Rasionalitas di Balik Upacara Tradisi Maccera Manurung di Desa Pasang

Hampir tiap daerah yang ada di Bumi Nusantara ini memiliki suku dan etnis dengan budaya tradisi yang berbeda-beda. Sebagai salah satu bagian dari pulau Nusantara, dari dataran tinggi Kabupaten Enrekang (Massenrempulu), Sulawesi Selatan, Desa Pasang hadir sebagai salah satu daerah yang juga tidak luput dari budaya tradisi yang terbilang cukup menarik dan unik. Desa Pasang sendiri merupakan desa yang secara administratif terdapat di Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang, sekitar 20 km dari kota Enrekang. Selain dikenal sebagai ‘surga’ bagi burung bangau, Pasang juga dikenal sebagai desa yang masih menjaga dan melestarikan budaya-budaya tradisi sebagai aset bangsa yang memiliki nilai adiluhung. Salah satu kebudayaan tradisi (ritual tradisi) yang sampai saat ini masih eksis di Desa Pasang, yang sekaligus menjadi salah satu identitas kultural etnis Massenrempulu adalah ritual atau upacara tradisi Maccera Manurung. Upacara tradisi inilah yang selanjutnya akan dibincangkan dalam tulisan ini.

Pada dasarnya, upacara tradisi Maccera Manurung ini tidak hanya dilaksanakan di Desa Pasang saja, melainkan masih ada beberapa desa tetangga yang kerap melaksanakannya, seperti Kaluppini, Simbuang, dst., yang notabene menurut warga masyarakat setempat tidak lain merupakan rumpun keluarga dari Desa Pasang itu sendiri. Adapun yang membedakan antara upacara tradisi Maccera Manurung di Desa Pasang dengan yang dilakukan di desa-desa lainnya hanya dari segi waktu, prosesi, dan benda-benda pusaka (benda Manurung) sebagai peralatan atau properti simbolik dalam pelaksanaannya. Dari segi waktu misalnya, di mana khusus untuk tradisi Maccera Manurung di Desa Pasang, waktu pelaksanaan akbarnya dilakukan satu kali selama dua tahun.

Suasana Upacara Tradisi Maccera Manurung di Desa Pasang (Foto: Suherman)

Istilah Maccera Manurung ini terdiri atas dua suku kata, yakni Maccera dan Manurung. Sebagaimana diterangkan oleh Muh. Yunus Hamid dan Nur Alam Shaleh dalam Bosara (Media Information Sejarah dan Budaya Sulawesi Selatan), bahwa keduanya masing-masing memiliki arti, di mana Maccera diartikan sebagai pemotongan hewan dalam pelaksanaan upacara adat dan Manurung diartikan sebagai sesuatu (orang) yang turun dari kayangan, atau sesuatu yang diturunkan langsung dari Tuhan. Jadi, dapat dikatakan bahwa Maccera Manurung merupakan upacara adat berupa pemotongan hewan untuk memperingati jasa-jasa To Manurung (To = orang) dan rasa syukur kepada Allah Swt. Pengertian tersebut senada dengan pengertian yang diajukan oleh Musdalifah Chanrayati Dahyar yang melakukan penelitian pada tahun 2016 dengan judul Tradisi Maccerang Manurung di Kaluppini Kabupaten Enrekang (Studi Kebudayaan Islam), bahwa dalam konsep budaya masyarakat Masenrempulu upacara ritual terhadap jasa-jasa To Manurung disebut Maccera Manurung. Dalam konsepsi itu terkandung pengertian tentang aktivitas sosial-religius (budaya) dengan mempersembahkan sesaji kepada To Manurung agar warga masyarakat memperoleh berkah dari Allah Swt.

Ahli teologi Robertson Smith (1846-1894) pernah mengatakan bahwa upacara religi atau upacara-upacara persembahan berupa penyajian hewan ternak, terutama darahnya, kepada para leluhur atau makhluk supranatural lainnya kemudian memakan sendiri sisa dagingnya dan atau darahnya, pada intinya merupakan suatu aktivitas yang dilakukan sekelompok masyarakat/komunitas untuk mendorong solidaritas dengan para leluhur atau makhluk supranatural yang dipuja. Artinya, objek pemujaan itu dipandang sebagai bagian atau warga komunitas yang bersangkutan walaupun ia dianggap lebih (istimewa). Itulah sebabnya dalam aktivitas religi berupa upacara-upacara bersaji biasanya mengandung unsur kegembiraan, khidmat, dan sekaligus sakral. Dalam upacara taradisi Maccera Manurung di Desa Pasang, hal tersebut dapat dicermati dari prosesi ritual yang di dalamnya terdapat fenomena-fenomena yang menunjukkan unsur-unsur kegembiraan, khidmat, dan juga fenomena yang sakral.

Lebih lanjut terkait tradisi Maccera Manurung ini, sebagaimana disampaikan oleh salah satu tokoh masyarakat di Desa Pasang pada tanggal 12 desember 2019 lalu (saat itu sedang berlangsung ritual tradisi Maccera Manurung di Desa Pasang), bahwa “sebenarnya inti dari ritual tradisi Maccera Manurung ini tidak lain adalah penyampaian pesan-pesan moral yang dibawa oleh To Manurung kepada warga masyarakat, dan sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan doa agar kita sebagai manusia selamat dan sukses dalam aktivitas sehari-hari.” Adapun pesan-pesan moral yang dimaksud di awal, terkandung dalam ritual yang disebut massajo’, yang dilakukan oleh pemangku adat yang telah ditetapkan dengan gerakan ritmis tertentu, disertai dengan ayunan tangan yang memegang parang sambil membacakan sajo’ di depan Tau-Tau sebagai personifikasi To Manurung.

Jika ditelaah lebih cermat fenomena sosial-religius upacara tradisi Maccera Manurung di Desa Pasang ini, secara harfiah dapat dikatakan bahwa fenomena tersebut merupakan salah satu manifestasi dari apa yang disebut Edward Burnett Tylor (1832-1917) sebagai kepercayaan “animisme”, yakni suatu kepercayaan, atau lebih kolosal disebut agama, yang dianut oleh manusia atau masyarakat primitif. Untuk menghindari kesalahpahaman, perlu diterangkan terlebih dahulu bahwa istilah-istilah seperti animisme dan primitif di sini dimaksudkan bukan sebagai gambaran kebudayaan atau pola pikir manusia yang kuno atau kolot, kebodohan primordial, atau taraf mental yang rendah, yang secara konotatif bermakna negatif, melainkan sebuah penggambaran tentang kebudayaan manusia atau masyarakat yang mengakui dan menghormati jiwa-jiwa dan atau roh-roh makhluk supranatural-transendental (ciri khas dari kebudayaan bangsa Timur). Oleh Mircea Eliade (1907-1986) disebutnya sebagai kebudayaan manusia religius-arkhais.

Satu hal yang menarik terkait tradisi Maccera Manurung ini, di mana terkadang muncul nada-nada fals dari beberapa oknum atau katakanlah kalangan masyarakat yang beranggapan bahwa hal demikian sangat tidak rasional, tidak masuk akal, dan lain sebagainya. Nada-nada fals tersebut jelas sangat bertolak belakang dengan apa yang pernah dikatakan oleh Tylor bahwa para penganut agama atau kepercayaan primitif sebenarnya juga memiliki pikiran yang rasional, dan pandangan-pandangan mereka juga sangat masuk akal. Kemungkinan besar pemilik nada-nada fals tersebut tadi adalah mereka yang memiliki pemikiran ala saintifik-modern yang kemudian melihat dan menerjemahkan secara gamblang fenomena Maccera Manurung sesuai pemikirannya, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan sesuatu yang tidak bersifat ilmiah dalam tradisi Maccera Manurung pun dianggap tidak rasional dan tidak masuk akal. Oleh karena itu, nada-nada fals tersebut memang perlu ditinjau ulang.

Sebagai bahan pertimbangan untuk menjernihkan persoalan tersebut, dapat kiranya diajukan sedikit pendapat Wilhelm Schmidt (1868-1954) yang pernah mengatakan bahwa kepercayaan suku-suku bangsa primitif tentu juga memiliki akar pemikiran yang logis, dalam hal ini kepercayaan itu merupakan hasil pemikiran logika sebab-akibat, yang muncul dari suatu kebutuhan intelektualistik manusia untuk mengetahui asal dan sebab-musabab segala sesuatu. Dipertegas oleh Eliade bahwa manusia religius-arkhais memiliki pemikiran bahwa segala sesuatu itu ada sebabnya. Penderitaan misalnya, entah sebagai akibat dari pelanggaran norma-norma hidup, atau akibat dari perbuatan musuh, dan atau akibat dari kemarahan para dewa dan kehendak para Dewa Tertinggi. Singkatnya, dalam alam pikiran manusia religius-arkhais, tidak ada sesuatu, baik itu penderitaan maupun kebahagiaan yang datang tanpa sebab yang dapat diterangkan. Artinya, jika dicerna lebih mendalam, pemikiran manusia atau masyarakat primitif tersebut juga memiliki kesamaan dengan pemikiran-pemikiran saintifik-modern, yakni dari pola dasarnya yang selalu berdasarkan pada persoalan sebab-akibat (hukum kausalitas).

Pendapat tersebut di atas juga dapat diperkuat lagi oleh apa yang pernah dialami Lucien Levi Bruhl (1857-1939). Cendekia Prancis ini juga pernah menganggap bahwa mentalitas primitif memiliki struktur dan pola pikir yang tidak logis, yang kemudian disebutnya sebagai “pra-logis”. Akan tetapi, setelah melakukan penelitian lebih lanjut, Bruhl kemudian menarik kembali pendapat awalnya itu, lalu kemudian Ia mengakui bahwa alam pikiran primitif pada dasarnya memiliki pola-pola yang berbeda dengan pemikiran saintifik-modern, namun pada akhirnya, dalam kenyataan sesungguhnya baik itu kebudayaan primitif maupun kebudayaan modern, keduanya memiliki gairs-garis dan susunan-susunan logis yang sama. Artinya, alam pikiran manusia atau masyarakat primitif juga serba logis, mereka memiliki metode dan pendekatan yang tak kalah praktis-teknis dengan pendekatan manusia atau masyarakat modern. Cuma saja, metode dan pendekatannya berbeda dengan metode dan pendekatan saintifik-modern, karena tentu metode dan pendekatan yang digunakan juga sesuai dengan ide, gagasan, alam pikiran, atau katakanlah kebudayaan manusia atau masyarakat pendukungnya. Antropolog Prancis Claude Levi-Strauss (1908-2009)  dalam bukunya Mitos dan Makna, Membongkar Kode-Kode Budaya juga pernah menyinggung perihal ini, dengan merumuskan hipotesis bahwa pemikiran orang-orang primitif memang pada dasarnya berbeda dengan pemikiran saintifik, namun dalam beberapa hal masih tetap inferior. Perbedaannya hanya terletak pada proses dan atau cara memperoleh pemahaman tentang alam semesta.

Menurut T. Jacobs, pada dasarnya bila ritual agama semacam ini dipandang hanya dari segi bentuknya, memang secara harfiah hanya merupakan hiasan atau semacam alat saja. Akan tetapi intinya yang secara hakiki tidak lain adalah “pengungkapan iman”. Itulah sebabnya, upacara atau ritual-ritual religi selalu dilaksanakan pada tempat dan waktu yang khusus, dengan berbagai macam peralatan yang kesemuanya itu bersifat sakral. Hal tersebut dapat dilihat dalam peristiwa atau fenomena upacara tradisi Maccera Manurung di Desa Pasang, di mana secara hakiki upacara tersebut juga merupakan pengungkapan iman warga masyarakat Desa Pasang sesuai keyakinan dan kepercayaannya. Adapun tempat atau lokasi, waktu, dan peralatan atau properti upacaranya juga tidak sembarangan, melainkan memiliki ketentuan-ketentuan tersendiri secara khusus. Sekiranya ini juga merupakan salah satu manifestasi dan sekaligus menjadi ciri khas kebudayaan manusia atau masyarakat religius-arkhais, yang memiliki gagasan atau konsep tentang realitas atau dunia yang terdiri dari dua macam yakni yang sakral dan yang profan.

Singkatnya, jika ingin memahami rasionalitas di balik fenomena-fenomena religius seperti upacara tradisi Maccera Manurung di Desa Pasang, kita tidak dapat menggunakan metode dan pendekatan rasional-empiris sebagaimana dipahami oleh manusia modern, karena bagaimanapun juga fenomena-fenomena religius dalam kebudayaan primitif itu juga memiliki rasionalitas yang tentunya dapat dipertanggungjawabkan secara logis oleh masyarakat pendukungnya. Artinya, makna inti atau hakikat dari fenomena religius seperti Maccera Manurung di Desa Pasang hanya dapat dimengerti melalui pendekatan yang melibatkan sikap apresiasi, simpati, dan empati terhadap fakta religius tersebut. Atau dengan kata lain, kita baru dapat mengerti dan menerima hal tersebut jika kita mengerti pola pikir para pelaku serta agama atau kepercayaannya. Sebagai bahan refleksi, perlu kita merenungkan kembali  apa yang pernah diperingatkan oleh Levi-Strauss bahwa, terkadang memang manusia modern menganggap perilaku manusia atau masyarakat primitif itu kekanak-kanakan, tanpa disadari bahwa orang-orang primitif itu juga menilai sikap manusia modern sebagai serba kekanak-kanakan karena manusia modern selalu mempertanyakan sesuatu yang telah diterangkan kepadanya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *