibu merasa khawatir dengan kebiasaan Lidya. Tak ada teman. Tak yang mau mendektinya. Ibu merasa perlu segera menikahkan Lidya. Ia tak tega melihat sehari-hari anak sulungnya itu berkutat di rumah. Mengambil tugas hariannya sebagai seorang ibu.

Pernah ibu mengajak Lidya membicarakan hal ini.

“Kau kenal Ramli, anak bu Tini?”

“Oo.., Pegawai honorer kelurahan itu. Ada apa dengan dia, bu?

“Bagaimana menurutmu?

“Bagaimana gimana?”

“Menurutku dia anak yang baik”

Lidya sadar maksud sang ibu. Ia pun menyadari waktu ternyata harus melintasi fase itu atau ia terhenti lalu waktu meniggalkannya. Ia menyentuh tangan ibu yang teduh lalu menatapnya dalam.

“Aku serahkan semuanya pada ibu”

Setelah percakapan itu ibu mencari-cari waktu yang tepat menemui ibu Tini untuk membicarakan rencana perjodohan anak-anak mereka. Namun itu harus tertunda karena Rani ingin melanjutkan kuliah di kota.

Berbeda dengan kakaknya, Rani sejak SMA telah terlibat dalam kelompok-kelompok diskusi di desa. Seorang aktivis dari kota Misbah membangun perpustakaan yang buku-bukunya dikirim dari Yogyakarta. Rani mengunyah banyak buku-buku yang melampaui usianya.

Dengan kaos oblong yang tertulis hanya orang gila yang tak gelisah menyaksikan kegilaan negerinya diambil dari kutipan novelis E.S Ito ini, Rani memiliki hasrat yang besar menjadi seorang demonstran di kota. Sebab kabut desa hanya meredam suara lantangnya, sebab kampung bukan medan manusia yang meradang.

Lidya adalah sisi diri yang dihindari Rani. Sedangkan Rani adalah mimpi buruk dalam ketenangan Lidya. Namun begitu, Rani menyukai masakan buatan Lidya. Dan Lidya adalah kakak yang bahagia di tengah kegembiraan keluarganya.

Rani merajuk, sebab ibu membujuk untuk tidak mengikutkan Lidya ke kota.

“Lidya itu mau menikah dengan Ramli. Kau tidak perlu mengajaknya ke kota. ”

“Saya tidak peduli,” Rani berusaha mencari-cari celah, “Lagipula ibu belum membicarakan apa-apa kepada tante Tini, bukan?”

“Betul juga.” Ibu makin khawatir. “Di kota nanti kakakmu mau ngapain?”

“Tenang saja, kakak tahu apa yang harus ia lakukan”

Setelah diajak ngekos di kota, Lidya menurut saja.

Seperti yang dikatakan Rani, Lidya tahu apa yang harus ia lakukan. Ia mengisi kebosanan dengan mencari kerja sana-sini. Saman adalah tukang ojek pertamanya di kota. Waktu itu kota dihantam gelombang ojek online. Saman tak mau ketinggalan. Ia menyulap motornya menjadi ojek. Pertemuan itu adalah pandangan pertama mereka. Pertemuan itu adalah pertemuan yang membangkitkan gairah apabila mereka bisikkan dalam desahan nafas, dalam pelukan, di atas kasur, di atas tetumpukan buku-buku Rani. Tentunya saat Rani digoyang emosi yang tumpah ruah oleh kebijakan negara yang tak memihak rakyat, menurutnya, di ruang-ruang diskusi.

Gairah Rani berdiskusi dan mengkritik kekuasaan terumpah di media-media online. Meski masih semester tiga, oleh Misbah, ia diperkenalkan dengan kawan-kawan Anarki Nusantara, komunitas blogger yang sering berbagi kehangatan isu politik dan ekonomi. Rani memuluskan jalannya menjadi virus, terus menggerus melalui esai-esainya yang kritis.

Akibat candaan yang kurang tepat dan gesekan poliik yang panas, seorang gubernur petahana memantik turunnya banyak aliansi massa. Jutaan manusia turun ke jalan menuntut sang gubernur lengser. Anarki Nusantara tak tinggal diam. Isu kebencian terhadap negara yang sering dilonarkan melalui kritik-kritik di blog mereka tiba-tiba relevan dengan keadaan.

Rani gencar mengkampanyekan revolusi. Ia mengajak teman-temannya, mengajak mahasiswa seuniversitas, mengajak pemuda-pemuda turun ke jalan.

Di antara Suasana genting demikian, militer mengulik titik-titik api di antara gelombang manusia yang luar biasa besarnya. Politisi oposan dijemput diam-diam, seniman-seniman berbahaya diamankan. Pembangkang yang pengaruhnya berskala nasional dikurung di dalam rumah. Para aktivis kiri langsung diringkus. Rani menghilang, kabur bersama teman-temannya. Kampus tidak mengakui keberadaannya sebagai mahasiswa di institusi tersebut. Polisi sempat mengamati kosannya, Namun yang diamati hanya sepasang kekasih yang beradu rindu tiap malam.

***

Dayung bersambut. Di penghujung tahun di tengah perayaan sederhana menjelang tahun baru di desa, ibu Tini menanyakan kabar Lidya. Mereka berdua telah lama menunggu peristiwa ini. Mereka merayakan tahun baru sekaligus menjahit harapan yang baru dari percakapan masing-masing. Masing-masing memuji anaknya. Masing-masing memuji anak lawan bicara. Masing-masing membawa pekerjaan rumah, yaitu memberitahukan berita gembira ke anak masing-masing. Tak lupa ibu Tini menawarkan beasiswa buat Rani dari Pemerintah Daerah. Ibu Tini dekat dengan pejabat-pejabat di kabupaten. Ia berharap Rani yang suka baca buku itu bisa membeli lebih banyak buku.

***

Tak mau angin dan dedaunan mendengarnya, Lidya mendekatkan wajahnya ke wajah Saman hingga tampak jelas pori-pori Saman yang membesar, hingga keelokan paras Lidya terlihat tegas.

“Aku hamil”

Saman tertunduk lemas. Mulutnya terkunci. Pikirannya terkunci. Langkahnya terkunci. Bahkan langit pun ikut terkunci. Ia tak bisa lari kemana-kemana. Lidya yang ketakutan melihat kekakuan tubuh Saman, mengintip layar hadphonenya. Ia baca Line yang masuk.

Nak, Rani mana? Aku sudah bicara dengan ibu Tini. Kau siap menikah tahun ini bukan? Minta Rani aktifkan Hapenya.

“Sam, gimana dong?”

Makassar, 1 Januari 2017

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *