Suara yang Terputus

Malam Itu menjadi pertanda bagi si Liar. Ia seakan memahami bahasa manusia yang terdengar melalui pengeras suara di masjid. Barangkali ia berpikir, mungkin inilah malam terakhir untuknya. Maka disantaplah segala yang terlihat di kebun-kebun warga. Langkahnya pun keluar dari kegelapan hutan, mengorok tak karuan, mengacak-acak tanah.

“Bu, suara apa itu?” Tanya Rangga dengan penasaran

“Ah, tidurlah Nak. Itu suara binatang yang sedang mencari makan”

Darma tahu anaknya suka bertanya. Bahkan ia kadang tak sanggup melayani pertanyaan-pertanyaan anaknya yang begitu aktif.  Darma memahami usia anak yang menginjak 4 tahun, akan mencerap segala hal yang baru dilihat dan didengarnya. Karenanya ia begitu hati-hati memberikan penjelasan kepada Rangga.

“Binatang apa namanya, Bu?

Darma tak menjawab. Ia kembali mengajak anaknya tidur. Lantas menawarkan sebuah dongeng yang sayangnya tak diiinginkan anaknya. Tidak sekali itu saja, Rangga selalu menolak didongengkan. Entah apa yang ada dipikiran anaknya. Namun Darma tak memaksakan diri mendongeng. Sekalipun Darma punya banyak stok cerita menarik. Aneh bagi Darma, kemampuannya mendongengnya tak bisa ia gunakan untuk anaknya sendiri. Padahal ia selalu membayangkan keceriaan anak-anak didiknya kala mengisi jam mendongeng di PAUD Bestari.

Rangga selalu merengek ingin mendengarkan suara binatang. Pernah Rangga protes pada Ayahnya, saat tiruan suara ayam berkokok dicontohkan kepadanya. Katanya, ayah bukan ayam. Justru ia meminta agar ayahnya melepaskan ayam yang terkurung di kandang.

Tak hanya Darma, Sabri  juga merasa ada yang berbeda pada Rangga. Sabri dan Darma mulai menyadari anaknya senang mendengarkan suara binatang. Dan tak mau mendengarkan suara binatang lewat rekaman dan televisi. Keduanya menganggap permainan Rangga itu merumitkan sekaligus merepotkan.

Sabri setiap harinya bekerja sebagai penyuluh dinas pertanian. Ia rutin melakukan kunjungan ke desa-desa. Apalagi kalau bukan untuk memberikan penyuluhan kepada kelompok tani dan warga yang ditujunya. Sebagai seorang penyuluh, ia tahu bahwa pekerjaannya untuk membimbing petani. Walau ia sering berkeluh kala petani-petani tak mengikuti cara berpikirnya dan apa yang ia suluhkan. Pernah ia membawa buku-buku saat penyuluhan, ia justru mendapat sindirin dari warga. Katanya, buku tidak bisa digunakan membajak lahan.

Kini ia merasa dilemma dalam profesinya, kala petani mengeluhkan hama-hama yang menggangu lahan pertanian warga. Terutama binatang babi yang dianggap banyak merugikan pertanian. Ia kadang bingun menjawab seperti apa, sebab warga yang dihadapinya menganggap babi harus dimusnahkan. Meski ia tidak setuju dengan pendapat warga, ia tak lantas menyampaikan responnya. Paling mengarahkan petani agar memikirkan babi tak memasuki kebun. Sayangnya, petani tak pernah puas dengan ajakan seperti itu.

Di hari minggu yang santai, sepanjang harinya tak bisa keluar dari rumahnya. Sabri berat hati untuk berangkat bersama Parrangan’. Bukannya ia betul-betul melawan orang-orang yang hobi dengan aktivitas itu. Sebab pertanyaannya pun belum tunai terjawab. Mengapa orang sangat liar terhadap binatang? Ia hanya bisa mengandalkan mitos bahwa tak baik turut membasmi binatang saat istrimu anakmu belum dewasa. Sebenarnya tak percaya dengan mitos itu. Karena hanya memanfaatkan mitos untuk menghindar, sembari berpikir sendiri.

Pagi itu, Rangga pun terus bertanya pada ayahnya. “Ayah mau kemana orang-orang itu?”

“Yang mana?”

“Yang bawa tongkat di punggungnya”

“Hmm, itu mereka ada yang mau dikeja di kebun milik juragannya”

“Banyak begitu yah”

“Iya, namanya juga kompak, sudah dari dulu”

“Kalau begitu ayah gak kompak yah”, serunya dengan aneh.

Menjelang malam hari Rangga pun kembali menanti suara si Liar. Entah bagaimana ia tidak bisa terlelap malam itu, yang pasti suara yang dinanti tak muncul lagi. Sementara Sabri dan Darma tahu, hari itu binatang tersebut terusir dari habitatnya.

Sabri mulai berpikir, mungkin tidak akan ada lagi hutan di kampungnya. Semuanya telah menjadi kebun, dan paradigma yang tertanam dalam benak warga, ialah perkebunan tak boleh diganggu oleh hama. Rasanya tidak ada tempat yang tepat bagi binatang itu. Bahkan mungkin dalam pikiran dan keyakinan orang-orang. Mereka melepas rantai binatang pemburu yang terikat untuk memutus rantai yang lain. Saling beradu, demi kepentingan sepihak manusia.

Kini hutan milik pemerintah itu menjadi kebun yang begitu luas. Menjadi padang untuk binatang yang lebih menguntungkan. Dan tak seperti Kebun Raya yang menjaga keseimbangan dan menggiatkan konservasi aneka ragam flora dan fauna.

“Rangga, belum tidur nak?”, Darma menghampiri

“Iya bu”

Saat itu Rangga pun mendengar suara di luar rumah. Ia ragu dengan suara itu. Tapi mungkin pikirnya, setidaknya ia mendengar suara yang mulai agak berbeda selama ini. Ia pun terlelap.

Malam itu, Sabri memeluk Darma dengan kencang. Ia berjanji akan menjauhkan anaknya dengan suara yang dibuatnya malam itu.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *