Wisata dan Literasi

Menulis Wisata

Saat ini dunia pariwisata semakin menyita perhatian. Ramainya masyarakat berwisata hari ini bertaut pada ketersebaran informasi mengenai lokasi wisata. Hal ini tidak lepas dari gencarnya promosi di media baru (new media). Terutama di internet, informasi wisata semakin mudah ditemui. Lewat antusiasme menampilkan swafoto (selfie) di media sosial, masyarakat secara tidak langsung turut menyebarluaskan wisata. Tentu saja aktivitas berwisata tak lengkap sensasinya tanpa berfoto. Disamping fenomena terkini bahwa berwisata dilandasi oleh geliat berfoto. Atas hasrat tampil di media ini, selanjutnya menjadi pertimbangan bagi pengembang wisata mendesain ruangnya.

Informasi wisata tidak hanya diperoleh lewat gambar (dan audio), tetapi juga melalui artikel-artikel yang tersebar di majalah maupun internet. Kelebihan dari artikel (tulisan) karena menjelaskan dengan rinci dan ditambah lampiran foto sebagai ilustrasi. Sehingga informasinya pun bisa detail dan mendalam, selayaknya video. Bahkan juga mampu memberikan sensasi yang lebih dekat dengan nuansa suatu wisata kala membacanya. Walaupun tergantung bagaimana narasi itu dibingkai oleh penulisnya.

Tulisan wisata banyak kita jumpai di media seperti blog maupun media sosial. Apalagi ini cara murah melakukan promosi wisata di era informasi. Para blogger cum penikmat perjalanan  sering membagikan pengalamannya melalui tulisan (travel writing). Demikian juga bagi pegiat-pegiat wisata yang secara khusus bekerja untuk mengeksplorasi pariwisata. Dari tulisan-tulisan tersebut, para pembaca (netizen) tertarik (terbujuk) untuk mengunjungi wisata tertentu. Dan menjadi petunjuk (informasi) awal bagi masyarakat yang ingin mengunjungi destinasi wisata.

Atas dasar ini, Komunitas Literasi Massenrempulu bersama Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sullung Pustaka mengadakan Bincang Wisata dan Literasi dan Workshop Menulis. Kegiatan ini merupakan bagian dari Festival Bisang II yang berlangsung selama dua hari, 4 dan 5 Februari 2017. Dalam kegiatan itu, selain bincang dan workshop, item kegiatan lainnya yakni Pameran Foto WPAP, Petualangan Anak Si Koci III dan Pembukaan wisata baru Air Terjun Kaje’jen dengan wahana Rumah Pohon, Nembak Ikan, Water Tubing di Kampung Bisang, Lewaja, Enrekang.

Wisata Literasi

Berwisata merupakan aktivitas yang familiar. Hampir setiap manusia telah menjalaninya. Dengan nalurinya, manusia mencari dan menciptakan ruang untuk menyegarkan (instropeksi) kedirian. Rutinitas yang padat dan menegangkan yang dilakoni manusia, memang pada akhirnya memerlukan sarana dan wahana menyegarkan diri. Sebagai ruang modern, wisata juga menjadi ruang konsumsi, komunikasi dan gaya hidup (passion). Dengan alasan ini pula, maka tersedialah waktu luang yang tersebut dalam istilah libur.

Libur sering dipandang sebagai jadwal khusus bagi pekerja formal. Hal ini misalnya dieksplisitikan dalam KBBI yang mengartikan libur adalah bebas dari pekerjaan dan sekolah. Tetapi sebenarnya setiap saat dapat menjadi waktu libur bagi manusia. Karenanya, wisata bukan berarti hanya milik para pekerja (formal). Tetapi menjadi ruang bagi siapapun. Tak terkecuali orang-orang yang bebas (freeman) dari bekerja dan suka bebas (libre -> libur).

Berwisata memang identik dengan berlibur. Sehingga ruang wisata lebih berkesan santai, bebas dari rutinitas, dan menghibur. Nah, bagaimana jika wisata itu mengarah pada hal yang dianggap serius selama ini? Misalnya wisata literasi. Anggaplah tempat wisatanya bernama taman bacaan atau perpustakaan. Bukankah wisata yang satu ini membuat pengunjungnya justru berpikir? Bagi yang belum senang membaca, ya tentu akan jadi beban. Namun sebaliknya, itu suatu kebebasan dan aktivitas santai dan menyenangkan bagi yang lain. Yah, semacam membaca adalah refreshing.

Tapi wisata literasi di sini bentuknya tidak hanya refreshing di perpustakaan. Tetapi bisa juga karena wisata itu memiliki perpustakaan, atau di sekitar perpustakaan terdapat lokasi wisata. Malah bisa saja di perpustakaan ada ruang wisata karena menyediakan wahana rekreatif dan menarik dikunjungi­. Seperti halnya dengan tempat wisata yang memiliki dinding-dinding bergambar, bertuliskan petuah, motivasi dan spirit. Sehingga ruang itu juga memiliki spirit literasi.

Nuansa itu bisa dibentuk dan dirasakan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sullung Pustaka yang lokasinya juga berdekatan dengan Permandian Alam Lewaja dan wisata baru bernama Air Terjun Kajejen. Mungkin Anda tertarik menikmati wisata literasi yang saya maksud? Kalu begitu, mari kita kesana!

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *