Negara dan Perempuan

Ia di dalam kamar. Pada dua sudut kamar itu ada speaker yang darinya terdengar lagu Fix You, Coldplay. Menusuk masuk ke dalam telinganya lalu menjelajahi otaknya yang akhir-akhir ini dipenuhi perkara cinta yang ruwet. Lagu itu seolah menekan tombol pada otaknya yang tertulis, “Jika diaktifkan, maka kau sedih.” Apa boleh buat, tombolnya tertekan. Maka ia sedih dengan tensi yang sangat tinggi. Air matanya ikut mengalir saat lirik lagu tiba pada,
Tears stream down your face. When you lose something you cannot replace...”

Ia begitu merasa kehilangan. Sebagian dirinya ada pada perempuan yang sedang ia ratapi bersama lagu tersebut. Ia tahu betul ketika memutuskan untuk menyerahkan sebagian dirinya kepada perempuan itu, bahwa ketika perempuan itu pergi dari hidupnya, pada saat yang sama ajalnya juga mendekat. Namun cinta begitu kejam padanya, ia merenggut kesadaran lelaki itu.

Sudah bertahun-tahun perempuan itu pergi dari hidupnya. Hanya ada setumpuk kenangan asin yang tersisa pada lelaki itu; saat perempuan itu melambai padanya bersama seseorang yang kini ia sebut sebagai kekasih. Derita yang ia alami tak mungkin disembuhkan oleh waktu yang telah ia lalui selama beberapa tahun setelah kepergian perempuan itu.

Masih larut dalam kebisingan Fix You juga kesedihan mengenang perempuan itu, pikirannya mulai ambivalen. Pada saat yang sama ia juga hampir pingsan memikirkan situasi politik kenegaraan. Pada saat itu, negara bising karena debat politik. Pemilihan presiden sebentar lagi. Petahana ingin mempertahankan kekuasaan, sedang oposisi ingin merebutnya. Pikirannya kacau. Ia tak bisa membagi mana yang harus diatasi lebih dahulu; negara atau perempuan.

Ia mematikan speakernya. Mengambil beberapa helai tisu untuk menyeka air mantanya. Menghindari pikiran ambivalennya kemudian beranjak ke sekret organisasi kemahasiswaan tempat ia sering berdiskusi. “Saat ini negara lebih penting. Nanti saja kuhubungi. Kau bisa mengangkat telpon, kalau presiden tidak,” ucapnya pada diri sendiri, meyakinkan.

Ia adalah ketua organisasi kemahasiswaan. Organisasi yang dibentuk untuk menanggapi segala macam urusan kenegaraan. Dari isu keadilan sampai cara memakai celana dalam. Dalam organisasi itu, banyak terkumpul mahasiswa dari beberapa kampus. Hampir tiap minggu mengadakan demonstrasi di jalan.

Sebelum organisasi itu terbentuk, ia sangat aktif melakukan propaganda di tiap-tiap kampus. Kondisi negara sangat membuatnya resah. Banyak kebodohan yang menurutnya sangat tidak perlu untuk dilakukan oleh pemerintah; dicabutnya subsidi, perampasan tanah, reklamasi, sampai kebangkitan PKI. “Semua itu akan membahayakan stabilitas kejiwaan rakyat, apalagi kejiwaanku,” ucapnya suatu waktu saat berdiskusi bersama temannya.

Hal yang paling membuatnya resah adalah kebangkitan PKI. Ia berpikir, jika negara terus menerus mengungkit itu tanpa mengetahui inti persoalan, maka seluruh toko buku yang menjual buku-buku kiri akan diratakan dengan tanah. Ia tak ingin itu terjadi. Namun bukan hanya toko buku yang ia khawatirkan, melainkan kamarnya yang penuh dengan buku kiri. Berwarna merah pula.

Maka ia menemukan semacam magnum opus pada pikirannya. Mulai melakukan propaganda pada tiap-tiap kampus. Isi propagandanya hanya satu; mahasiswa harus bersatu! Bersama beberapa temannya ia membuat pamflet untuk disebar. Mereka gerilya dari kampus ke kampus. Hari ke hari, minggu ke minggu, namun yang bergabung hanya segelintir mahasiswa. Hingga terjadilah kejadian nahas yang menimpa temaanya.

Saat itu seorang temannya masuk penjara karena hal sepele; celana dalam. Ia menuntut, bersama lima massa, untuk membebaskan temannya itu. Temannya sedang buang air besar di toilet terminal. Sebelum masuk, toilet itu dipenuhi orang yang antre. Tepat dibelakang temannya itu berdiri seorang petugas keamanan yang juga ikut antre. Setelah buang air besar, ia dipukuli oleh petugas keamanan yang antre dibelakangnya tadi.

“Kau PKI kan?” Ucap petugas keamanan itu setelah memukul.

Ia menjawab terengah-engah, “bukan pak.”

“Ah, jangan bohong! Celana dalammu tertinggal di toiltet. Di situ ada lambang PKI.”

Sejak kejadian itu, ia semakin gencar menyebarkan pamflet ke tiap-tiap kampus untuk mempropagandakan agar presiden diganti. Menurutnya, kejadian celana dalam yang menimpa temannya begitu melukai makna kebebasan. Paling tidak kebebasan bercelana dalam. Dengan segera pamflet yang ia sebar tak menjadi sekedar pamflet. Massa terkumpul. Hingga terbentuklah organisasi yang ia sendiri menjadi ketuanya.

***

Ia tiba di sekret tanpa seorang pun disana. Hampa bagaikan hatinya. Ia tak punya pilihan ingin pergi kemana jika di sekret tak ada orang. Jika waktunya siang, mungkin ia akan pergi ke perpustakaan. Namun ia tahu bahwa tak ada perpustakaan yang buka pukul dua malam.

Maka dengan susah payah ia menekan tombol ponselnya. Mencari kontak yang bernama “Sebagian Dari Diriku.” Itu nama yang ia tulis pada kontak ponselnya untuk perempuan dambaannya. Meski jarinya serasa dibebani batu seberat lima ton, ia tetap menelpon perempuan itu.

Tak ada jawaban. Ia mengulangi lagi. Masih tak ada jawaban. Ia masih mengulang. Tetap tak ada jawaban. Sudah ribuan kali bunyi tuuut … tuuut … tuuut pada ponselnya, responnya juga sama; tak ada suara perempuan lain selain, “nomor yang anda tuju tidak menjawab, silakan tinggalkan pesan setelah nada berikut.”

Ia semakin gelisah. Pada siapa ia harus membagi beban hidupnya yang dipenuhi pikiran tentang negara dan perempuan. Diantara banyaknya pikiran yang menyertai lelaki itu, didalam otaknya tiba-tiba terdengar suara, “Don’t carry the world upon your shoulders …

“Benar, aku tak tak perlu memikir semua itu,” ia meyakinkan diri, lalu pulang ke rumahnya.

***

Ia sedang berdua dengan perempuan itu, di atas motor setelah perempuan itu melihat ponselnya yang dipenuhi dengan panggilan tak terjawab. Perempuan itu menelponnya. Perempuan itu minta dijemput. Maka lelaki itu menjemput tanpa pikir panjang karena yakin bahwa itu rejeki yang tak bisa ditolak.

“Mengapa pacarmu tak menjemput?” kata lelaki itu di atas motor.

“Ia sudah pulang.”

Lelaki itu berpikir berpikir bahwa ia dihubungi karena terpaksa. Seandainya pacar perempuan itu tidak pulang, maka ia tidak dihubungi. Namun ia menolak untuk mengatakannya pada perempuan itu. Ia memutuskan untuk menikmati suasana yang menurutnya begitu romantis bersama musik di dalam otaknya yang mendengung, “berhasil, berhasil, hore …”

Percakapan mereka begitu alot. Si perempuan mengungkapkan ia tak betah dengan pacarnya dan menyesal karena telah meninggalkan lelaki itu.

“Aku begitu bodoh saat menginggalkanmu,” keluh perempuan itu dengan penyesalan.

“Tapi aku lebih bodoh karena mengharapkan orang yang bodoh sepertimu.”

“Tidak. Aku paling bodoh karena mengharapkan orang yang lebih bodoh sepertimu. Ingin kembali pada orang yang lebih bodoh yang rela berpanas-panasan demi membebaskan temannya yang masuk penjara karena celana dalam.” Percakapan mereka seperti contoh kalimat superlatif.

Lelaki itu menahan keinginannya untuk bertanya mengapa perempuan itu tak memutuskan pacarnya saja jika ia menyesal. Ia tak ingin merusak suasana romantis itu. Ia hanya berkata, “Yang penting aku bisa bersamamu sekarang.”

Rumah perempuan itu sudah dekat. Percakapan yang isinya rekonsiliasi tiba-tiba menuju ke arah yang lebih politis.

“Aku sudah muak dengan presiden. Semoga ia tak menang lagi,” ucap perempuan itu.

“Aku lebih muak.”

“Tidak. Aku paling muak. Lebih baik kita hidup pada masa orde baru. Enak.”

“Jangan. Ada dua yang harus terjadi di dunia ini. Pertama, kau harus kembali kepadaku. Kedua, Indonesia jangan kembali pada masa orde baru. Kau ingin bertemu denganku di penjara?”

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *