Merapal Lokalitas Menuju Konservasi Sosio-Budaya Pedesaan

Beberapa tahun terakhir narasi lokalitas di Kabupaten Enrekang terus dingiangkan, hal ini menemukan momentumnya dalam kegiatan Kemah Pustaka yang diadakan oleh Komunitas Literasi Massenrempulu dengan tema besar “konservasi”. Mengapa konservasi? sebab saat ini narasi-narasi lokalitas di Massenrempulu kian ditutupi oleh narasi lain. Istilah konservasi ini dapat kita tafsirkan dalam arti yang lebih luas seperti merawat serta melestarikan nilai-nilai sosial budaya satu desa.

Kehidupan dominan masyarakat telah terombang-ambing arus zaman dan oleh karena itu membawa masyarakat dalam antagonisme dengan kebudayaannya sendiri, hal tersebut sudah menjadi sebuah keniscayaan sebab beberapa hal yang mempengaruhinya seperti nilai kepercayaan, standarisasi kebudayaan yang dibangun oleh peradaban modern sehingga membuat kita kian melupakan identitas lokal, maka dari itu kita harus mengumpulkan niat untuk mencari dan menyusun puzzle-puzzle yang hilang dan membangunnya kembali menjadi satu bentuk narasi lokal yang jelas.

Seperti yang dikatakan Muhidin M. Dahlan, bukan hanya buku yang dapat kita hidupkan dalam bentuk resensi namun semua objek yang belum berbentuk teks kultural, salah satunya adalah lokalitas yang mulai buram. Katakanlah pada kebudayaan terdahulu, kita mempunyai alat musik dari bambu, peralatan makan dari kayu dan daun, sistem religi yang terintegrasi dengan budaya lokal dalam hakikatnya sungguh selaras dengan alam.



Ragam pengetahuan lokal agaknya dikumpul ulang karenanya menjadi alat praktis untuk masyarakat keluar dari permasalahan hidup di desa mulai dari permasalahan lingkungan, ketahanan pangan, solidaritas, spiritualitas, kesuburan tanah, kesehatan dan masih banyak lagi. Jika ditelusuri dan dimaknai beberapa pengetahuan lokal yang kita produksi dapat dikatakan melampaui pengetahuan modern ala-ala Eropa. Katakanlah untuk sistem kesehatan sederhana kita, di depan rumah warga terdahulu diletakkan satu alat yang disebut bemba yang berfungsi untuk mencuci tangan dan kaki sebelum naik ke rumah setelah bepergian, atau kita memiliki keju Enrekang (dangke) dengan waktu pembuatan yang singkat tak seperti keju luar negeri yang membutuhkan proses yang cukup lama.

Merapal ulang lokalitas adalah jalan untuk menata ulang kebudayaan terdahulu yang mulai buram dengan pencarian, pemeliharaan, pendokumentasian, serta mengalimediahkannya hingga dapat menjadi sesuatu yang dapat diterapkan dan bisa pula digunakan masyarakat untuk menjalani kehidupannya. Mengupas lokalitas, menafsirkan ulang dan mengilmiahkannya adalah salah satu jalan mendamaikan masyarakat yang telah mengalami antagonisme dengan budayanya sendiri, untuk memahaminya serta menggunakannya kembali sesuai dengan kebermanfaatannya bagi masyarakat desa.

Kita tak lagi menutup diri atau minder dengan memandang kebudayaan kita terbelakang dari kebudayaan lainnya. Kita hanya kurang mencari tahu dan berkreasi, dan perlu sedikit bumbu untuk mengangkatnya kembali (mengeksistensikan lokalitas). Kita hanya tinggal memilah dan memilih, bagian mana dari kebudayaan kita yang sangat perlu dipertahankan.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *