Kujadikan Mereka Obyek Wisata di Permandian Alam Lewaja

Lewaja, nama yang cukup familiar, begitu orang luar seperti saya mendengarnya, pertama kali yang muncul dibenakku adalah sebuah permandian alam.

Hari ini masih seperti biasanya, tenggelam dengan semua rutinitas yang membosankan. Pagi sekali aku harus membuka kantor, membersihkan setiap sudut ruangan kerja karyawan, merapikan buku dan berkas berkas tersampul map. Menyapu dan mengepel lantai, menyiram bunga-bunga mahal koleksi Bu Bos. Dan yang paling kubenci membersihkan 3 toilet menjijikkan ini. Karyawan yang jorok, sekretaris Dewi yang centil sok cantik, Bu Bos yang super duper cerewet, semuanya punya andil besar untuk kemajuan perusahaan sekaligus menambah tingkat stres di kepalaku ini.

Jika seorang kawan dulu berkata, objek wisata adalah tempat membuang semua pikiran dan beban negatif, maka rasanya ingin menenggelamkan mereka semua di ceruk Lewaja itu.

“OB…kopi jatah pagiku mana?” kalimat seragam yang sering terlontar dari mulut mereka yang telat masuk kerja.

Mana aku tahu, bukankah jumlah porsi yang tersaji sesuai dengan jumlah mereka. Perkara diembat karyawan yang lebih dulu datang itu bukan urusanku.

“Manaaa….?” teriakan mereka akan lebih keras jika tak segera kugubris.

Baiklah, suatu saat akan kubunuh kalian satu persatu !.

Roda dua ini harus diperlambat, bila tidak, jurang terjal yang berdasar sungai keruh itu akan menjadi tempatku berakhir. Belokan tajam, lalu diikuti belokan-belokan lainnya menuntutku lebih gesit dan hati-hati. Ini seperti menyelip di antara meja-meja dan kursi-kursi karyawan sialan di kantorku, menyalip Bu Dewi yang berjalan pelan dengan rok mininya. Kota ini unik juga, pikirku, walau terkesan tertinggal dari kota kota lain tetapi tetap saja aura modern terpancar dari tata cara mereka berpakaian.

Di simpang tiga itu, di tengah aku seperti melihat bokong Bu Dewi yang gempal, “oh tidak,” itu patung sapi, lalu kuku kaki patung itu seperti sepatu Bu Sri yang pendek dan besar. Kepala sapi bertanduk itu aku asumsikan seperti Bu Bos yang hobbi marah dengan bibir rewelnya.

Di tepi pertigaan itu terpampang tulisan, Permandian Alam Lewaja lengkap dengan tanda panah kananya, tanda panah kiri menunjuk pusat kota. Tanda panah kiri itu tiba-tiba berubah bertuliskan Pekuburan PT Maju Damai, demikian dalam halusinasiku.

Dua mobil berwarna gelap berhenti tepat di belakangku, sementara petugas parkir sibuk meladeniku.

“Hai bro…kok baru muncul lagi,” lelaki gondrong bertubuh kekar menyapaku.

“Hm….seperti biasa, orang sibuk,” aku memberi dua lembar uang sepuluh ribu ditukar tiga tiket parkir, satu parkir motor dan dua parkir mobil.

“Ah tidak usah bro,” katanya akrab.

“Kolusi hari ini bukan solusi awetnya pertemanan bro, terima saja,” aku menyodorkan kembali uang itu.

Hanya beberapa meter aku kembali harus menginjak rem, sebuah lubang yang cukup dalam menganga di tengah jalan, nyaris saja melahap roda depan motor butut kesayanganku ini. Fortuner hitam di belakang menyalip, nyaris masuk got. Aku baru sadar, lampu rem ku tak berfungsi baik, kacanya kabur karena aspal yang berlumpur akibat got sepanjang jalan banyak yang tersumbat sampah.

“13 orang kali lima belas ribu, sekian sekian.”

Gadis loket menyerahkan sejumlah karcis ke Bu Eka, bendahara kami. Ia satu satunya karyawan yang aku suka di kantor. Selain cantik dan menarik, ia juga punya konspirasi denganku. Uang mengalahkan segalanya.

“Kita terus saja ke alamnya,” titah Bu Bos tanpa diskusi dulu.

Masih ngos-ngosan begini kok disuruh jalan lagi, sungutku pelan dan kuperdengarkan ke Bu Eka. Bu Eka mengerlingkan mata indahnya, aku tahu maksudnya, bukan menggodaku untuk menemaninya mandi di ceruk rahasia muda-mudi di bagian atas air terjun.

Belikan rokok 1 bungkus nanti, kodeku dengan mengangkat satu jari lalu mendekatkan ke bibirku. Aku tahu Bu Eka baru saja mengisi kwitansi fiktip di loket karcis itu.

Beberapa keluarga telah memulai aksi mandi cerianya di kolam buatan itu, mereka lebih memilih menemani anak-anak kecil mereka mandi di situ. Lebih aman dan lebih sopan.

Tangga pertama, kedua, ketiga dan seterusnya kami susuri, kiri kanan beberapa rumah warga dengan kedai kecil di depannya atau dikolong rumahnya terlihat ramai oleh pengunjung. Ah ini bukan tempat yang pas.

“Dika….bawa keranjang bekal ini,” seru Pak Kasim dan langsung meletakkan keranjang besar berisi semua makanan, minuman dan cemilan buntalan buntalan lemak sialan ini.

Beberapa menit kemudian kami sudah berada di antara pepohonan besar.

Hiyaaat, kucabut belati kecil dari balik pinggangku, kusumpal mulut Pak Kadir menggunakan topi capingnya, tanganku dalam sekejap berlumur darah setelah belati itu memotong nadi lehernya. Celah batu itu tempat terindah untuk Pak Manajer Pemasaran.

Sekali lagi belatiku memakan korban, Bu Sinta tergeletak hanya sekali tusukan tepat pada jantungnya. Arus deras sungai membawa ke alam Bu Manajer Keuangan.

Batu sebesar genggaman kupukulkan tepat di kepala bagian belakang Pak Kasim, lalu belatiku menghujam ke perutnya, ia terkapar dan segera kusingkirkan ke balik semak. Selamat tinggal Pak Sopir sok jagoan.

“Bu Dewi, aku haus,” keluh Bu Bos ketika tiba di permandian alamnya.

Air yang jatuh dari ketinggian belasan meter itu tampak angkuh, lalu buihnya menyembur berwarna putih, pecah dan kemudian hilang menjadi air lagi. Pohon jati besar, beringin rimbun mendominasi hutan di sekitar permandian itu, hawa sejuk embun yang tercipta dari butiran air terjun terasa dingin dan nyaman. Beberapa batang rokok telah kubakar dan hanya menyisakan puntung dan abu. Kopi Arabika Kalosi kesukaan Pak Udin terasa nikmat di kerongkonganku. Snack kentang Bu Dewi dengan sensasi pedas dan asin sungguh enak, pantas saja ia memenuhi kolong meja dan kursinya dengan bungkusan kosong cemilan itu.

Dada ayam geprek dan sebungkus nasi bekal Bu Sri telah habis kulahap. Jus buah Naga yang dibeli Bu Dewi di Maroangin tadi menjadi menu penutupku.

“Lepaskan….!” teriak Bu Bos dari salah satu batu besar di pinggir sungai.

Tangan dan kakinya kuikat, sedang mulutnya kubiarkan saja tak kusumpal. Rintihan, rengekan, cacian, isakan dan kadang ludah keluar dari mulutnya, bercampur suara gemericik air mengalir di celah celah batu, burung gagak terbang berputar-putar di sekitar air terjun dengan suara menakutkan. Semua itu terdengar merdu di telingaku, seperti Westlife yang lagi konser di era 90-an.

Tujuh mayat tiba tiba muncul dari dasar ceruk, mereka mulai mengambang setelah beberapa jam tenggelam di dasarnya. Bu Eka tertawa cekikikan di pangkuanku.

“Sayang, apakah cek-cek itu sudah ditanda tangani Bu Bos ?” tanyaku.

“Beres sayang,” jawabnya manja menyodorkan sepasang bibir seksinya ke daguku.

“Kalau begitu selamat jalan sayang.”

Kucekik dia setelah kukecup bibirnya, ia meronta, kejang, lidahnya terjulur keluar, mata melotot lalu diam tak bernafas.

Ahhh puas…..helaan napasku dengan sesungging senyum sinis kulempar ke Bu Bos yang mulai gemetar ketakutan.

Kudekati dia dengan sebatang ranting tajam di tangan. Ia menjerit minta ampun dan berjanji tidak akan cerewet lagi.

“Dika…..jangan…! Saham perusahaan aku berikan separuh untukmu, mobil fortuner itu kini milikmu,” rayunya dengan kornea membesar.

Ia sungguh-sungguh, tapi sudah terlambat, rekeningnya akan kukosongkan dengan cek-cek ini, sungutku dan meludahi keningnya. Kusabetkan ranting dan tepat mengenai mulutnya, darah mengucur dan beberapa gigi rontok.

“Selamat tinggal, sebentar lagi binatang binatang buas mengakhiri deritamu,” kataku penuh amarah sebelum meninggalkannya.

Ahh, lega rasanya, uneg-uneg ini telah kulampiaskan pada objek wisata yang mengagumkan ini. Beberapa pengunjung telah beranjak pulang. Sementara aku lebih memilih berlama-lama di kedai kopi tempat parkir kami. Rokok yang dibelikan Bu Eka tinggal beberapa batang. Cukuplah sambil menunggu mereka pulang.

Karyawan-karyawan itu beserta Bu Bos pasti masih bersenang-senang di permandian sana. Akhir bulan selalu kunanti, karena itu waktu dimana aku mendapat balas budi mereka, beberapa bungkus rokok dan duit berwarna merah akan mereka selipkan di saku bajuku.

Besok akan seperti lagi, dan sebulan ke depan. Tak apa, aku nikmati saja. Syukur jauh lebih baik, dan itu sudah cukup bagiku.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *