Misteri Salassang Tande Salu Ongko

Sejak semalam kami telah bersiap-siap untuk mengisi hari libur dengan sebuah petualangan unik. Anggap saja destinasi wisata tradisional lokal. Sebuah perjalanan yang melelahkan menyusuri hutan lebat dan sungai kecil yang terkenal angker. Konon dari cerita turun temurun ada sebuah perkampungan gaib yang sangat ramai di hutan tersebut, tak sedikit orang yang pernah tersesat dan mengalami kejadian kejadian tak masuk akal. Pengalaman mistis yang sukar dicerna akal.

“Amir, kok kamu masih santai saja? semua teman telah menunggu di jembatan tua itu,” tanya Indra kepadaku yang masih asyik minum kopi dan merokok di teras rumah.

“Ah, yang benar, tadi barusan Adi nelpon, katanya mereka masih di warung pak Rusdi,” jawabku dengan sedikit heran. Mungkin Indra ini lagi bercanda, maklumlah dia itu humoris.

“Benar, saya tidak bohong, tadi sepulang dari kandang kambingku yang di kebun saya melihat mereka semua sudah bersiap, saya sempat bilang ke mereka, tunggu saya dan Amir, mereka pun mengangguk,” bela Indra dengan mata melotot berusaha meyakinkanku.

“Ah sudahlah, kita tunggu saja mereka di sini,” sangkalku menunjukkan ketidak-percayaanku pada Indra.

Tak berapa lama Adi, Pak Rusdi, Viki, dan Najam terlihat dari ujung belokan berjalan tergopoh-gopoh membawa semua perlengkapan perbekalan kami.

“Nah tuh kan Indra, cerdas sedikit kalau mau berbohong,” pungkasku yang membuat Indra terlihat bingung.

“Tapi…tapi…,” elak Indra.

“Ah sudahlah, sebelum bogem mentah ini membuatmu gagal ikut!” kataku agak jengkel.

Yah, aku adalah seorang preman di kampung ini, tak ada yang berani ketika aku sudah menunjukkan kemarahanku.

“Bagaimana Amir, sudah siap?” teriak Pak Rusdi dari pinggir jalan.

“Sudah, oh yah semuanya ke sini kita bagi tugas,” panggilku dan semua menghampiri.

“Pak Rusdi sebagai penunjuk jalan berada paling depan, diikuti Viki, Najam, Adi, Indra dan saya di belakang, tombak saya yang pegang, semua siap?” komandoku.

“Siaaap!” teriak mereka serentak.

Di jembatan tua itu kamipun melanjutkan perjalanan melalui sungai, semua mata tertuju ke air sungai yang mengalir jernih. Tak lupa kami menyingkirkan daun yang jatuh ke air, siapa tahu di bawahnya ada ikan. Setiap pergerakan sekecil apapun di air akan kami selidiki. Dengan tongkat, Viki dan Najam berusaha mengaduk aduk air yang dicurigai ada ikan di dalamnya, sedang Adi dan Indra bersiap dengan parang yang terhunus. Saya yang berjalan paling belakang mengawasi semuanya dengan tombak sepanjang dua meter. Mata tombak yang menyerupai mata anak panah siap saya hujamkan jika ada ikan yang lolos dari mereka.

“Najam….ada udang di balik bakwan,” teriak Pak Rusdi.

“Mana? mana?” Najam berusaha mencari dengan agak menjongkok ke dalam air, tangannya meraba-raba lubang di bawah batu kecil di depannya.

“Itu ada di tasnya Adi,” celoteh Pak Rusdi.

Semuapun tertawa terpingkal-pingkal. Keadaan menjadi cair setelah cukup tegang bergelut dengan ikan yang berusaha kabur.

“Kita istrahat sejenak, setelah ini kita akan lanjutkan perjalanan menaiki bukit kecil di depan,” kata Pak Rusdi sambil menurunkan tas dari punggungnya.

Jam menunjukkan pukul delapan pagi, perjalanan masih sangat panjang, sungai yang kami lalui tadi hanyalah anak sungai sebagai jalan pintas menuju ke tempat tujuan kami yang sesungguhnya.

Setelah mendaki bukit kecil selama hampir satu jam, hutan lebat itupun terlihat. Di tengah tengahnya mengalir sungai kecil yang memiliki banyak ceruk yang dalam. Salu Ongko, nama sungai itu. Salu Ongko adalah satu satunya sungai di kampung kami yang masih lestari, belum tercemar dan dirusak oleh tangan-tangan jahil manusia. Ikan ikannya pun terjaga kelestariannya, mulai dari ikan lele, gabus, udang dan ikan sidat yang melegenda.

“Kita akan memasuki hutan Salu Ongko, jadi semuanya harus fokus pada tugas masing-masing,” komandoku pada mereka.

“Siaaap!” teriak mereka serempak.

“Ikan yang kita buru adalah hanya ikan yang cukup besar, ikan yang masih kecil jangan ditangkap atau dibunuh,” petunjuk Pak Rusdi sebagai tetua kami.

“Itu…itu ada sidat besar di balik batu dekat Adi,” teriak Indra mengagetkanku.

“Oh iya, minggir ….minggir, biar saya saja yang menangkapnya,” ujarku sembari menusukkan ujung tombak ke arah sidat besar itu.

Sidat itu meronta kuat, membuat pundak dan lenganku terguncang. Adi segera membantuku dengan menebas kepala sidat tadi dengan parangnya. Alhasil, sidat sebesar betis orang dewasa itu menggelepar tak berdaya.

“Sudah lama saya tak pernah melihat sidat sebesar ini,” ujar Pak Rusdi puas.

Sidat berukuran besar memang cukup langka di daerah kami, tak ditemui di sungai-sungai sekitar perkampungan akibat eksplorasi manusia manusia rakus. Banyak yang menangkap ikan menggunakan strom, bahkan dengan pestisida, sehingga anakan sidat tak dapat berkembang. Jika dibiarkan, bukan tak mungkin sidat akan menjadi hewan yang punah dan tinggal cerita di masa yang akan datang.

Seekor katak besar berenang di kedalaman air, Indra pun terjun turun disusul Viki.

“Jangan….jangan ditangkap,” teriak Pak Rusdi.

“Kenapa? Itu kan katak todan yang enak dimakan seperti ayam,” timpal Adi.

“Iya….saya pernah dengar itu dari kakek saya,” kataku.

“Todan adalah katak yang langka, hampir punah, hanya terdapat di sungai-sungai yang masih terlindungi, itu pun sudah sangat jarang ditemui, jadi biarkan saja, jangan ditangkap. Katak itu adalah ciri khas Sungai Ongko ini,” terang Pak Rusdi membuat kami paham.

Katak todan adalah jenis katak besar yang hanya hidup di dalam air saja, besarnya bisa sebesar kepala orang dewasa dan bisa dimakan.

Jam menunjukkan pukul sebelas lewat siang. Saya instruksikan agar istirahat sejenak, saat kaki mulai pegal menginjak kerikil sungai yang sebesar kelereng. Apalagi ada banyak duri rotan yang menusuk betis hingga paha kami, belum lagi perut yang mulai lapar.

“Sebentar, kita lanjutkan saja perjalanan, air terjun Salassang Tande sudah dekat. Kita akan rehat di sana, makan dan salat dhuhur jamak asar,” sahut Pak Rusdi.

Sekitar lima belas menit kemudian, Salassang Tande pun terlihat dari kejauhan. Airnya gemuruh membikin musik alam yang khas, ditambah suara beragam burung bersahutan. Ketinggiannya sekitar dua puluh meter lebih. Di bawahnya ada ceruk yang dalam dan luas. Airnya terlihat biru dan jernih pertanda belum tercemar. Terlihat jelas ikan-ikan besar berenang di dalamnya.

Tak ada yang berani terjun ke bawah. Konon katanya ada pusaran air di balik batu besar yang berada di tengah ceruk. Pusaran air itu adalah pintu menuju kampung gaib Salu Ongko.

“Lihat….Pak Rusdi lompat ke dalam dan menuju ke balik air terjun,” teriak Viki mengagetkan kami.

“Oh iya…ayo kita ikuti,” sahut Indra.

Tanpa menunggu komando, Viki, Indra, Adi, dan Najam menyusulnya.

“Tunggu….tunggu,” teriakku mencegah mereka, namun tak berhasil. Viki dan dan Najam berhasil menuju ke balik air terjun, namun Adi dan Indra tak kulihat, setelah menunggu berapa lama terdengar teriakan.

” Tolong….tolooong,” pekikan Indra membuatku terperanjat.

Indra terlihat sedang menggapai gapai, seakan ada sesuatu yang menariknya ke dasar ceruk yang dalam. Sial…ia tersedot pusaran air di balik batu besar itu, Adi pun pasti telah tenggelam di dalamnya. Tanpa berpikir panjang segera kuambil tombakku, dan menjulurkan ke arah Indra berharap ia memegangnya. Naas bagi dia, dalam sekejap ia pun hilang bersamaan dengan suara teriakannya yang tertahan oleh air yang sudah memenuhi rongga mulutnya, terlihat gelembung gelembung udara dari bawah air, lalu hilang dalam waktu yang sangat singkat.

Aku kebingungan, cemas bercampur penasaran. Kuambil tombakku dan memberanikan diri terjun langsung ke atas pusaran air tersebut. “Saya harus menyelamatkan mereka apapun yang terjadi,” gumamku.

Pusaran air tersebut menyedotku dengan cepat, kubiarkan saja sambil memeluk erat tombakku, mataku kubiarkan terus terbuka.

Aku merasa seperti melayang ke bawah jauh memasuki ke dalaman perut bumi. Kulihat banyak anak anak kecil melambai ke arahku. Gadis-gadis berambut panjang terurai tersenyum hambar kepadaku. Lalu beberapa hewan hewan aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya terbang mengikutiku.

Plakkk….tubuhku terjatuh dan menimpa sebuah batu datar yang luasnya sekitar dua kali satu meter. Di bawahnya mengalir air berwarna merah tetapi bukan darah. Lebih mirip pucuk daun jati yang diremas dan diperas di dalam air, sehingga mengeluarkan zat berwarna merah darah tapi agak sedikit cair. Apakah ini sebuah altar persembahan? Sebuah media kuno untuk menyembelih korban yang kemudian dipersembahkan ke sesembahan mereka.

Sebelum beberapa pemuda tegap menangkapku, aku sudah berdiri menantang dengan tombak yang siap aku arahkan ke siapa saja yang berusaha mendekatiku. Tusukan tombakku membuat dua pemuda itu tergeletak bersimbah darah, terdengar suara riuh kemarahan dari orang-orang yang mulai banyak mengerumuniku.

“Ayo…ayo… siapapun yang berusaha menyakitiku akan aku bunuh,” teriakku menantang, namun tak diindahkan mereka. Tak ada rasa takut terlintas dari wajah mereka meski belasan pemuda pemuda tegap telah tergeletak oleh tusukan tombakku.

Gerakan mereka sangat lambat, mimik wajah mereka datar, sangat mudah menaklukkannya berapapun jumlahnya. Di tengah pembantaian itu, akupun teringat teman-temanku yang hilang. Segera kulompati orang yang berada di bawah altar sembari menusukkan tombak ke arah wanita tua yang hendak memegang tanganku. Aku berlari ke arah sebuah gubug kecil di bawah pohon besar yang menjulang ke langit, kupikir mereka pasti sedang disekap di dalam.

“Pak Rusdi….apa yang terjadi? Mana Adi dan Indra?” tanyaku kepada Pak Rusdi yang terikat sebuah tambang terbuat dari rumput alang alang. Di kiri dan kanannya, Viki dan Najam tergeletak pingsan dengan memar di sekujur tubuhnya. Mungkin mereka baru saja dikeroyok seperti yang kualami.

Pak Rusdi hanya terdiam dan mendongak dengan tatapan kosong. Di atas ranting pohon yang terlihat dari gubug itu, dua kepala tanpa badan tergantung dengan darah segar yang masih menetes. Aku terbelalak, “itu kan Adi dan Indra yang habis dipenggal.” Aku bangkit dan berteriak murka, kuterjang dinding gubug itu dengan kedua kakiku, dinding yang terbuat dari anyaman daun enau itu roboh. Terlihat banyak orang telah bersiap menyerangku dari luar, tanpa berpikir panjang aku terjun ke bawah dan siap membantai habis makhluk menjijikkan itu.

Sesampai di bawah, segera kuayunkan tombakku dan berhasil menjatuhkan beberapa orang. Lalu terdengar teriakan memekakkan telinga “hentikan…!” Ajaibnya, semua makhluk aneh itu terdiam dan mematung seketika.

“Hei anak muda! Berani sekali engkau memasuki kampung kami. Kamu pikir bisa membunuh kami dengan tombak kecil itu? lihat mereka yang mati engkau tusuk bangkit dan hidup lagi.”

Kurang ajar, pantas saja jumlah mereka tak berkurang sedikit pun, padahal tak kurang dari seratus orang telah aku tundukkan dengan tombak ini, bisikku dalam hati.

“Lancang sekali kamu memasuki daerah kami tanpa ijin!”

Aku hanya terdiam dan berpikir keras, bagaimana bisa lolos dari makhluk-makhluk aneh ini.

Sebuah cahaya merah dari telapak orang tua itu menerjangku. Tubuhku terpental dan jatuh tepat di bawah pohon besar itu.

Ukhhh…dadaku terasa sesak, sulit bernapas, beberapa pemuda memegang pundakku dan siap menjerat leherku dengan seutas tali yang terbuat dari besi yang mengkilap. Sial…mereka pasti akan memenggal kepalaku seperti yang dilakukan terhadap Adi dan Indra.

Dalam kegentingan itu akupun teringat dengan sebilah keris peninggalan kakekku yang terselip di pinggangku. Segera kuhunus dari sarungnya dengan sekuat tenaga kuayunkan ke arah pemuda yang hendak menjerat leherku. Wasss….pemuda itu roboh dengan tubuh hancur, ku ayun lagi dan lima pemuda di dekatku roboh seketika.

Semua makhluk itu menyeringai ketakutan, mereka serentak menunduk lalu bersimpuh menyerah di hadapanku, termasuk orang tua itu.

“Nak, ampuni kami, mengapa engkau tak bilang kalau kamu ini cucu dari Eyang Sapu Lidi?”

“Minggir semua….atau aku bantai habis kalian, aku harus menyelamatkan teman temanku yang masih hidup,” teriakku murka.

Di dalam gubug, tak kusangka Viki, Najam dan Pak Rusdi pun telah tewas dengan kepala terpisah dari badan.

“Hiyaaaaaattt…kubunuh kalian semua makhluk menjijikkan”

Teriakku sambil mengayunkan kerisku sekuat mungkin. Semua makhluk itu pun jatuh dan hancur sekali tebas.

“Woiiii. Amir…bangun…bangun,” suara Indra terdengar jelas di kupingku.

“Sudah jam satu siang, ayo kita lanjutkan perjalanan, semoga sebelum gelap kita sudah tiba di rumah kembali,” Pak Rusdi memberi komando.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *