Surat Cinta Baso

Baso sahabatku. Ia perantau ulung. Tujuh tahun lalu memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai sekretaris desa dan memilih ke Kalimantan bekerja sebagai buruh sawit, empat bulan sepuluh hari setelah resmi bercerai dengan istrinya.

Setelah bercerai, Baso memang hidup sebatang kara. Baso anak tunggal yang kedua orang tuanya telah meninggal. Hanya saya teman akrabnya di kampung ini. Sejak merantau, tidak ada yang mencarinya kecuali seorang petugas bank yang tiap bulan mendatangi rumahnya. Baso meninggalkan pinjaman banknya begitu saja.

“Baso kadung sakit hati dan rela menyia-nyiakan kepercayaan bank padanya.” Begitulah Pak Desa menyimpulkan kepergian Baso.

“Tidak Pak, Baso sadar ini akan terjadi. Baso sabar. Dia orang yang bijak.” Saya membela diri.

“Saya ingat di awal-awal pernikahannya, Baso menceritakan kalau Ainun tidak benar-benar mencintainya, Ainun hanya berusaha memperjuangkan kebahagiannya sendiri, keegoisannya.” Saya mencoba menjelaskan duduk perkaranya sebelum Kepala Desa buru-buru mangkat.

Mantan istri Baso adalah orang yang sama yang membangunkanku setiap pagi untuk sarapan sebelum berangkat kerja. Selepas masa iddahnya dengan Baso, saya menikahi Ainun. Hari yang sama ketika mobil carteran yang disewa Baso untuk ke pelabuhan datang.

Demikianlah tujuh tahun berlalu dan hari ini, Baso pulang kampung. Baso tidak langsung ke rumahnya, dia ke rumahku dulu, duduk di beranda menungguku pulang kerja. Saya menyapanya dengan pertanyaan-pertanyaan rindu seorang sahabat. Baso hanya tunduk tanpa menjawab. Tidak memperdulikan sedikitpun pertanyaan-pertanyaanku. Saya sadar pertemuan ini canggung.Baso tiba-tiba bersuara keras.

“Kau tidak mencintai Ainun, kau hanya memperjuangkan kebahagiaanmu sendiri, keegoisanmu!” Baso hilang, kembali mengembara dalam dendamnya.

***

Baso mengirimiku surat. Ia memang jago menulis. Kemampuan itulah yang pernah menjadikannya sekretaris desa.

Baso sebenarnya lebih pantas menjadi seorang penulis cerpen daripada sekretaris desa. Surat ini adalah surat kedua yang dikirim Baso sejak dia merantau kembali setelah menyampaikan keegoisanku menjalankan cinta. Kau pasti menduga berisi tentang kemarahannya bukan? Tidak, Baso tetap menceritakan kota baru yang ia datangi, Ternate.

Masih seperti isi surat pertamanya, Baso tidak berhenti menceritakan kekagumannya tentang kota yang mengelilingi Gamalama itu. Seperti ketika dulu ia berada dua minggu di Banggai Laut. Baso pun menceritakan keindahan Ternate seperti menceritakan dengan detail kenikmatan tuturuga, penyu yang dimasak dengan bumbu kuning. Saya langsung lapar ketika membaca bagian itu.

Saya selalu merasa ada di kota yang dikunjungi Baso setiap membaca suratnya. Merasakan ombak ganas melibas sampan. Merasakan percik air laut diwajahku ketika Baso menceritakan berkeliling mencari akar bahar, oleh-oleh untuk imam masjid di kampung. Imam muda bersuara merdu penyuka musik reggae.

Baso tidak pernah suka punya masalah, memilih mengalah adalah pilihannya. Seluruh kejadian buruk yang menimpanya dianggap sebagai hal yang memang harus dia jalani. Suatu saat, semua ayam peliharaannya hilang. Baso hanya bilang mungkin ayamnya tidak suka nasi sisa. Begitulah ketidakpedulian Baso akan hal buruk yang dia alami.

Ada lagi surat dari Baso datang, seminggu setelah surat terakhir kubaca. Ini agak aneh. Surat ini adalah surat Baso yang paling tipis. Satu halaman, tidak penuh. Tidak ada sapaan sahabat seperti biasa dia memulai suratnya. Tidak bertanya kabar istriku. Tidak bertanya keadaan kampung.

***

Kita adalah sahabat. Saya masih mencintai istrimu, seperti cinta istrimu Ainun, ke kamu. Setelah ini saya akan ke Papua naik kapal. Diperjalanan akan kularung semua rasa sakit dan cintaku. Belajarlah untuk mencintai istrimu juga Bora. Saya akan menetap di Papua. Sesekali tolong kau bersihkan halaman rumahku. Salam.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *