Belajar Hadapi COVID-19 Tanpa Harus Ke China

Belakangan ini saya menjadi semakin resah, setidaknya beberapa hal yang bikin saya senaif Uzumaki Naruto untuk menyatukan dunia, agar perdamaian tercipta, ketenteraman terwujud, dan kepedulian bersama terus berlanjut.

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) mempengaruhi saya jadi orang yang semakin parno, waspada, menjadi tiba-tiba peduli keluarga, masyarakat, pemerintah, peduli semuanya, tapi tetap takut mati.

Manalagi saat ini, status Enrekang dalam data sebaran COVID-19 telah terdapat kasus positif yang berarti bergeser dari zona hijau jadi zona kuning. Data yang diakses pada situs web covid19.enrekangkab.go.id menunjukkan 2 orang positif terinfeksi COVID-19. Membacanya, serasa memukul dengan telak mental kita. 

Tentu kabar itu tak lantas menyurutkan ikhtiar kita untuk tetap berjaga. Imbauan pesan suara dari Bupati Enrekang Muslimin Bando yang beredar di masyarakat luas pun menguatkan saya untuk terus turut memberi informasi terkait COVID-19 kepada masyarakat, sembari mencari referensi, dan memikirkan hal apa yang musti dilakukan untuk bergerak bersama memutus mata rantai penyebaran COVID-19.

Salah satu yang bisa dimanfaatkan untuk bergerak adalah media sosial. Dengan media sosial kita bisa terhubung dengan orang-orang yang keberadaannya jauh. Seperti aplikasi Tandem yang saya gunakan berinteraksi dengan orang-orang yang ada di luar negeri. Aplikasi Tandem mempertemukan saya dengan seseorang yang ada di China, walaupun bukan hanya orang China saja yang bisa kita jumpai di aplikasi itu.

Saya lalu terhubung dengan Wei Chen, seorang gadis asal China yang tinggal di kota Tai’an, Provinsi Shandong. Percakapan dimulai ketika saya membuat topik di profil saya dengan kalimat “saya ingin mengetahui bagaimana situasi perkembangan Virus Corona di China”. Wei Chen yang menggunakan nickname (nama profil) Ying kemudian merespon topik itu pada tanggal 5 April 2020, tepatnya pukul 11.20 WITA dan waktu China (Indonesia bagian tengah dan China memiliki zona waktu yang sama). Awalnya Wei Chen hanya menyarankan untuk gunakan terus masker, dia juga berpesan agar masker N95 dan masker bedah hanya digunakan oleh petugas kesehatan.

Saat itu saya merasa tidak cukup bila mendapatkan informasi yang sudah disebar banyak orang. Saya berinisatif menggali informasi lebih dalam tentang apa saja yang terjadi di sana, bagaimana kesadaran masyarakat, bagaimana cara pemerintah di sana mengurusi rakyatnya.

“Kami harus selalu mengecek suhu tubuh dengan thermometer jika ingin izin bepergian, baik ke tempat terdekat, membeli sesuatu ataupun hal yang penting lainnya”, ungkap Wei Chen via Tandem.

Di Tai’an jumlah kasus COVID-19 menyentuh 32 kasus positif, dan 1 orang meninggal. Dan sejak akhir Januari hingga sekarang, mereka masih harus berada di rumah, mengenakan masker setiap keluar dari rumah. “Tentu kami sangat bosan, tapi mungkin kebosanan ini yang mungkin menyelamatkan nyawa kami. Kami juga tetap bekerja, tapi pastinya juga dengan mengecek suhu tubuh saat akan dan selesai bekerja.”

Hal yang membuat Wei Chen sangat cemas, ketika saya bercerita dan memperlihatkan beberapa foto tentang gambaran situasi di Kota kecil nan kucinta, Enrekang. “Ya Tuhan, orang-orang seharusnya sadar, betapa pentingnya menjaga kesehatan, menjaga diri, dan memotong mata rantai penyebaran virus ini. Kalian harus bepergian menggunakan masker!”

Saya tahu di China terjadi lockdown, maka saya bertanya kepada Wei Chen apakah pemerintah setempat menyediakan makanan kepada warganya.

“Mereka membagikan sayur-sayuran kepada kami dan beberapa masker”, ujarnya. Saya pun sempat berpikir apakah di Enrekang bisa menyediakan seperti ini kepada masyarakat, sementara harga masker saja sudah melampaui harga sebungkus nasi.

Wei Chen juga bercerita banyak tentang awal munculnya kasus COVID-19 di Wuhan. Ia bilang kalau pemerintah di sana sangat ketat menghadapi wabah ini, ditambah masyarakat yang sadar dan menaati imbauan pemerintah. Mereka patuh, mereka tidak meninggalkan Wuhan.

“Saya ingin berterima kasih kepada pemerintah dan kepada masyarakat karena telah bersinergi. Wakil Perdana Menteri China bahkan mengontrol dan tinggal di Wuhan selama 2 bulan,” tambah Wei Chen.

Wei Chen juga bercerita tentang upaya pemerintah membangun fasilitas medis, perihal bagaimana mata dunia tertuju pada Wuhan, para dokter dan relawan dari negara lain yang datang membantu China, utamanya di Wuhan.

Saya kembali salut kepada China karena Wei Chen menjelaskan bahwa setiap ada kasus positif COVID-19 yang ditemukan, mereka akan melacak sampai ke akar-akar.

“Mereka akan melacak semua jejakmu, tempat yang kamu pernah kunjungi, dan semua yang pernah berinteraksi denganmu,” kata Wei Chen lagi. Lalu saya bertanya dalam hati sendiri apakah ini sudah dilakukan di Indonesia? Atau tidak usah jauh-jauh, melacak dan mengawasi Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Enrekang saja mungkin belum kita maksimalkan.

“Jika mereka mendapat jejakmu pernah bersama dengan orang yang terinfeksi, mereka langsung menjemputmu untuk isolasi dan melakukan tes.”

Kali ini saya takjub dengan apa yang dilakukan oleh China, terlebih lagi orang-orang yang ada di Wuhan. Kemudian saya bertanya kepada Wei Chen, apakah dia tidak merasa takut dan stress dengan keadaan yang ia hadapi. “Saya takut, kami takut, saya stress, kami stress, tapi orang-orang di Wuhan merasakan hal yang lebih luar biasa dibanding kami di sini. Beberapa orang di Wuhan bahkan merusak jalanan untuk mencegah agar yang lain tidak mencoba pergi. Tapi sekarang kami mulai merasa aman.”

Wei Chen juga menunjukkan beberapa foto keadaan Wuhan. Percakapan itu dia tutup dengan mengingatkan saya lagi untuk menggunakan masker setiap bepergian. “Hanya kau yang bisa membantu dirimu dari virus ini, gunakanlah masker, beritahu orang-orang di kotamu.”

Percakapan ini terjadi sebelum ada kasus positif di Enrekang. Kita harus lebih mawas diri. Sebab apakah yang kita lakukan selama ini tergolong efektif dan bisa menahan angka penyebaran COVID-19?

Sebelum menutup tulisan ini saya harus berterima kasih atas kerja keras para petugas garda terdepan pencegahan COVID-19 yang ada di Kabupaten Enrekang, termasuk kepada warga masyarakat yang telah memperhatikan dan melaksanakan segala bentuk imbauan, para relawan yang telah bergerak maksimal tanpa mendahulukan identitas.

Pengalaman dari Wei Chen ini, seharusnya bisa memantik kesadaran dan perasaan kita untuk segera berbenah dan memperbaiki sistem yang ada. Kita harus berbenah sebelum banyak orang yang positif terjangkit. Memperketat pengawasan para ODP, seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang di China, para ODP juga harus kenali diri dan membantu pemerintah serta tenaga kesehatan untuk jujur dan mengikuti aturan. Bersinergi sebagaimana mestinya. Saya yakin dan percaya kita bisa menghadapi ini.

Kita semestinya bahu membahu, membantu pemerintah, membantu para petugas dan tenaga kesehatan, dan membantu para relawan. Kita harus saling menguatkan satu sama lain, tidak menjatuhkan dan mendiskriminasi satu sama lain. Kita harus mengesampingkan ego demi mendahulukan kemanusiaan. Mari kita sama-sama fokus untuk mencari solusi, tidak hanya meratapi yang sudah terjadi.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *