Literasi Sebagai Praktik Budaya

Praktik literasi (literacy practice) berkenaan dengan apa yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang terhadap literasi. Seiring perkembangannya, praktik literasi di sejumlah wilayah khususnya di Sulawesi Selatan masih menuai label dalam apa yang selama ini di narasikan oleh Dewayani dan Retnaningdyah sebagai literasi “model otonomi” yang memandang aktivitas membaca dan menulis sebagai proses yang netral, bebas konteks, dengan motivasi utama untuk mencapai status “melek literasi”. Sehingga, dalam menuju praktik membaca dengan laku menulis masih sebagai wacana yang masih dalam tahap pertumbuhan.

Pengamatan akan praktik literasi dapat diterawang melalui peristiwa literasi (literacy event), yaitu kegiatan yang memanfaatkan atau terjadi di seputar teks. Festival Literasi Indonesia, Makassar Biennale, Makassar International Writers Festival, dan Kemah Pustaka adalah peristiwa literasi yang patut untuk kita apresiasi. Sejatinya, praktik literasi dan peristiwa literasi adalah dua sisi yang tidak dapat terpisahkan, sisi yang satu tetap akan menopang sisi yang lain dalam suatu praktik kerja kolaboratif.

Peserta Kemah Pustaka yang budiman, praktik literasi tidak lain terdapat dalam ranah sosial dan budaya yang melingkarinya. Walaupun dalam berbagai kasus ruang lingkup ekonomi dan politik masih sebagai topik wacana menarik. Senada dari tema di atas bahwa literasi sebagai praktik budaya dalam wilayah Kabupaten Enrekang atau sering disebut Bumi

Massenrempulu adalah suatu tema yang dalam hemat saya “gatal untuk digaruk”.
Konsep “kebudayaan” yang dijelaskan oleh Koentjaraningrat adalah keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manausia dengan belajar. Di lain sisi, beberapa ahli seperti Zoetmulder mengkopsepsikan kata “budaya” adalah daya dan budi” yang berupa cipta, karsa, dan rasa. Singkatnya, kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa oleh Djojodigoeno.

Stigma kata “budaya” yang selama ini kita dengar adalah suatu yang luas cakupannya, stigma tersebut lebih baik disipan rapi di gudang belakang rumah. Melihat budaya yang telah mengalami proses inovasi adalah kerja yang nyata bukan kerja yang rumit, menjadikan praktik literasi budaya sebagai tema yang empuk dalam mendeskripsikan wujud-wujudnya.

Kerja literasi pada praktik budaya dapat kita uraikan menjadi beberapa poin penting, sebagaimana kerja etnografi yang secara umum dideskripsikan menjadi sebuah buku, majallah, essay, karya ilmiah, dan ensklopedia budaya dalam suatu suku bangsa. Sebagi contoh, kita dapat memetik deskripsi unsur-unsur kebudayaan dari Koentjaraningrat sebagai bagian khusus yang dapat kita uraikan lebih mendalam, diantaranya; (1) Bahasa (2) sistem pengetahuan; (3) organisasi sosial; (4) sistem peralatan hidup dan teknologi; (5) sistem mata pencaharian hidup; (6) sistem religi; dan (7) kesenian

Narasi Praktik Literasi Budaya

Bahasa dalam lingkup wilayah Enrekang menjadikan suatu tema deskripsi, sebagaimana kita ketahui bahwa bahasa di daerah ini memiliki berbagai macam dialek seperti dialek Maiwa, Enrekang, dan Duri. Biasanya dalam kerangka kerja bahasa lebih umum dijumpai adalah daftar kata-kata dasar dari pelbagai daerah. Hal ini dapat kita praktikan melalui perbedaan kata dalam bahasa sehari-hari.

Sistem pengetahuan, uraian tentang poin-poin terpenting tentang pengetahuan secara khusus dapat dikategorikan seperti diantaranya; alam sekitar, alam flora dan fauna, zat-zat, bahan mentah, tubuh manusia, sifat dan tingkah laku sesama manusia, dan ruang dan waktu. Tentang alam sekitar dapat diuraikan mengenai musim, sifat dan gejala alam, dan bintang-bintang. Tentang alam flora dan fauna tentunya masyarakat di Enrekang masih terdapat sebagian masyarakat mempraktikan mengenai rempah-rempah, baik yang dijadikan sebagai bahan pengobatan dan ataupun sebagai bahan masakan, ilmu dukun, untuk upacara keagamaan, membuat bahan pewarna/cat, dan rempah yang dijadikan meracik racun senjata.

Organisasi sosial, pada masyarakat agraris seperti di Enrekang tentunya kita masih mempraktikan apa yang disebut dengan sistem kekerabatan dalam keluarga. Sebagai contoh dari sistem kekerabatan ialah hubungan kekerabatan dalam mempertahankan keturunan keluarga. Di lain sisi dapat pula kita lakukan adalah mendeskripsikan tentang persoalan pembagian kerja, aktivitas kerja sama atau gotong royong, hubungan antara pemimpin dan pengikut dalam komunitas yaitu soal prosedur dalam mencapai keputusan bersama, dan cara pergantian pemimpin.

Sistem peralatan hidup dan teknologi atau cara-cara memproduksi, memakai, dan memelihara segala peralatan hidup dari masyarakat “kita”. Di beberapa wilayah Enrekang kemungkinan masih terdapat beberapa dusun-dusun di perkampungan yang masih menggunakan teknologi tradisional dalam kehidupan sehari-harinya. Sistem teknologi yang dimaksud di sini, kita dapat uraikan dari sudut fungsinya yang terbagi kedalam alat potong, alat tusuk dan pembuat lubang, alat pukul, alat peraga, alat pembuat api, alat meniup api, tangga, alat menyimpan makanan, dan sebagainya. Dapat pula kita deskripsikan dari sudut lapangan pekerjaan atau mata pencaharian hidup, dimana terdapat alat-alat rumah tangga, alat pengikal dan tenun, alat pertanian, alat penangkap ikan, alat penangkap hewan liar, jerat penangkap, senjata, pakaian, tempat berlindung dan perumahan, alat transportasi, dan lain sebagainya.

Sistem religi, suatu sistem religi dalam unsur kebudayaan biasanya para ahli mendeskripsikan mengenai topik-topik khusus seperti, sistem upacara keagamaan yaitu tempat upacara keagamaan dilakukan (masjid, candi, pura, kuil, dan gereja). Saat-saat upacara keagamaan dijalankan, biasanya hari-hari keramat. Aspek lain adalah benda-benda dan alat upacara, misalnya patung-patung yang melambangkan dewa-dewa, alat bunyi-bunyian, seruling suci, gendang suci. Sedangkan aspek yang lain adalah orang-orang yang melakukan dan memimpin upacara, dalam hal ini pada masyarakat Enrekang adalah Tomatua, imam kampong. Mengenai sistem religi, di masyarakat Enrekang, sangat memungkinkan untuk mendeskripsikan tentang upacara Macerang Manurung yang masih dilakukan oleh penduduk di Kaluppini dan daerah Pasang.

Kesenian, kerangka kesenian yang dapat dianalisa pada masyarakat Enrekang adalah Seni Rupa yang terdiri dari seni patung, seni relief, seni lukis dan gambar, seni rias. Seni suara, diantaranya adalah seni vocal, seni instrumental, dan seni sastra, yang disebutkan terakhir dapat terbagi lagi kedalam prosa dan puisi. Sedangkan dalam seni tari mencakupi ruang dan waktu seni rupa dan seni suara.

Pada unsur kebudayaan yang terakhir (kesenian), saya meletakkan perhatian khusus mengenai tema Kemah Pustaka kali ini yaitu tentang “Konservasi”. Wacana Konservasi sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai luhur terkait dengan seluruh unsur-unsur kebudayaan sebagaimana dijelaskan di atas. Konservasi dalam hemat saya, terkait dengan masalah nilai, norma, adat kebiasaan, dan seluruh unsur budaya yang telah ditinggalkan dan masih bertahan dan dipraktikan sampai saat ini dalam suatu masyarakat. Olehnya itu, narasi praktik budaya di Kabupaten Enrekang harusnya dinegasikan dari model otonomi dengan apa yang disebut sebagai model “literasi ideologis” oleh Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah menjelaskannya sebagai suatu literasi yang memosisikan sebagai praktik sosial yang tidak dapat dilepaskan dari ideologi, relasi kuasa, dan bingkai sosial yang menyertainya.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak hadirin sekalian mem-praktikan suatu “studi literasi baru” (new literacy studies). Kajian ini berupaya melihat fenomena literasi sebagai praktik sosial budaya, dimana munculkan dua konsep penting, yaitu praktik literasi dan peristiwa literasi. Oleh karena praktik literasi menyangkut nilai, norma, dan pemaknaan yang sifatnya abstrak, maka pengamatan terhadapnya hanya mungkin dilakukan melalui peristiwa literasi (literasy event) sebagaimana yang kita lakukan sekarang yaitu “Kemah Pustaka 2020”

Disampaikan pada Kemah Pustaka 2020 di Mendatte Park

Bacaan:

Dewayani S. 2017. Suara dari Margin. Rosda.
Koentjaraningrat, M., & di Indonesia, K. (2002). Pengantar Ilmu Antropologi, Cet. 8. Jakarta: Rineka Cipta.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *