Membicarakan Pulu Mandoti dan Potensi Wisata di Desa Kendenan

Jumat pagi, saya dan Irsan bersiap-siap menuju Bone-Bone, salah satu desa terluar di Kabupaten Enrekang. Kami naik motor dari pusat kota Enrekang. Perjalanan dimulai sekira pukul 09.20 pagi.

Hanya butuh waktu satu setengah jam untuk sampai. Hawa sejuk mulai terasa saat memasuki pintu gerbang desa wisata ini. Seorang kawan, Bintang, ternyata membuntuti dari belakang. Kami bertiga kemudian menuju kantor desa Bone-Bone.

Lokasi kantor desa Bone-Bone yang menanjak, membuat motor harus berjalan seperti siput. Begitu tiba, hanya ada Fahri, sekretaris desa. Sementara Idris, kepala desa tak ada di tempat.

Perbincangan dengan Fahri tak berlangsung lama, sebab sebentar saja, azan salat Jumat berkumandang. Kami pamit lalu menuju masjid dan ikut salat.

Lepas Jumatan, kami memutar haluan menuju desa tetangga. Sesekali kami turun dan mengambil gambar, kemudian melanjutkan lagi perjalanan.

Tak butuh waktu lama untuk menjangkau desa sebelah. Setelah memarkir motor, Irsan berdiri dan rehat sejenak. Saya kemudian melangkah pelan menghampiri bangunan bercat hijau. Pintunya dibiarkan sedikit terbuka.

Dari luar Irsan menyampaikan salam. Hening.

Beberapa menit pun berlalu. Tetap tak ada yang keluar menyambut.

Kami berharap Kepala Desa Kendenan berada di kantor dan bersedia melakukan wawancara terkait pengembangan wisata di desanya.

Langit mulai mendung. Perlahan rintik-rintik hujan turun. Kami bergegas dan memutuskan mencari rumah Kepala Desa.

Seorang lelaki tua terlihat berjalan ke arah kami dan mendekat. Saya sigap bertanya. Dalam bahasa daerah, dengan senang hati ia memberi arah.

“Dari sini, terus. Lalu belok kiri kemudian lurus saja. Rumahnya berada di tengah kampung,” terangnya tersenyum ramah.

Irsan menggeber motor. Saya yang berboncengan dengan Bintang, menyusul. Kami mengikuti arah yang diterangkan lelaki tua tadi.

Tak butuh waktu lama, kami sampai di depan rumah panggung yang ukurannya cukup besar dibanding rumah lain di sekitarnya. Halamannya dipenuhi berbagai macam tanaman hias.

Di kolong rumah itu, terdapat balai-balai dari bambu. Saya turun dari motor dan bertanya pada lelaki paruh baya yang duduk di situ. Rupanya ia kerabat Kepala Desa. Setelah menyampaikan maksud dan tujuan, kami diantar naik ke rumah.

Perlahan kami menapaki tangga rumah panggung berpagar puluhan pot bunga tersebut. Di depan pintu, Kepala Desa menyambut ramah. Kami masuk lalu duduk di ruang tamu.

Irsan memulai dengan menjelaskan ihwal kedatangan kami. Setelah itu, semuanya mengalir. Ia biarkan Kepala Desa bercerita. Saya dan Bintang ikut menyimak.

Kepala Desa memulai soal mengapa warganya kini menanam jagung di areal persawahan yang puluhan bahkan ratusan tahun jadi “taman” pulu mandoti. Ia bilang, itu hanya menyiasati saja. Sebab kalau lahan dibiarkan kosong, warganya tidak punya penghasilan tambahan.

Lanjutnya, ketersediaan air yang cukup meskipun bukan musim hujan, agak sayang bila tidak disiasati dengan menanam tanaman pra musim.

Tanaman padi hanya panen sekali setahun. Waktu antara panen sampai menebar benih jaraknya lumayan lama. Lahan selama empat bulan lebih itu menganggur.

Ratusan hertar lahan sawah yang membentuk terasering indah di Kendenan, memang punya daya tarik tersendiri. Potensi inilah yang disebut kepala desa bisa dimanfaatkan.

“Kalau musimnya mi (padi) orang-orang yang lewat atau singgah bisa menikmati pemandangan yang luar biasa. Sambil foto-foto juga,” jelasnya.

Kepala desa meyakini, potensi semacam itu sangat penting ditindak lanjuti. Sebab, wacana kerjasama dengan beberapa desa di sekitarnya soal pengembangan desa wisata sudah lama ada.

“Sudah dibicarakan itu (desa wisata). Tapi kita masih tunggu tindak lanjut dari pemerintah daerah juga. Apalagi, biaya yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas pendukung cukup besar,” terangnya.

Kepala Desa berhenti beberapa saat. Dari dapur, istrinya mendekat ke meja tamu dan meletakkan beberapa cangkir kopi hangat. Terakhir, sepiring biskuit hadir melengkapi.

Karena antusias, saya pun mengeluarkan voice recorder, menyetel ke mode on kemudian meletakkannya di meja. Kepala Desa tersenyum. Cerita berlanjut.

Pulu Mandoti ini punya aroma khas. Di tempat lain, tidak ada ketan yang sama, secara kualitas maupun rasanya,” klaimnya.

Kepala Desa berkisah, beberapa orang memang pernah diberi oleh-oleh pulu mandoti, tapi di tempat yang baru tak mau tumbuh. Ada yang lebih sial lagi, walau sudah ditanam dan tumbuh, aroma dan rasanya biasa-biasa saja.

Kami juga tanya soal peluang pasar, namun kepala desa tak begitu yakin. Mengemasnya secara modern agar praktis dan lebih menarik bagi konsumen diakuinya masih jauh dari harapan. Masyarakat Kendenan, memilih menjual langsung agar hasilnya dapat segera dipakai membeli keperluan sehari-hari.

“Selama ini dijual seperti biasa saja. Belum ada semacam kemasan. Lagipula, warga di sini kalau sudah butuh uang, ya langsung saja dijual ke tengkulak,” ungkapnya menyayangkan.

Padahal tambahnya, harga beras jenis pulu mandoti biasanya mahal di bulan Mei sebab masa panen baru dimulai di bulan Juni atau bulan Juli.

Saya meraih secangkir kopi yang tidak lagi hangat. Irsan, mengeluarkan handphone dan memberi sedikit isyarat. Saya paham, sebab kamera DSLR yang dari tadi saya jinjing, tak mampu lagi merekam. Baterainya tak berdaya.

Lanjut. Pak kades menggambarkan, ada campur tangan tetua adat di desanya sejak dulu hingga kekhasan pulu mandoti tetap terjaga. Bayangkan, sampai urusan pengairan (irigasi) saja, tak boleh diurus sembarang orang. Begitu pula masa menabur benih dan menanam, tidak boleh asal-asalan. Ada waktu tertentu, katanya.

Apa yang dituturkan kepala desa masih ada kaitannya dengan lumbung padi unik yang jumlahnya diklaim paling banyak diantara lumbung milik desa-desa tetangga. Landak, demikian warga setempat menyebutnya, juga tidak dibuat asal-asalan. Landak terbuat dari Banga, sejenis kayu yang disebutnya bisa bertahan ratusan tahun

“Termasuk juga (landak) itu tidak sembarang orang yang buat. Makanya, gabah di situ bisa bertahan ratusan tahun.”

“Ibu-ibu di sini kalau ke acara pengantin itu menggendong baka (gendongan yang terbuat dari anyaman bambu atau rotan) yang diisi gabah pulu mandoti dari landak masing-masing. Giliran punya hajatan, landak kita yang terisi kembali. Jadi tidak pernah kosong,” terangnya.

Saya menyudahi mengambil gambar (video). Bukan pegal, tapi kapasitas memori Irsan tak kuat juga menampung semua penuturan kepala desa. Beruntung voice recorder masih bisa diandalkan.

Bukan Irsan namanya kalau tidak melempar tanya perihal literasi. Ia ingin tahu di Kendenan ada atau tidak pemerhati literasi. Seperti pemuda atau tokoh masyarakat yang giat dan peduli soal pengembangan minat baca. Namun, kepala desa terlihat datar saja.

Voice recorder saya matikan. Kami basa basi saja menutup pembicaraan, bersalaman, lalu pamit.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *