Pariwisata Enrekang: Perjalanan Imajinatif dan Travelogue

foto by Wall Masry
foto by Wall Masry

Kapan pertama kali manusia mulai melakukan wisata? Pertanyaan ini tak mudah untuk dijawab secara periodik, sebab pertanyaan ini juga pada akhirnya akan menanyakan kapan istilah wisata itu digunakan. Bahkan penelusuran istilah wisata ini akan mengajak kita menggalinya secara ontologis.

Seperti halnya defenisi pariwisata, kita mungkin memandangnya secara berbeda tergantung dimensi apa yang digunakan. Kalau kita mencoba menerangkannya dari perspektif perjalanan seseorang ke suatu tempat atau (dimensi) ruang, maka defenisi wisata didekati pada konteks pergerakan seseorang.

Boleh jadi wisata yang paling awal dilakukan manusia adalah perjalanan (turisme), sebagaimana manusia pada masa lampau yang suka berpetualang seperti Marcopolo, hingga mendaratkan penemuan.

Saat membaca buku Sapiens karya Yuval Noah Harari misalnya, saya membayangkan pada periode perburuan-nomaden sapiens itu sebagai bab pertama dari perjalanan. Perjalanan yang dilakukan sapiens, selain memang dianugerahi kaki, merupakan aktivitas eksploratif (sekaligus ekonomi) bagi mereka. Tapi di sini, perjalanan belum didefinisikan sebagaimana yang diartikan selama ini sebagai turisme, sebab kemungkinan hasrat untuk itu belum dimiliki sapiens. Mungkin perjalanan sapiens pada saat itu adalah kehidupan itu sendiri.

Jika mengikuti ritme Harari pada bahasan Revolusi Pertanian yang diterangkannya sebagai periode manusia melakukan domestikasi pangan. Penemuan jagung, gandum dan penaklukkan hewan misalnya dianggap sebagai cara hidup baru bagi sapiens. Mereka mulai menetap di sekitar gandum yang tumbuh, lalu membentuk kelompok yang nantinya menjadi perkampungan, seiring dengan mulai dicurahkan perhatian pada tanaman yang dirawatnya.

Proses domestikasi ini akhirnya membuat sapiens mulai membatasi diri keluar dari area yang digarapnya dan bertumpu pada kultur agraris, hingga menjadi perangkap kehidupan baru. Dari sini, kehidupan pertanian mengantarkan manusia bergantung pada budidaya, meninggalkan kekuatan perburuan-pengumpul sebagai rumah dalam perjalanan.

Revolusi Pertanian bisa menjadi tanda dimulainya perjalanan manusia dalam arti turisme. Ini dilakukan saat kehidupan pertanian mulai melahirkan kepadatan, sementara lahan sudah terbagi merata. Manusia mulai mengalami banyak konflik sosial dan guncangan individu. Untuk meredamnya, dibuatlah mitos-mitos yang dijadikan tabu budaya, aturan bersama, dan cita-cita imperium.

Harari berkata bahwa manusia membuat tatanan khayalan, misalnya tentang kesetaraan atau hak asasi manusia agar tatanan itu dipercaya sebagai hukum alam. Memang banyak yang tak menyetujui bahwa khayalan itulah yang mempengaruhi kehidupan berikut. Tapi nyatanya tatanan khayalan secara perlahan mulai membentuk keinginan (hasrat) manusia.

Sesekali sapiens mungkin mulai berpikir untuk menyegarkan diri dengan cara beranjak dari lingkungan taninya yang terasa sempit. Mendorongnya melakukan khayal dan berniat mencari pengalaman baru di luar. Seperti tawaran “enjoy your experience“.

Pada akhirnya, inilah yang semarak ditawarkan dalam jasa pariwisata yang tersedia di berbagai agen travel. Karenanya industri pariwisata bukan semata menawarkan tiket ‘perjalanan’, tetapi ‘sebuah pengalaman’.

***

Foto by Endpass
Foto by Endpass

Saya sering menyaksikan teman-teman di Enrekang begitu menikmati perjalanannya berkeliling di kabupaten sendiri. Mengabadikan alam Enrekang yang hijau dan menyimpan banyak keindahan. Suatu ketika orang bilang wisata Enrekang itu masih perawan.

Saya juga sering melakukan perjalanan ke pelosok-pelosok yang ada di Enrekang. Memang saya tidak yakin menyebut perjalanan saya yang mengendarai motor itu sebagai wisata. Seperti ‘jalan-jalan’ yang kadangkala disamakan dengan berwisata. Dalam perjalanan itu diam-diam memberikan nuansa yang rekreatif, kadang-kadang memantik refleksi dan imajinasi.

Dari pengalaman itu saya mulai berpikir, apakah perjalanan yang saya lakukan selama ini ke desa-desa sebenarnya adalah wisata itu sendiri. Apakah artinya berwisata alam itu adalah menikmati perjalanan tanpa harus berurusan dengan fasilitas yang memadai. Seperti yang juga dikatakan para pendaki Latimojong bahwa jalan menuju puncak Rante Mario adalah pengalaman menantang emosi.

Saya kadang berpikir, sepertinya Enrekang layak menjadi surga wisata perjalanan. Tidak masalah menyusuri bukit-bukit dengan berjalan kaki atau menjelajahinya dengan sepeda. Pasang tenda di bukit-bukit yang masih ramah dihuni dengan bebas. Apalagi sudah banyak passapeda dan fotografer yang bisa menjadi teman perjalanan sekaligus pemandu cerita. Kan, perjalanan itu butuh (teman) cerita, itulah travelogue untuk wisata (perjalanan) alam.

Travelogue tidak diartikan semata travel book atau video perjalanan. Kalau misalnya Kadis Pariwisata Enrekang bilang “kita harus siap jadi masyarakat wisata”, sebenarnya secara tidak langsung ia mengharapkan kita menjadi agen travelogue. Katanya, kalau bisa kita ceritakan dari mulut ke mulut bahwa wisata kita bagus. Lagipula masyarakat di desa lekat dengan budaya lisan, akan menyapa saat ketemu di jalan perkebunan.

Nah, masyarakat wisata itu perlu bercerita agar ‘menerbitkan imajinasi’ keindahan wisata Enrekang, baik dalam buku, video, dan lisan. Ibaratnya orang Lewaja menerbitkan storytelling bahwa Air Terjun Kajejen itu centil, karena menanti hujan untuk bisa merasakan air benar-benar terjun.

foto by Wall Masry
foto by Wall Masry

Hal sederhana yang telah dilakukan komunitas passapeda dan fotografer misalnya, ketika membuat jejak perjalanannya sebagai rute baru yang dipatenkan di google street. Hasil capturing itu akan menjadi arsip perjalanan yang sewaktu-waktu membantu traveller. Seperti travelogue yang dihias dengan subjektif oleh penulisnya, review titik potensi wisata pun sebisa mungkin dinarasikan dengan menarik.

Nah persoalannya, apakah wisata perjalanan ini akan memberikan impak ekonomi? Mungkin tidak kelihatan secara langsung, tidak seperti ketika kita menukar uang dengan tiket masuk wisata. Tetapi paling tidak, agen travelogue itu bisa mengatur strategi, misalnya ketika rombongan turis singgah di kios-kios yang menjual baje khas Enrekang, ia menceritakan baje itu lalu mencobanya. Pengalaman saya, turis akan merasa yakin untuk membelinya setelah mendengar bahwa baje itu dari pohon aren dan diolah secara natural. Menyambut wisatawan bukan sekedar suguhan bahasa tetapi juga cerita.

Mungkin sebaiknya dalam wisata perjalanan (alam) yang kita jual itu adalah imajinasi. Bukankah seperti negara, agama dan kapitalisme, imajinasi adalah motivasinya. Tentu kita juga punya motivasi, yakni perjalanan imajinatif yang menerbitkan kesadaran ekologis.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *