Generasi Milenial & Literasi Media[1]

Oleh: Adamry Muis[2]

Istilah “generasi milenial” begitu populer saat ini, dan sering dipakai dalam banyak percakapan, baik yang serius atau santai, mulai dari obrolan warung kopi, tongkrongan bahkan sampai ke forum-forum ilmiah. istilah ini seringkali digunakan dan terkadang menjadi pokok atau tema dari pembicaraan. Pembahasan terkait Generasi Millenial menurut banyak orang layak untuk menjadi main isuue, karena tentangnya berisi harapan dan optimisme untuk sebuah kehidupan yang lebih baik kedepannya. Apa pasal ?.

Millennials atau kadang juga disebut dengan generasi Y adalah sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980- 2000an. Maka ini berarti millenials adalah generasi muda yang berumur 17- 37 pada tahun ini. Millennials sendiri dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi. Generasi millennials memiliki ciri khas tersendiri yaitu, mereka lahir pada saat TV berwarna, handphone juga internet sudah diperkenalkan. Sehingga generasi ini sangat mahir dalam teknologi.[3]

Di Indonesia sendiri dari jumlah 260an juta penduduk yang telah tercatat, diperkirakan erdapat 81 juta merupakan generasi millenials atau berusia 17-37 tahun. Dan tentunya jumlah tersebut akan bertambah setiap waktunya seiring berjalannya waktu.

Pasca Generasi Y

Kemudian lahir generasi baru pasca Generasi Y yang dinamai Generasi Z. Mereka lahir dalam rentang pertengahan tahun 1990-an hingga pertengahan tahun 2000-an dan hadir lebih akrab dengan teknologi. Karakter mereka: lebih tidak fokus dari milenial, tapi lebih serba-bisa; lebih individual, lebih global, berpikiran lebih terbuka; lebih cepat terjun ke dunia kerja, dan lebih wirausahawan. Orang paling tua dari Generasi Z berusia 21 atau 22 tahun. Artinya, sebagian dari mereka sudah memasuki dunia kerja dan siap menginvasi generasi sebelumnya.

Analis sosial-cum-demograf Mark McCrindle dari grup peneliti McCrindle adalah orang pertama yang membuka topik ini: tentang nama generasi yang lahir di abad 21.

Dalam makalah Beyond Z: Meet Generation Alpha, ia mengungkapkan, generasi berikutnya akan dinamai sesuai abjad. Itu sebabnya mereka yang lahir setelah Generasi Z akan dipanggil Generasi A alias Generasi Alfa. Tahun kelahirannya dimulai dari 2010. Menurut McCrindle, Generasi Alfa—yakni anak-anak dari Generasi Milenial—akan menjadi generasi paling banyak di antara yang pernah ada. Sekitar 2,5 juta Generasi Alfa lahir setiap minggu. Membuat jumlahnya akan bengkak menjadi sekitar 2 miliar pada 2025.

Tantangan Generasi Millenial

Tidak dapat dipungkiri adanya bahwa setiap generasi pasti memiliki tantangan yang berbeda, dan sampai kepada pernyataan bahwa tak ada generasi yang sempurna. Layaknya individu, generasi juga memiliki ketidaksempurnaan. Kondisi sosial-masyarakat yang terbentuk akibat perkembangan zaman juga mengiring sebuah generasi kepada budaya baru yang akan menjadi tantangannya sendiri. Dan tak pelak Generasi Millenial juga merasakan hal itu.

Tantangan utama Generasi Millenial adalah munculnya kultur ‘hedonisme’ dalam kehidupan sehari hari mereka. Hedonisme yang menjurus kepada budaya konsumtif dan instan yang cenderung merugikan Generasi Millenial itu sendiri. Dengan kemampuannya di dunia teknologi dan sarana yang ada, generasi millenials belum banyak yang sadar akan kesempatan dan peluang di depan mereka.

Generasi millennials cenderung lebih tidak peduli terhadap keadaan sosial di sekitar mereka seperti dunia politik ataupun perkembangan ekonomi Indonesia. Kebanyakan dari generasi millenials hanya peduli untuk membanggakan pola hidup kebebasan dan hedonisme. Memiliki visi yang tidak realistis dan terlalu idealistis, yang penting bisa gaya. Budaya yang konsumtif dan kecenderungan terhadap hal yang instan sebenarnya bukanlah sesuatu yang tidak dapat disalahkan seutuhnya, bilamana Generasi Millenial mampu melakukan filterisasi dan membaca hal tersebut sebagai ‘peluang’ untuk kesejahteraan mereka secara pribadi maupun masyarakat banyak pada umumnya.

Millenial & Literasi Media

Generasi milenial adalah generasi yang melek tekhnologi. Tak sekedar mampu menciptakan dan mengoprasikan tekhnologi yang ada (seperti yang juga dapat dilakukan oleh Generasi X), melainkan mereka juga seharusnya dianugerahi skill dalam hal kecerdasan memanfaatkan serta mengelola issue yang bertebaran di media-media yang hadir dalam kehidupan sehari hari mereka. Kecerdasan atau kemampuan tersebut disebut Literasi Media.

Dalam sebuah definisi, disebutkan bahwa Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media (termasuk anak-anak) menjadi sadar (melek) tentang cara media dikonstruksi (dibuat) dan diakses.[4]

Nah, definisi tersebut diatas sangat layak untuk disiskusikan bersama. Literasi media menjadi hal yang begitu penting dan sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat kita saat ini. Maraknya Hoax (pemberitaan palsu) dan keberadaan sosial-media sebagai lalu lintas baru arus informasi bagi khalayak banyak, menjadikan literasi media sebagai suatu kebutuhan dan keharusan dalam menjaga keutuhan dan keharmonisan bermasyarakat. Karena arus besar dan utama Hoax hari ini terdapat pada sosial-media.

Lalu katainnya tema ini dengan sumpah pemuda ?

Mari kita diskusikan lebih lanjut !

 

[1] Disampaikan dalam Diskusi Kepemudaan, memperingati Hari Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca & Hari Sumpah Pemuda di Perpustakaan Umum Enrekang, 28 Oktober 2017.

[2] Pengajar di PPM Rahmatul Asri, Maroangin, Kab. Enrekang dan Penggiat Sosial Media.

[3] Sumber: https://rumahmillennials.com/siapa-itu-generasi-millenials/

[4] Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Literasi_media

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *