Memeluk Pohon

Bel istirahat berbunyi, hampir setengah isi kelas telah berlalu, memenuhi ruang-ruang sudut sekolah yang menjadi favorit mereka. Kantin, lapangan, perpustakaan, atau hanya sekadar di koridor.

Tetapi Lena, anak baru yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri, masih dengan kebiasaan yang sama. Duduk di tempatnya menarikan jemari di atas laptop mungil, dan makan seadanya dari kotak bekal yang ia bawa, sementara di sampingnya selalu ada benda itu, Sapu tangan.

Sejak beberapa minggu lalu ia menjadi murid baru di SMA Kartini, pindahan dari Pulau Irian Jaya, tak pernah ia mengikuti teman-teman perempuan mendekati kantin untuk berbelanja. Seolah Lena hanya ingin sendiri, merajut apa yang ia yakini perlu.

Tetapi Laki-laki yang tak jauh dari tempatnya duduk, sangat paham kepribadian Lena. Sebagai anak yang pun lebih banyak diam dan duduk menggambar di kelas, Pras paham apa itu sendiri. Pras paham soal sepi. Tidak semua orang hendak bergaul dengan dunia, bukan karena tak ramah, mungkin saja ia punya rencana, atau ia punya dunianya sendiri yang lebih indah, katanya.

Dan selalu akan ada yang tak terima dengan kepribadian dan karakter orang yang berbeda-beda. Teman-teman di kelas ini contohnya. Mereka selalu sama memperlakukan Lena dan saat memperlakukan Pras, menganggap aneh hanya karena mereka berbeda, atau minoritas, atau punya dunianya sendiri. Ketika Pras dianggap aneh sebab selalu tunduk menggambar, Lena dianggap aneh sebab selalu membawa sapu tangan, dan mengetik. Bagi mereka kedua murid pindahan itu adalah murid yang udik. Yang baru berkenalan dengan kota.

Lena sering menjadi bahan ejekan sebab selalu menawarkan benda itu, tiap kali bertemu dengan teman baru, atau ketika ia sedang menemukan kerumunan siswa.

“Sudikah kau menerima Sapu tangan ini? Aku sendiri yang menjahitnya.” Dan ia akan ditertawakan.

“Apa semua orang di Irian sana memakai itu Lena?”

“Hey, tentulah, di Irian sana kan tak ada tisu, makan saja kadang pakai daun, sehingga sapu tangan adalah hal yang mungkin mewah bagi mereka.” Celetukan yang mestinya menyayat hati.

“Sapu Tangan itu barang kuno Lena, kampungan. Kalau kau hendak banyak teman, ubahlah kebiasaan kau itu. Orang-orang menganggap kau aneh sebab kau membawa sapu tanganmu kemana-mana, mempromosikannya seperti barang mewah. Biar kuberi tahu Lena, kau ini bisa dianggap sakit tau.”

Tetapi Lena diam saja, tersenyum, seperti Purnama yang tenang. Ia hanya berbalas senyum dan terima kasih. Ia selalu ingat, untuk menyebar kebaikan, harus punya hati yang luas. Kata Ayahnya, Malaikat turun melihat niat-niat baik.

Sementara Pras, pun sama. Berusaha melapangkan hati, dan tetap melayangkan mimpi. Dengan gambar yang ia percaya bisa membawa perubahan. Seperti Lena, Pras pun kerab menahan diri. Ketika ia selalu disangkutpautkan dengan kebiasaannya yang menurut orang udik.

“Apa orang di Sumatra, kampungmu itu tak pernah melihat crayon? Melihat cat air, atau kuas? Kenapa kau seperti orang udik dengan benda-benda ini kawan? Kau selalu menggambar, dan menyendiri.”

Begitulah ejekan untuk Pras yang juga pindahan dari desa kecil di Pulau Sumatra.

***

Tetapi siapa yang sangka, mimpi menguatkan mereka. Meski dijuluki dua sejoli aneh. Yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri, Lena dan Pras seolah tak kapok.

Mereka pun sadar, semakin mereka diejek, semakin lingkungan tak memungkinkan, di situlah seninya perjuangan. Mereka tahu, diam dan sendirinya mereka bukanlah Karena kampungan, mereka hanya ingin membuktikan bahwa sendiri dan fokus pada sesuatu yang diminati, adalah bentuk protes terhadap kebersamaan yang kadang tak menghasilkan apa-apa.

“Apa kau juga menganggapku aneh kawan?” Tanya Lena suatu hari sebab hanya Pras yang tak pernah mengejeknya. Pras pun tertawa. Lena merasa bingung.

“Tidak kawan, Aku paham bagaimana rasanya dianggap aneh. Maka harusnya aku bersimpati, bukan mengejekmu.”

“Aku tidak butuh simpati Pras.”

“Lalu apa Lena?”

“Aku butuh dukungan.”

Perempuan itu lalu mengambil laptopnya dan bersedia memperlihatkan apa yang selama ini dia lakukan dan orang menganggapnya aneh.

“Memeluk Pohon?”

Lena mengangguk yakin. Menumbuhkan senyum sabit.

“Jadi, selama ini kau membuat blog dengan judul Memeluk Pohon, membuat artikel dan menuliskan opini soal kepedulian terhadap Pohon?”

Anggukan Lena semakin mantap.

“ Kau tahu, kenapa aku gencar mempromosikan Sapu tangan? Sebab kembali pada Sapu tangan, adalah suatu bentuk kepedulian terhadap pohon.”

“Oh ya? Kenapa bisa begitu?”

“Tentu, kau tahu Pras, anak-anak zaman sekarang tergantung sekali dengan pemakaian Tisu. Sementara, untuk menghasilkan 40 lembar Tisu, ada satu pohon yang ditebang.”

“Sungguh?”

“Iya, aku yang dulu sempat tinggal di Irian Jaya, merasa miris ketika melihat Pohon-pohon yang kaya di sana, sering ditebang. Aku tidak paham itu untuk keperluan apa. Tetapi bukankah sebagian besarnya, Pohon itu juga untuk membuat Tisu?”

“Kau memberiku Ide baru Lena!”

Pras lalu mengeluarkan karya-karyanya. Lukisan chat air, dan design gambar yang macam-macam, dan semuanya bertemakan pohon.

“Lihat.”

Lena terkejut, setengah tak percaya.

“Kau juga peduli pada pohon Pras?”

“Ya, bagaiamana tidak, aku telah menjadi saksi di kampung halamanku sana, bahwa Pohon adalah sumber kehidupan. Aku tak pandai berkata-kata, maka kutuangkan kritikanku ini dalam bentuk gambar, terhadap Pohon yang semakin liar ditebang di sana.”

Mata Lena berbinar. Dan tak berhenti mengagumi gambar-gambar Pras. Pras lalu menambahkan tulisan-tulisan indah di sebelah gambarnya yang penuh makna itu.

Sapu Tangan, satu bentuk kepedulian memeluk Pohon. Sebab Tisu, adalah benda yang bisa mematikan pohon. 40 lembar Tisu dibuat dari satu pohon.

“Luar biasa.” Respon Lena.

“Jadi, ketika aku menggunakan sepuluh lembar tisu atau bahkan lebih dalam sehari, itu artinya dalam empat hari pemakaian tisu, aku sudah menumbangkan satu pohon?”

Lena mengangguk sedih.

“Berikan aku sapu tanganmu kalau begitu.”

Mereka tertawa.

“Boleh Pras, asal kau mau menggambarkanku macam-macam ilustrasi soal Pohon, dan akan kusandingkan dengan artikelku. Lalu, kita posting ke media, kita buat artikel, kita gencarkan di blog. Atau perlu, kita boleh ikut lomba-lomba karya. Demi satu tujuan, memeluk Pohon-pohon kita.”

“Dengan penuh semangat Lena. Bahkan, aku sudah berencana untuk diet tisu juga seperti dirimu.”

Mereka lalu tertawa.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *