Melawat Tradisi Maccera Manurung di Buttu Pasang

Bunyi gendang di kejauhan masih sayup terdengar saat kami tiba di Desa Pasang. Tanpa pikir panjang, saya, Aidil Palat dan Suherman Suhe, memarkir motor dan segera bergegas.

Pagi itu, Kamis, pada pekan kedua Desember 2019, Prosesi Adat Maccera Manurung To Pasang dimulai dengan melakukan napak tilas untuk mengingat leluhur To Pasang yang dipercaya menghilang di Buttu Pasang.

Baru beberapa ratus meter, saya dan Palat sudah ngos-ngosan mengejar rombongan para tetua adat yang membawa Tau-tau, atau simbol leluhur To Pasang, sementara Suhe sudah di depan terus mengejar.

Di perjalanan, kami juga menjumpai puluhan warga, baik warga lokal dan warga dari luar Enrekang yang turut mendaki ingin mengikuti prosesi adat itu. Walau dengan napas ngos-ngosan, warga menghibur diri dengan saling berbalas sahutan dengan berteriak melepas lelah.

Rombongan membawa Tau-tau ke puncak Buttu Pasang

Saya pun mendapati Winda, warga Sidrap, yang menghibur dirinya dengan menghitung langkahnya.

“Satu, dua, tiga, satu, dua tiga,” ucapnya lirih.

Winda, yang baru pertama mengikuti acara ini datang bersama keluarganya.

“Saya diajak ibu yang sudah sering ikut acara ini. Ada juga tante dan keluarga lain yang ikut bersama, ” kata Winda.

Akhirnya, saya sampai juga di tempat yang diyakini sebagai tempat peristirahatan pertama leluhur To Pasang. Tetua adat masih memimpin doa dan melakukan ritual. Di tempat itu, leluhur To Pasang diyakini meminum air kelapa sebelum melanjutkan lagi perjalanan mendaki Buttu Pasang.

Gendang kemudian dibunyikan. Para tetua adat mengambil posisi dan berbaris melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan, gendang terus dibunyikan.

Setelah mendaki cukup panjang, akhirnya, rombongan tetua adat tiba di puncak. Mereka memasuki areal acara yang sudah disiapkan.

Tau-tau, simbol leluhur to Pasang, yang diikat di bambu, di tempatkan di tengah, di pohon yang sudah disiapkan. Para tetua adat mengambil tempat masing-masing. Prosesi ritual adat pun dimulai.

Puluhan warga duduk melingkari tempat ritual. Saya dan Suhe mengabadikan prosesi acara.

Beberapa warga, yang menjadi bagian dari ritual acara Maccera Manurung, mulai memasuki areal acara membawa kebutuhan-kebutuhan ritual, di antaranya beras, beras ketan hitam dan ayam berbulu merah.

Setelah doa-doa dipanjatkan, beberapa tetua adat menuju ke tempat yang diyakini leluhur mereka menghilang dan meninggalkan benih padi sebagai jejaknya di dekat batu besar di puncak Buttu Pasang.

Di dekat batu besar, setelah tetua adat memanjatkan doa, dua ekor kambing disembelih. Kemudian, dibunyikanlah petasan sebagai tanda agar panitia adat di tempat utama di pusat Desa Pasang segera menyiapkan makanan untuk penjamuan.

Setelah prosesi pemotongan kambing, pemotongan ayam dan penyucian simbol Tau-tau, prosesi Maccera Manurung di Buttu Pasang berakhir. Rombongan adat kemudian menuruni gunung dan merayakan kegembiraan bersama-sama, saling bersahut-sahutan.

Prosesi adat di Buttu Pasang adalah awal dari acara Maccera Manurung. Setelah prosesi itu dilakukan, warga merayakan kegembiraan dengan bermain ayunan raksasa dan membunyikan lesung atau mappadendang.

Pesta adat Maccera Manurung ditutup esok harinya dengan mendengat Pappasan Sajo atau pesan-pesan leluhur yang dibacakan para tetua adat.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *