Memangnya Lucu Kalau Enrekang Cuma Punya Satu Indomaret dan Lampu Merah?

Kota yang ditertibkan oleh satu lampu merah, satu Indomaret kecil, dan tanpa alun-alun, adalah bagian dari joke atau lelucon lawas tentang Enrekang yang pernah bikin saya ngakak. Sekali, dua kali, joke macam ini memang bisa bikin orang ketawa guling-guling. Bagi orang lain, di luar Enrekang, mungkin agak kerepotan berimajinasi tentang kota yang hanya ditertibkan oleh satu lampu merah dan punya satu Indomaret. Memang salah ya?

Bukan apa-apa. Kata orang-orang zaman sekarang, kedengaran agak aneh saja kalau masih ada kota yang tak punya Indomaret. Apalagi keberadaan lampu merah dengan jumlah terbatas dan hanya terletak di jantung kota, sangat sering teridentifikasi sebagai kota-kota terbelakang. Saya sendiri tidak tahu persis sejak kapan Indomaret dan lampu merah menjadi penanda keberadaan dan kemajuan suatu kota.

Di kota, kebutuhan akan lampu merah sangat penting untuk menertibkan banyak tipe pengendara. Dari yang santuy maupun liar, termasuk pelajar, pegawai, tukang antar galon, geng motor hingga para pengendara resek yang hobi mengklakson sebelum lampu hijau. Namun keberadaan lampu merah bagi orang-orang Enrekang sepatutnya tak jadi soal. Lalu lintas tak begitu padat, dan pengendara santuy masih cenderung dominan. Lagian, tata ruang Kota Enrekang juga memudahkan akses masyarakat saat hendak bepergian.

Untuk berangkat ke sekolah, rumah sakit, perpustakaan, masjid, pasar sentral, ke kantor-kantor layanan umum atau titik kepadatan penduduk, tidak mengharuskan masyarakat berkendara. Tak jauh-jauh amat. Jalan kaki pun sebetulnya bisa. Malah kalau kata orang tua dulu, “Orang Enrekang paling bisa diandalakan kalau urusan jalan-berjalan.” Kalau begitu untuk apa merasa seolah-olah butuh banyak lampu merah?

Di lain hal, oke-oke saja, jika belanja di Indomaret adalah sebuah gaya hidup orang-orang urban. Tapi sepertinya orang Enrekang tidak betul-betul mendambakan pusat perbelanjaan yang modern itu. Yang saya tahu, tiap Senin dan Kamis, orang-orang Enrekang lebih suka bergerombol ke pasar Enrekang, dan berdesak-desakan di dalam pete-pete mewah bermerek Kijang atau APV ketimbang belanja di Indomaret. Padahal Indomaret juga telah menyiapkan beraneka macam kebutuhan pokok dan rumah tangga.

Apa mungkin karena Indomaret kerap menjajakan produk-produk yang tabu bagi masyarakat awam, seperti mempromosikan alat kontrasepsi di meja kasir pada hari-hari tertentu (liburan nasional); atau hal sepele yang membuat masyarakat flu gegara suhu AC yang dinginnya bukan main? Jadi, masuk Indomaret serasa berada di Antartika. Entah. Saya tak pernah berurusan serisus dengan Indomaret.

Tapi itu alasan sementara yang bisa dikira-kira selain perdebatan masalah harga: mahal di Indomaret atau warung kelontong tetangga? Dan perdebatan lain yang tentu mendorong masyarakat tetap memilih belanja di warung kelontong, seperti: boleh ngutang atau tidak? Atau alasan kritis: untuk memutar roda perekenomian warga.

Toh, bukan Enrekang saja yang sedang dalam tahap pengembangan kota dengan konsep minimalis. Seorang kawan di Pinrang juga pernah bercanda soal kotanya. Beliau berkali-kali menghardik kehadiran mal yang justru disangkanya warung kelontong biasa. Pasalnya, pintu keluar hanya berjarak beberapa meter dari pintu masuk. Tak begitu luas dan tinggi.

Beliau, dan juga saya, memang lama tinggal di pelosok. Kami jarang berkunjung ke kota. Tak heran, jika pengetahuan dan imajinasi kami tentang mal tak jauh beda. Kami sepakat dengan sebuah definisi, misalnya begini, bahwa paling tidak masuk mal dapat membuat seseorang nyasar atau lupa jalan saat hendak keluar. Tapi nyatanya, mal yang beliau ceritakan tidak begitu. Jauh.

Tapi terlepas dari semua itu, mestinya, perihal Indomaret dan lampu merah di Enrekang atau mal di Pinrang tak pantas lagi dijadikan lelucon. Sudah tak lucu. Jangan sampai jadi dark joke, atau candaan dengan sarkasme yang terkesan meremeh-temehkan. Tak perlu.

Kota-kota kecil tak perlu repot-repot meniru kecenderungan dan gaya hidup di kota-kota besar. Lagipula sebuah kota yang dipenuhi banyak infrastruktur juga belum tentu bisa menjamin kesejahteraan warganya. Setiap kota punya cara untuk bertahan hidup.

Yang ada malah banyak orang yang tak mau terus terang, kalau kotanya merindukan ketenangan. Jauh dari kepadatan penduduk, serta hiruk-pikuk lalu lintas darat dan udara. Dan paling penting, bisa berdamai dengan alam. Jadi, bisa dikatakan sebetulnya hidup di kota-kota kecil adalah cara menertawakan kesibukan orang di kota-kota besar.

Ya, anggap saja, wajah Enrekang dan sedemikian bentuknya merupakan sebuah konsep kota minimalis dan ramah lingkungan. Minimnya gedung tinggi, serta kelestarian alamnya yang masih sangat terjaga. Kota Ber-Indomaret dan ber-lampu merah satu itu memang patut jadi suri teladan bagi kota-kota lainnya. Meski orang-orang kadang bingung menentukan ikon kota Enrekang itu sendiri. Apakah SWISS, Jambatang Bassi, alam Lewaja atau Patung Sapi?

Tapi tak penting untuk diperdebatkan, bisa-bisa jadi lelucon lagi.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *