Andai Tersedia Ruang Publik di Maroangin

Maroangin, tempat saya bertumbuh di masa-masa remaja. Maroangin, sebutan untuk (sebut saja) pusat kota di Kecamatan Maiwa. Bisa dibilang, Maroangin adalah sentral perkumpulan dari segala kegiatan yang ada di Kecamatan Maiwa (walaupun sebenarnya jarang). Maroangin bisa dibilang kota yang sangat kecil, sunyi, hampir mati mungkin. Menuju jam 9 malam, lampu rumah penduduk sudah redup. Mungkin lebih baik, daripada menyala dan banyak yang keluyuran kesana kesini.

Ketika menjalani kehidupan remaja di kota kecil ini, banyak hal yang sebenarnya kucemburui dengan apa yang ada di Kecamatan lain, khususnya dalam lingkup Kabupaten Enrekang, tentu sebagai salah satu Kecamatan yang besar di antara 12 Kecamatan yang ada di Kabupaten Enrekang ini, “keterbelakangan” itu sangat kurasa. Sampai-sampai kebanyakan orang dari Maroangin, pun Maiwa secara umum, menghabiskan dan melampiaskan waktu waktu luangnya tidak di Maroangin, tidak di Maiwa, terdekat ke Kabupaten Sidrap, yang notabenenya memang berbatasan langsung dengan Maiwa, juga akses yang terbilang sangat mudah.

Jumat (3/7), saya hendak mengitari kota kecil ini, nampak tidak ada yang berbeda semenjak saya tidak berdomisili lagi di sini (2016). Hanya tribun di Lapangan Langsa’gaga yang nampak berubah, itu pun kelihatannya mengurangi dimensi lapangan sepakbola, akhirnya panjang dari lapangan sepakbola tidak seperti dulu lagi, berkurang, mungkin jauh dari standar yang ada. Lapangan Langsa’gaga sedari dulu menjadi pusat kegiatan sepakbola bagi masyarakat, tempat upacara bendera di hari-hari seremonial nasional, juga seringkali dijadikan sebagai pusat acara, keseringan acara Agustusan, “memang ada acara apa selain Agustusan yang selalu riuh dan meriah di Maroangin?” Dulu, sempat Harlah Kabupaten dipusatkan di situ, namun pedagang yang masuk di lapangan dominan diisi oleh bukan orang “Kabupaten” itu sendiri.

Saya pun menyempatkan bertemu dengan Muhammad Asrul, pendiri Sibage, sebuah “paguyuban” yang dijadikan tempat “berkreatifitas” oleh sekumpulan pemuda, juga berdiri taman baca masyarakat bernama Sibage Corner. Accul, sapaan akrabnya, juga merasakan apa yang seperti saya rasakan. Sejak meninggalkan “kota” (Maroangin) di medio 2006, hingga sekembalinya di periode 2015, dan yang kutangkap dari perbincangan kami berdua adalah sama, nothing changes, bedanya cuman ada di tahun meninggalkan kota, 2006 dan 2016.

Sekembali dari Makassar, Sibage diniatkan sebagai media center untuk masyarakat di Maiwa, pusat informasi, sebagai wadah untuk mengedukasi. “Semua sudah terkonsep, rapi. Sudahma’ bicara dengan teman-teman mahasiswanya Maroangin, teman-teman dari Makassar sudah siap membantu, tapi pas mau d eksekusi ini barang-barang, ke Makassar semua mi anak-anak, kembali kuliah” ungkap Accul.

Niatnya sebagai ruang publik untuk masyarakat yang ada di kota Maiwa, ruang informasi, ruang berliterasi. Accul merasakan peliknya berjuang sendirian. “Awalnya kami menyasar anak-anak sekolah, semoga dengan menanamkan akar pada mereka, SDM bisa berkembang”.

Setelah taman baca berdiri, Accul kemudian menginisiasi untuk membuka ruang belajar Bahasa Inggris, gratis. Mentransfer ilmu yang dia punya, sama ketika menjadi tentor di Pare, Kediri, yang terkenal dengan kampung Inggrisnya.

Kemudian saya menyempatkan menelpon sahabatku, Ayyub, mahasiswa tingkat akhir Teknik Sipil di Universitas Muhammadiyah Parepare. Katanya, besok dia akan pulang kampung ke Tanete. Lama tidak bercerita serius dengan sahabatku yang satu ini, terakhir tiga bulan yang lalu, ketika Covid-19 sedang panas-panasnya.

Kami bercerita banyak hal, mulai dari kuliah masing-masing, hingga planning ke depannya setelah “mudik” ke Maroangin. Membangun kampung ceritanya, agar di masa yang akan datang, lebih banyak lagi anak-anak yang tidak salah jalan di masa muda.

Benar saja, tidak banyak yang bisa kami temui di Maroangin (dulu), tidak banyak hal-hal baru yang bisa kami jadikan “kesibukan”. Kurangnya ruang publik, minimnya komunitas, minimnya kegiatan-kegiatan yang membawa warna baru di pikir dan benak kami, anak remaja kala itu, mungkin juga sampai sekarang.

Andai saja ada ruang publik yang tercipta di Maroangin, mungkin akan ada hal-hal baru yang muncul, komunitas akan bermunculan, pola pikir baru akan tercipta, sudut pandang baru akan hadir, dan orang-orang akan mempunyai kesibukan yang positif, tidak ada lagi yang terjerumus dalam judi, miras, apalagi narkoba.

Maroangin itu “Kota” teman! Sebab sahabatku Ayyub sempat berpamit, “saya mau pulang kampung dulu!”

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *