Para Seniman dan Sejarah Singkat To Mang Bas di Bumi Massenrempulu

Masa 1905-1930 ditandai banyak peristiwa politik yang mengubah Pulau Celebes (Sulawesi) dan Federasi Massenrempulu yang sekarang secara administratif dikenal Kabupaten Enrekang. Beberapa catatan sejarah tentang Massenrempulu atau Massere-Bulu yang terdiri dari lima kerajaan yang berdiri sendiri (onafhankelyk) di antaranya; Maiwa, Enrekang, Duri, Kassa, dan Batulappa. Duri secara administratif berdiri sendiri terdiri dari kerajaan Malua, Alla, dan Buntu Batu, yang populer disebut Tallu Batu Papan.

Penjelasan di atas hanya sebagian kecil dari catatan D.F Van Braam Morris tentang Federasi Massenrempulu pada tahun 1860-an, dan baru diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia satu abad kemudian oleh H. A. M. Mappasanda pada tahun 1991. Catatan dari hasil terjemahan tersebut yang kurang lebih 64 halaman, tidak terdapat satu pun teks tentang kesenian di Massenrempulu, khususnya seni musik. Apakah hal tersebut sebagai suatu penanda bahwa orang Massenrempulu belum mengenal kesenian pada tahun-tahun tersebut, ataukah Morris hanya fokus mencatat tentang nota penjelasan kontrak Pemerintah Hindia Belanda yang diadakan dengan kerajaan-kerajaan di Massenrenpulu kala itu?

Terdapat atau tidaknya unsur seni dalam catatan tersebut bukan menjadi persoalan yang akan saya uraikan secara singkat di bawah ini. Saya hanya berangkat dari hasil wawancara dengan pelaku kesenian yang hingga saat ini masih berekspresi, berkreasi, berinovasi, dan berlaku seni melalui musik bas di Kabupaten Enrekang hingga tahun 2020 ini. Bukan pula menjadi soal apakah suatu sub-budaya di suatu daerah mengenal musik atau tidak, namun hemat saya adalah suatu kenisbian apabila seseorang dalam suatu wilayah tidak pernah atau tidak sama sekali berekspresi melalui musik. Tentunya musik itu hadir dan selalu ada dalam setiap sendi kehidupan kapanpun dan di manapun berada.

Bas atau “Musik Bambu” dengan berbagai penyebutannya, dari dulu hingga saat ini menuai kontroversi terkait nama dari instrumen musik yang terbuat dari bahan bambu petung dan telang ini. Di suatu sisi terdapat sebagian orang menyebutnya sebagai Pongke, Pompang, Suke, dan Tumpang. Di sisi lain kebanyakan di antara pemusik dan masyarakat akrab dengan sebutan Bas. Namun, di dalam tulisan ini, saya menggunakan kata Bas sebagaimana pemusik dan masyarakat Enrekang menyebut dan mengenalnya.

Foto by Muh Arqam

Awal mula Bas di Kabupaten Enrekang dari rekam jejak beberapa informan yang saya temui dapat dibagi ke dalam beberapa periode. Periode di sini bukan periode tahun tertentu, seperti satu dasawarsa atau dalam jangka tahun tertentu. Namun, periode di sini merupakan suatu klasifikasi atau pengurutan antara guru musik dan muridnya sebagai penerus pada periode-periode selanjutnya.

Apabila membaca Rumengan dalam bukunya mengenai musik vokal di daerah Minahasa, bas beberapa kali disebutkan dan menjadi ekspresi budaya masyarakat di sana. Keterkaitan antara orang Minahasa dengan musik bas tidak lepas dari beberapa pengajar atau para pendidik yang berasal dari daerah Minahasa ataupun Manado (Sulawesi Utara) yang menjadi tenaga pendidik di daerah Massenrempulu pada awal tahun 1905. Pada tahun tersebut beberapa guru (pendidik atau pengajar) yang selanjutnya saya sebut sebagai Tong Guru, sebagaimana para informan menuturkan kepada saya yang berasal dari daerah Ambon, Manado, dan Toraja. Tong Guru dari daerah tersebut mengajarkan beberapa mata pelajaran dan mereka piawai dalam bermain musik seperti instrumen musik tiup (seruling) dan bernyanyi.

Pada periode awal ini antara tahun (1905-1930) beberapa Tong Guru yang mengajarkan musik di daerah Massenrempulu dan menyebar ke beberapa wilayah, di antaranya; Enrekang, Maiwa, Kalosi, Malua, dan Pasui. Para Tong Guru tersebut, antara lain; Tong Guru Rerok, Tong Guru Tarore, Tong Guru Asa, dan Tong Guru Pasae. Periode awal ini merupakan suatu penanda proses pendidikan formal kepada masyarakat di kabupaten Enrekang dalam mengenal kesenian khususnya pembelajaran tentang musik.

Memasuki tahun 1930-1962 merupakan periode kedua. Periode kedua ini bukan hanya misionaris dari luar daerah yang mengajar musik, namun terdapat beberapa putra daerah yang telah ikut mendidik anak-anak sekolah dalam pembelajaran musik dan tentunya musik Bas. Beberapa di antaranya ialah Tong Guru Malino mengajar di daerah Salongge, Tong Guru Bando di daerah Gandeng, Tong Guru Rangngan di daerah Buntu Tangla, Tong Guru Sitonda di Curio, Tong Guru Pang Landa di Malua, Tong Guru Mansur di daerah Redak dan Cece, Tong Guru Karten di Cece, Tong Guru Monto Lalu di Baraka, Tong Guru Santingan di Baroko, dan Tong Guru Pasae di daerah Latimojong dan sekitarnya. Pada periode ini Tong Guru Malino kemudian menciptakan musik bambu yang terbuat dari Pongke.

Periode ketiga pada tahun 1963-1983. Periode ini merupakan periode di mana musik Bas mengalami perkembangan yang pesat. Setelah selesainya pemberontakan DI/TII di daerah Enrekang dan sekitarnya, To Mang Bas (orang bermain/bermusik Bas) tersebar ke berbagai tempat yang kemudian dijadikan sebagai ajang perlombaan pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT-RI) setiap tahun.

Tokoh yang paling berpengaruh pada periode ketiga adalah Junus dari Liang Bai, Baharuddin dari Kalaciri, Faisal dari Rumbia dan Kalimbua, dan Manta yang mengajar di daerah Lebani, Baringin, Kalumpang, Bataran, dan Banua. Menurut penuturan Junus, sewaktu ia mengajar di SD 80 Liang Bai, setiap harinya ia belajar musik bambu bersama dengan orang-orang Toraja selama empat bulan. Tahun 1974-1978 setelah mengikuti pegelaran di Makassar, Junus tidak megajar lagi sebagai guru musik di sekolah. Perkembangan selanjutnya terjadi di daerah Rumbia, Uru, dan Kalaciri. Pada tahun 1978 Junus kemudian dipindahkan ke SD 20 Baraka yang membuatnya mengembangkan musik Bas sampai saat ini.

Adapun beberapa tokoh yang mengisi periode ketiga ini adalah Bokko di Loka, Dahlan di Buntu Tangla, Ramli di Singki, Amiruddin di Cakke, Syarifuddin di Matakali, Nardering di Tallang Rilau, Dusang di Kalosi, So’Agan di Buntu Ampang, Mardan di daerah Malua, Onggo di Uru, Saharuddin di Bungin, Rikki, Karten, Mansur, dan Norman mengajar musik Bas di Cece.

Tahun 1984-2000 termasuk dalam periode keempat perkembangan musik Bas di daerah Enrekang. Pada periode ini, musik Bas dengan grup atau kelompok di pelbagai daerah tidak terlalu produktif melakukan pementasan pada kegiatan-kegiatan dalam mengisi Hari Nasional seperti HUT RI, HUT Kabupaten Enrekang, acara pernikahan, dan sebagainya. Bahkan pada tahun 1984-1994, Bas di Massenrempulu terancam punah. Namun, terdapat beberapa grup yang masih bermain musik walaupun mereka tidak melakukan pertunjukan yaitu grup Bas binaan Faisal di daerah Rumbia. Memasuki tahun 1996 Manta seniman Bas periode ketiga yang sampai saat ini tetap bermusik dipindah tugaskan dari daerah Maiwa dan kembali ke Duri Kompleks untuk mengajar di sekolah dasar, kemudian mengembangkan kembali instrumen musik Bas yang di produksi oleh Faisal dari Kalimbua dan Hasan dari Wai-Wai.

Terdapat beberapa seniman yang mewakili periode keempat di antaranya Faisal di Rumbia, Kalimbua, dan Malua, Ali di Baroko, Manta di SDK Sang Bua, Bolang, Bia, Kolai, Tangru, dan Tampo. Dahlan di Buntu Tangla, Hamin di SD 1 Enrekang, Darman di SD Mata Kali, Daud di SD 4 Maiwa.

Foto by Muh Arqam

Periode kelima merupakan periode yang panjang oleh para seniman Bas dalam mengembangkan, membentuk grup musik, sampai pada inovasi instrumen Bas yang dilakukan. Periode ini terjadi saat ini dimulai tahun 2001 sampai sekarang. Junus dan Manta yang masih tetap melakukan aktivitas bermusik sampai saat ini, kemudian dikembangkan oleh penerusnya antara lain; Hamin di SDN 1 Enrekang, SDN 17 Enrekang, SD 172 Enrekang, SDN 116 Enrekang, Rajin di SDN 182 Angin-Angin, Yulia di MAN Baraka, Mario Nada Baraka, Juarni di Curio, Subran Junus di grup Rindu Nada Cece, Anton di Malua, Umar di Rante Lemo, dan Jumasang di Uru dan Pasui.

Perkembangan To Mang Bas di Bumi Massenrempulu apabila dilihat dari periode di atas merupakan suatu bentuk asimilasi sosial-budaya. Proses ini terjadi secara lambat, namun seniman dan para masyarakat pendukung kesenian tradisional ini tetap resisten terhadap laku budaya tersebut sebagai suatu ciri khas mereka.

Telah lebih dari satu abad, masyarakat di Massenrempulu disuguhkan oleh komposisi ansambel musik Bas. Dapat kemudian disimpulkan bahwa perkembangan musik Bas ini merupakan suatu bentuk discovery sehingga terjadi suatu bentuk inovasi dalam bentuknya sebagai instrumen musik sampai kepada komposisi musiknya. Proses secara turun-temurun dari guru kepada murid dan sebaliknya dari murid kepada guru adalah suatu proses enkulturasi yang patut diapresiasi oleh kalangan akademisi, masyarakat, dan kepada para pemangku kepentingan di Kabupaten Enrekang.

Periode Bas yang disajikan di atas hanyalah gambaran umum yang disingkat mengenai perjalanan To Mang Bas di Bumi Massenrempulu. Tentu, Bas belum tersentuh oleh beberapa pengetahuan dari bidang yang lain. Masih banyak yang perlu dikembangkan dalam melihat fenomena budaya yang terjadi pada masyarakat yang hidup di daerah pinggiran pegunungan ini. Sehingga, tidak perlu mempersoalkan tentang identitas budaya apa yang dimiliki daerah dalam pemajuan kebudayaannya. Tinggal bagaimana mengembangkan identitas ini sebagai bentuk pemajuan kebudayaan nasional.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *