Ke Mana Arus Bola Gasma?

Bola itu bundar dan akan terus seperti itu. Sepakbola akan selalu menjadi olahraga nomor satu di negeri yang kaya, masyhur, permai, dan menomor-satukan perdamaian ini. Sepakbola akan terus dicintai, dikasihi, disayangi mulai dari pelosok negeri, hingga di riuh ramainya penduduk kota. Di sepakbola, ada wajah yang mencerminkan negeri kita. Etos kerja, disiplin, semangat juang, kerasnya persaingan dan keberagaman yang menyatu. Semua terpampang jelas dan nyata di setiap helatan sepakbola di negeri ini, mulai dari kelas tarkam hingga gelaran nasional.

Penting bagi penikmat sepakbola mengetahui sisi-sisi lain dari olahraga ini. Semisal sepakbola yang erat dengan sisi hiburan, dekat dengan sisi budaya, melekat dengan sejarah, dan sepakbola yang bersinggungan nyata dengan citra serta panggung politik.

Sebelas pemain di lapangan sepakbola dalam satu tim punya posisi masing-masing, punya peran masing-masing, serta tipikal bermain yang berbeda setiap individunya. Misal dalam posisi striker, pasti ada peran tertentu yang dimainkan sesuai dengan arahan pelatih. Dan pastinya setiap striker bertipikal beda. Misalnya Karim Benzema di Madrid, ia berposisi sebagai striker namun memiliki peran berbeda ketika ia bermain dengan dan tanpa Ronaldo.

Untuk urusan striker saya punya 2 idola, Filippo Inzaghi dan Gabriel Batistuta. Tipikal striker pembunuh yang tidak banyak neko-neko. Inzaghi tidak perlu menggocek bola, tidak perlu pula menyentuh bola terlalu lama untuk menciptakan peluang ataupun gol. Sementara Batistuta, pembunuh berdarah dingin, striker yang ditakuti lawan. Batistuta sesegera mungkin menembak ke arah kiper walau di sudut yang sempit sekalipun.

Mungkin, kita selalu terpaku, memerhatikan dan mengidolakan seorang striker. Ya memang tidak bisa dipungkiri, bahwa euforia seringkali berasal dari gol yang diciptakan sang striker.

Namun, dalam sepakbola modern ada satu peran dan tipikal bermain yang menjadi jantung pada sebuah tim. Bertugas mengatur arus dan suplai bola, ke mana bola mesti diarahkan, dari mana serangan musti dibangun. Juga bertugas memutus serangan lawan. Peran ini sangat penting dan setiap pemain yang berhasil menyiasati peran ini maka tentu dia adalah pemain yang bisa dianggap sebagai pemain kelas wahid. Peran ini dinamakan Deep-Lying Playmaker yang biasanya berposisi sebagai gelandang bertahan.

Seorang Deep-Lying Playmaker atau dalam bahasa Italia Regista sudah pasti berbekal intelejensi tinggi, IQ dan tentu visi bermainnya bagus. Nama tersohor dalam peran Deep-Lying Playmaker ini diantaranya Andrea Pirlo, Xabi Alonso, Toni Kroos, Sergio Busquets, Joshua Kimmich. Mereka menjadi otak dari serangan, dan mereka juga menjadi benteng untuk pertahanan.

Namun, siapa yang menjadi Regista di Gasma Enrekang ini? Kemana bola diarahkan? Apa ada pemain yang memainkan peran ini? Atau jangan-jangan pemainnya tidak di dalam lapangan? Melainkan luar lapangan? Lalu mengapa kepemimpinan wasit seringkali diprotes di gelaran Liga 3 ini? Mengapa antusiasme masyarakat Enrekang memenuhi stadion sangat kurang? Mengapa?

Kemana Arus Bola Gasma? Apakah arusnya menuju gawang lawan? Atau arusnya menuju menuju sebuah muara di luar lapangan? Apakah arusnya deras? Apakah Regista ini mampu memutus aliran bola dan membangun kembali serangannya? Atau jangan-jangan dia yang mendikte pertandingan?

Lalu panggung Liga 3 ini milik siapa? Panggung Liga yang panjang ini bisa menjadi panggung bagi para pemain menunjukkan skill dan kualitasnya. Semoga saja, pemain berdarah Enrekang bisa dilirik klub yang kualitasnya jauh di atas Gasma, bermain di tahta atas Liga 3.

Namun , kenyataannya panggung Liga 3 Sulsel ini dipunyai wasit. Dari putaran pertama hingga putaran ketiga, wasit seringkali mengerjai beberapa tim, dengan keputusannya yang kontroversial. Karena protes keras, Coach Gasta Takalar yang juga mantan pemain PSM Makassar dan Timnas Indonesia Syamsul Chaeruddin musti dikartu-merahkan sebab protes yang keras terhadap wasit, menyusul satu asistennya. Terbaru, wasit menjadi bulan-bulanan PS Nene Mallomo Sidrap. Wasit mendapat kekerasan fisik, luka di pelipis matanya, menghasilkan 10 jahitan. Penikmat sepakbola, apakah kalian bertanya mengapa kepemimpinan wasit banyak merugikan tim lain? Menjawabnya dalam hati saja, PSSI punya tugas untuk menyelesaikannya. Mereka punya komisi disiplin untuk menyelesaikan hal-hal seperti ini.

Arus bola Gasma juga menuju ke sebuah panggung. Panggung itu bernama panggung politik. Panggung politik di sepakbola ini sangat megah. Apalagi dengan prestasi lolosnya Gasma ini adalah sebuah citra yang baik.

Lolosnya Gasma ke putaran selanjutnya adalah berkah. Walaupun kepemimpinan wasit selalu dipertanyakan. Toh lawan di lapangan juga protesnya ke wasit, bukan di Gasma. Mereka juga hanya lawan selama 90 menit di lapangan. Selepas itu terserah dia menjadi kawan atau menjadi oposan.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *