COVID-19 dan Segenap Harapan Masyarakat di Enrekang

Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), siapa yang tidak kenal salah satu penyakit ini? Saudara kandung dari Virus SARS, dan MERS. Pada mulanya COVID-19 ini muncul di Wuhan, China. Lalu menyebar kemana-mana, ke Eropa, Asia, Amerika, Amerika Latin. COVID-19 menyebar begitu cepat hampir ke seluruh belahan Bumi. Tak terkecuali di negeri kita.

Indonesia kini bahkan merupakan salah satu negara yang banyak terdampak kasus virus ini. Kasus pertama ditemukan awal Maret lalu di Depok. Hingga saat ini semakin bertambah, data Kemenkes per 5 April 2020 sudah menunjukkan angka  2.273 kasus positif tertular COVID-19 di Indonesia.

Angka yang melonjak seperti itu dan pemberitaan di media yang kian riuh di Indonesia, akhirnya membuat masyarakat mulai panik, parno dan mengalami gangguan psikis lainnya. Lantas bagaimana dengan kabupaten Enrekang?

Kota Enrekang, kota kecil nan kucinta ini nampaknya belum begitu menunjukkan wajah kepanikannya. Apakah mungkin karena kita tersugesti dengan ungkapan leluhur “negeri Enrekang kan negeri yang salama'”, sehingga seakan merasa kuat dan tenang menghadapi COVID-19 ini?

Sebab, akhir-akhir ini agak ironi bila melihat imbauan-imbauan pencegahan COVID-19 yang nampaknya masih kurang dihiraukan. Padahal, berita virus ini sempat gempar setelah seorang warga Enrekang dikabarkan dalam status orang dalam pemantauan (ODP) dan seluruh masyarakat ramai membicarakannya. Orang-orang mulai menyebar berita serta mencari siapa si “X” yang diberitakan tersebut dan dibayangi rasa takut jika akhirnya dinyatakan positif. Beredar foto di WhatsApp para petugas kesehatan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap, juga beredar percakapan dari seorang intel polisi. Tapi akhirnya semua dapat ditenangkan dengan kalimat: “semua itu hoaks dan negatif Corona”.

Sungguh terasa corona ini membawa dampak ke berbagai kalangan, termasuk aktifitas kaum muda dan komunitas di kota kecil ini. Salah satu misalnya, kegiatan festival yang sedianya kami adakan di kampus harus tertunda. Padahal segala persiapan sudah disusun beberapa bulan sebelumnya.

Pada saat itu, edaran resmi untuk menghentikan/menunda segala bentuk keramaian belum dikeluarkan pemerintah daerah Enrekang seperti di daerah lain, tapi kami memutuskan tidak ingin mengambil risiko yang besar untuk melanjutkan kegiatan. Yang beredar awalnya masih berupa himbauan untuk hidup bersih dan sehat di semua lingkungan, baik rumah dan kantor. Sementara di daerah lain saat itu langsung meliburkan sekolah, dan menunda kegiatan yang mengundang keramaian. Namun kami menyadari mencegah sedari dini harus dilakukan, tanpa menunggu adanya kasus.

Saat itu karantina mandiri atau tagar ajakan #dirumahaja belum tersiar dari berbagai tokoh berpengaruh di Enrekang. Ajakan untuk tinggal di rumah saja baru dimulai dan diaktifkan netizen di sosial media sebagai edukasi dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19 ini. Namun tentu saja kita tidak perlu menyudutkan siapapun, sebab diperlukan kebersamaan mencegah penularan wabah di negeri kita, apalagi virus ini sudah menjadi urusan global.

Bersedih atau Mari Peduli?

Setelah dua minggu berlalu, tagar #dirumahaja atau ajakan di rumah akhirnya menggema di seantero Indonesia. Di saat yang sama, justru masyarakat di Enrekang nampak mulai beraktifitas seperti biasanya. Banyak yang sudah mulai berkeliaran di luar rumah utamanya di kota Enrekang. Masih banyak juga ternyata yang tidak hirau dengan pandemi COVID-19 ini. Bahkan pasar masih tetap buka. Sebagian orang yang ke pasar sama sekali tidak menggunakan masker sebagai langkah pencegahan penularan virus. Sedih, tapi itulah yang terjadi. Padahal Badan Kesehatan Dunia (WHO) selalu menghimbau untuk tetap menjaga kesehatan dan menjaga diri dari penyebaran corona virus ini.

Belum lagi dengan kontradiksi yang terjadi pada umat beragama, utamanya umat muslim. Setelah imbauan untuk tidak shalat jumat berjamaah di masjid diedarkan, masih saja ada kalangan masyarakat yang menentang keputusan ini. Padahal Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak mengeluarkan fatwa ini tanpa alasan dan dasar yang jelas. Karena orang-orang yang berada di dalam Komisi Fatwa MUI adalah ulama-ulama yang faham tentang ilmu fikih dalam agama islam.

Di tengah tren meningkatnya jumlah positif COVID-19 ini, masyarakat di Kota Enrekang mulai ramai kembali berkumpul. Di Bantaran SWISS misalnya, aktivitas lalu lalang kembali ramai, berkumpul dan sebagainya. Padahal, data Dinas Kesehatan Enrekang saat itu menunjukkan 100 orang yang berstatus ODP (Orang dalam Pengawasan). Sementara, 4.000 orang lainnya berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala). Mereka adalah orang yang masuk ke Enrekang, pernah atau dari daerah terdampak tetapi belum memiliki gejala positif COVID-19. Apakah masyarakat di Kota Enrekang sama sekali tidak was-was atau pun merasa khawatir akan hal ini? Atau mungkin saya yang tidak merasakan was-was mereka? Ataukah ini hanya menjadi kekhawatiran saya sendiri?

Kenyataan berbeda justru terlihat pada beberapa desa di pinggiran kota. Masyarakat di sana lebih waspada terhadap COVID-19 ini. Mereka memberi perlakuan khusus kepada tamu dari luar dengan membuat palang pintu dan lebih selektif menerima orang yang masuk. Bahkan sudah ada desa yang tidak lagi menerima orang dari luar. Baik itu hanya sekedar berkunjung, ataupun hendak pulang kembali ke desa setelah bekerja atau bermukim di Kota.

Karena COVID-19 ini saya bisa bertukar kabar lagi dengan Li Wen ( 轹文), teman lama yang berasal dari Provinsi Jiangsu di China, dekat dengan Wuhan. Dia bercerita kepada saya bahwa di China mereka sangat disiplin untuk terus berada di rumah. Mereka percaya bahwa dengan tetap di rumah, penyebaran virus ini akan melambat, dan mendapatkan pengawasan setiap saat oleh pihak berwenang. Di sana, mereka mengisolasi diri selama tiga bulan lamanya. Nanti pada bulan April ini mereka sudah bisa masuk ke kampus lagi. Tentu ini bisa menjadi pelajaran bagi kita.

Sekali lagi, wabah ini adalah tugas kita bersama, Jakarta dan beberapa daerah lain adalah contoh dan peringatan untuk kita masyarakat Enrekang. Apakah kita masih peduli pada diri, pada keluarga, dan masyarakat? Jawabannya tentu ada pada kita sendiri, pada tindakan kita sendiri. Dan agar sadar dan berbenah, kita tidak perlu memunculkan kasus positif COVID-19 di Enrekang, bukan?

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *